Pertamina Gantungkan Ketahanan LPG Nasional pada Terminal Tanjung Sekong: Kunci 35% Pasokan dan Inovasi Digital

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Pertamina Gantungkan Ketahanan LPG Nasional pada Terminal Tanjung Sekong: Kunci 35% Pasokan dan Inovasi Digital
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Terminal LPG Tanjung Sekong menyuplai 35‑40% kebutuhan LPG Indonesia, melayani 63 kab/kota dari Jawa Barat hingga Sumatera Selatan.
  • Dengan kapasitas penyimpanan 98.000 MT dan throughput >200.000 MT per bulan, fasilitas seluas 12,9 ha ini menjadi tulang punggung distribusi energi nasional.
  • Pertamina memperkuat efisiensi rantai pasok lewat digitalisasi stok real‑time, optimalisasi sandar kapal, serta inisiatif dekarbonisasi dan penegakan HSSE.

PT Pertamina (Persero) menegaskan peran strategis Terminal LPG Tanjung Sekong di Cilegon, Banten, dalam menjaga ketahanan energi nasional. Terminal yang telah ditetapkan sebagai Objek Vital Nasional ini memasok sekitar 35‑40 persen kebutuhan LPG nasional dan melayani distribusi ke 63 kabupaten/kota di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Sumatera Selatan.

Mochamad Iriawan, Komisaris Utama Pertamina, menekankan bahwa LPG kini menjadi kebutuhan dasar bagi rumah tangga, UMKM, hingga sektor industri. "Keandalan pasokan harus terus dijaga agar aktivitas ekonomi dan masyarakat tidak terganggu," ujarnya saat melakukan Management Walkthrough di terminal pada Rabu (29/7).

Sejak beroperasi pada 2012 dan di‑upgrade menjadi Terminal LPG Refrigerated pada 2020, fasilitas seluas 12,9 hektare ini kini memiliki tiga dermaga dengan kapasitas 3.500‑65.000 DWT. Dengan kemampuan menangani throughput lebih dari 200.000 MT setiap bulan, terminal tersebut menjadi salah satu pusat distribusi LPG terbesar di Indonesia.

Selama kunjungan, Iriawan meninjau proses operasional mulai dari penerimaan, penyimpanan, hingga distribusi LPG, serta penerapan aspek HSSE. Ia menegaskan budaya keselamatan sebagai fondasi utama untuk menjaga keandalan operasional.

Pertamina juga memperkuat efisiensi rantai pasok melalui digitalisasi, termasuk pemantauan stok secara real‑time dan optimalisasi waktu sandar kapal. Langkah ini diharapkan mempercepat distribusi LPG ke berbagai wilayah serta menurunkan biaya logistik.

Di samping efisiensi, perusahaan mengembangkan inisiatif dekarbonisasi sebagai bagian dari transformasi menuju operasi yang lebih berkelanjutan, termasuk penjajakan pemanfaatan energi rendah emisi untuk mendukung kegiatan operasional terminal.

VP Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menambahkan bahwa terminal ini beroperasi 24 jam untuk memastikan pasokan energi tetap tersedia bagi masyarakat. "Operational excellence tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur, tetapi juga oleh disiplin operasional, penerapan HSSE, serta kesiapan seluruh pekerja," tegasnya.

Analisis Pakar

Secara makroekonomi, ketergantungan Indonesia pada LPG sebagai bahan bakar rumah tangga dan industri menjadikan keamanan pasokan sebagai faktor kritis bagi stabilitas inflasi. Dengan terminal Tanjung Sekong menyumbang hampir seperempat kebutuhan nasional, gangguan di fasilitas ini dapat menimbulkan tekanan harga yang signifikan, terutama pada sektor UMKM yang sensitif terhadap fluktuasi energi. fiskal negara harus siap mengantisipasi dampak tersebut.

Digitalisasi rantai pasok yang diusung Pertamina merupakan langkah strategis untuk mengurangi lead time dan biaya operasional. Real‑time inventory tracking tidak hanya meningkatkan transparansi, tetapi juga memungkinkan penyesuaian cepat terhadap permintaan regional yang bersifat musiman. Hal ini berpotensi menurunkan margin risiko stok berlebih atau kekurangan, yang selama ini menjadi beban pada neraca perusahaan energi.

Inisiatif dekarbonisasi di terminal, meski masih dalam tahap eksplorasi, mencerminkan tekanan regulasi global dan domestik untuk mengurangi jejak karbon. Jika Pertamina berhasil mengintegrasikan energi rendah emisi—misalnya, penggunaan listrik berbasis energi terbarukan untuk proses refrigerasi—maka biaya operasional jangka panjang dapat ditekan sekaligus meningkatkan citra ESG perusahaan di mata investor institusional.

Namun, tantangan utama tetap pada kapasitas infrastruktur dermaga dan kemampuan penanganan kapal berukuran besar. Mengingat pertumbuhan permintaan LPG diproyeksikan meningkat 5‑7% per tahun, investasi tambahan pada dermaga dan fasilitas penyimpanan akan diperlukan untuk menghindari bottleneck. Pemerintah dan regulator perlu memastikan kebijakan tarif pelabuhan yang kompetitif serta dukungan fiskal yang memadai, serta APBN untuk mempercepat modernisasi terminal.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa persentase kebutuhan LPG nasional yang dipenuhi oleh Terminal Tanjung Sekong?
    A: Sekitar 35‑40 persen.
  • Q: Apa saja upaya digitalisasi yang dilakukan Pertamina di terminal ini?
    A: Pemantauan stok secara real‑time, optimalisasi waktu sandar kapal, dan integrasi sistem manajemen berbasis cloud.
  • Q: Bagaimana terminal ini berkontribusi pada agenda dekarbonisasi Pertamina?
    A: Dengan menjajaki penggunaan energi rendah emisi untuk operasional, termasuk listrik terbarukan pada proses refrigerasi dan peningkatan efisiensi energi.
Meow! Tanya Nesi!
😸