Gempa 5,8 Guncang Ternate, BMKG Peringatkan: Waspada Hoaks dan Kesiapan Darat Masih Lemah

Kesehatan
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Gempa 5,8 Guncang Ternate, BMKG Peringatkan: Waspada Hoaks dan Kesiapan Darat Masih Lemah
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Gempa magnitudo 5,8 mengguncang Ternate, kedalaman 27 km, tidak berpotensi tsunami.
  • Getaran terasa hingga Halmahera dan Tidore dengan intensitas hingga V MMI.
  • BMKG menekankan pentingnya informasi resmi dan warns against hoaks.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,8 terjadi pada Jumat, 24 Juli 2025 sekitar pukul 05.58 WIB, dengan episenter di laut 115 km barat daya Ternate, Maluku Utara, pada kedalaman 27 kilometer. BMKG mencatat bahwa gempa ini merupakan hasil aktivitas subduksi tektonik, seperti yang dijelaskan oleh Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto.

Menurut analisis mekanisme sumber, gempa menunjukkan gerakan naik (thrust fault) dan berdasarkan peta shakeMap, intensitas terasa mencapai skala V MMI di Pulau Batang Dua, Kota Ternate, sementara di Kayoa, Halmahera Selatan, Kota Ternate, dan Kota Tondano terasa IV MMI. Di Pulau Ternate, Kota Tidore, Kota Jailolo, dan Kota Bitung terasa III MMI.

Hingga pukul 06.25 WIB, monitoring BMKG belum menunjukkan aftershock signifikan. Lembaga tersebut mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, menghindari struktur yang retak, dan hanya mengandalkan informasi resmi dari saluran terverifikasi.

Secara sekaligus, gempa magnitudo 3,9 juga tercatat di Sumbawa, NTB, sekitar pukul 06.53 WIB, dengan getaran terasa di Kabupaten Dompu skala II MMI.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi yang telah meneliti banyak bencana alam di Indonesia, saya mengamati bahwa gempa magnitudo 5,8 di Ternate mencerminkan ketidakstabilan zona subduksi Halmahera yang masih kurang dipantau secara real‑time. Meski BMKG telah menyediakan data seismik cepat, kesiapan infrastruktur darat — terutama rumah tinggal dan fasilitas kesehatan di pulau‑pulau kecil seperti Ternate dan Tidore — masih sangat terbatas.

Kekurangan dalam edukasi masyarakat tentang prosedur evakuasi dan penanganan pasca‑gempa masih menjadi celah yang dapat dituntut. Dalam beberapa kasus sebelumnya, informasi yang tidak terverifikasi (hoaks) menyebar lebih cepat daripada peringatan resmi, menimbulkan panik yang tidak perlu dan menghambat upaya penyelamatan.

Dari sudut teknologi, integrasi sistem peringatan dini berbasis sensor laut dengan platform seluler dapat meningkatkan waktu reaksi masyarakat. Namun, investasi dalam jaringan sensor di wilayah laut yang jauh masih menghadapi kendala anggaran dan logistik. Pemerintah daerah dan pusat perlu menegaskan prioritas penguatan kapasitas BMKG melalui pendanaan berkelanjutan dan pelatihan teknisi lapangan.

Akhirnya, saya menegaskan bahwa transparansi data dan kolaborasi dengan media independen adalah kunci untuk membangun kepercayaan publik. Jika BMKG terus menyebarkan informasi melalui kanal terverifikasi dan melibatkan jurnalis investigasi dalam verifikasi fakta, maka dampak sosial‑ekonomi dari gempa seperti ini dapat diminimalkan secara signifikan.

Pertany3>Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apakah gempa magnitude 5,8 di Ternate berpotensi menyebabkan tsunami? A: Tidak, BMKG telah memodelkan dan menegaskan bahwa tidak ada potensi tsunami karena mekanisme gerakannya adalah thrust fault pada kedalaman relatif dangkal.
  • Q: Apa yang harus dilakukan masyarakat jika merasakan getaran gempa di wilayah seperti Halmahera atau Tidore? A: Tetap tenang, lindungi kepala, bersembunyi di bawah meja kokoh, hindari bangunan yang retak, dan setelah getaran berhenti, periksa kondisi lingkungan dan ikuti instruksi resmi dari BMKG atau satuan penanggulangan bencana.
  • Q: Bagaimana cara memastikan informasi gempa yang kita terima adalah resmi dan bukan hoaks? A: Selalu periksa sumber dari akun resmi BMKG (website, Twitter, atau aplikasi BMKG Info) dan hindari menyebarkan berita dari akun yang tidak terverifikasi atau grup WhatsApp yang tidak diketahui asalnya.
Meow! Tanya Nesi!
😸