Iran Tolak Usulan Oman: Pertarungan Kendali Selat Hormuz Mengancam Perdagangan Global
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Ringkasan Singkat
- Oman mengusulkan mekanisme regional berbasis kontribusi sukarela untuk mengelola SelatHormuz, meniru model SelatMalaka.
- Iran menolak proposal tersebut, menegaskan keprihatinan keamanan dan menolak pembagian rute transit yang setara.
- Perselisihan meliputi jalur pelayaran, biaya, pengaturan, dan pembersihan ranjau laut, menambah ketegangan di wilayah strategis antara Iran dan Oman.
Dalam rangka mengatasi gangguan perdagangan global yang dipicu oleh ketegangan antara AS dan Iran, pemerintah Oman mengajukan proposal untuk menciptakan mekanisme regional bersama dalam pengelolaan Selat Hormuz. Proposal tersebut meniru model yang telah berhasil di Selat Malaka, di mana negara‑negara pengguna selat secara sukarela menyumbang dana untuk navigasi, perlindungan lingkungan, serta operasi pencarian dan penyelamatan.
Menurut laporan Reuters, usulan Oman menekankan bahwa tidak ada satu pihak pun yang akan memegang kendali tunggal atas selat tersebut. Sebaliknya, tiga jalur pelayaran diusulkan: satu melalui perairan teritorial Iran, satu jalur internasional, dan satu lagi melalui perairan teritorial Oman. Pendekatan ini dimaksudkan untuk mengurangi risiko penutupan selat yang dapat mengguncang pasar energi dunia.
Namun, Iran menolak proposal tersebut. Wakil Menteri Luar Negeri untuk urusan hukum dan internasional, Kazem Gharibabadi, menyatakan bahwa usulan pembagian rute transit tidak menjawab kekhawatiran keamanan Tehran. Iran mengusulkan agar ia mengelola pelayaran melalui sisi selatnya, sementara Oman hanya mengelola sebagian jalur, bukan seluruhnya. Gharibabadi menegaskan bahwa Iran tidak berencana bernegosiasi dengan AS, namun tetap melanjutkan dialog “langkah demi langkah” dengan Oman.
Perselisihan yang masih belum terselesaikan mencakup penentuan jalur kapal, pembiayaan, otoritas regulasi, serta pembersihan ranjau laut yang masih mengintai perairan selat. Ketegangan ini menambah kompleksitas geopolitik di kawasan Teluk Persia, di mana kepentingan energi, keamanan maritim, dan rivalitas regional saling bersinggungan.
Analisis Pakar
Pengelolaan Selat Hormuz bukan sekadar masalah teknis pelayaran; ia merupakan arena strategis di mana kepentingan nasional, keamanan regional, dan dinamika kekuatan global berinteraksi. Model Selat Malaka yang mengandalkan kontribusi sukarela berhasil karena adanya kepercayaan tinggi antarnegara pengguna dan kepastian hukum yang kuat. Di Hormuz, tingkat kepercayaan itu jauh lebih rendah, terutama mengingat sejarah konfrontasi militer antara Iran dan koalisi Barat.
Penolakan Iran terhadap pembagian rute transit mencerminkan keinginan Tehran untuk mempertahankan kontrol strategis atas jalur energi utama dunia. Selat ini menyumbang sekitar 20% volume perdagangan minyak global; setiap gangguan dapat memicu fluktuasi harga minyak yang signifikan. Dari perspektif Iran, menyerahkan sebagian kontrol kepada Oman—yang memiliki hubungan lebih dekat dengan negara-negara Teluk dan Barat—bisa dilihat sebagai potensi melemahkan posisi tawar Tehran dalam negosiasi energi internasional.
Di sisi lain, Oman berupaya menyeimbangkan kepentingan nasionalnya dengan kebutuhan regional untuk stabilitas maritim. Dengan mengusulkan mekanisme berbasis sukarela, Muscat berharap dapat mengurangi ketegangan tanpa harus mengorbankan kedaulatan Iran. Namun, tanpa jaminan keamanan yang dapat diterima oleh Tehran, proposal tersebut berisiko tetap terhambat.
Ke depan, dinamika ini akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan hubungan AS-Iran serta peran negara‑negara lain seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan bahkan kekuatan ekstra‑regional seperti China. Jika dialog “langkah demi langkah” berhasil menghasilkan kompromi, Hormuz dapat menjadi contoh keberhasilan tata kelola maritim multinasional. Jika tidak, risiko penutupan atau insiden militer di selat tetap tinggi, dengan konsekuensi ekonomi global yang luas.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa tujuan utama proposal Oman untuk Selat Hormuz?
A: Menciptakan mekanisme regional berbasis kontribusi sukarela yang meniru model Selat Malaka untuk memastikan keamanan, navigasi, dan perlindungan lingkungan serta mengurangi gangguan perdagangan global. - Q: Mengapa Iran menolak usulan Oman?
A: Iran menilai proposal tidak mengatasi kekhawatiran keamanan, terutama terkait pembagian rute transit yang dianggap dapat mengurangi kontrol strategisnya atas selat. - Q: Bagaimana perselisihan di Selat Hormuz dapat memengaruhi pasar minyak dunia?
A: Karena sekitar 20% perdagangan minyak global melewati selat ini, setiap ketegangan atau penutupan dapat memicu lonjakan harga minyak dan mengganggu pasokan energi internasional.


