Dari Jajanan Khas Betawi ke Omzet Rp100 Juta: Transformasi Digital UMKM Neng Mae

Ekonomi & Pasar
Dian KusumaDian Kusuma
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Dari Jajanan Khas Betawi ke Omzet Rp100 Juta: Transformasi Digital UMKM Neng Mae
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • UMKM Neng Mae melesat dari omzet Rp5 juta menjadi lebih dari Rp100 juta berkat strategi digital di Shopee.
  • Pemiliknya, Umairoh, memanfaatkan data penjualan untuk merombak kemasan, menambah varian, dan menembus pasar ekspor.
  • Keputusan berani menyewa toko di Rorotan dan fokus pada brand lokal menjadikan Neng Mae calon ikon oleh‑oleh Jakarta.

Beberapa tahun lalu, Umairoh kembali ke kampung halaman suaminya di Pemalang, Jawa Tengah, dengan satu misi: membawa oleh‑oleh khas Betawi. Namun, ia menemukan bahwa jajanan tradisional Jakarta sulit ditemukan di luar musim Lebaran. Dari kegelisahan itu lahir pertanyaan kritis—jika warga Jakarta pun kesulitan menemukan oleh‑oleh, bagaimana nasib konsumen di luar kota?

Pada 2019, bersama suami, ia mendirikan Neng Mae. Produk pertama, akar kelapa, diadaptasi dari resep ibunya, diikuti oleh kacang ngumpet yang diproduksi bersama warga sekitar, Mala. Omzet awal hanya sekitar Rp5 juta per bulan, namun strategi penjualan di bazar lokal berhasil menggandakan pendapatan menjadi Rp10 juta.

Pandemi Covid‑19 mengguncang operasi. Penjualan menurun, hanya pre‑order yang tersisa. Alih‑alih menyerah, Umairoh melakukan rebranding pada 2021: mengganti kemasan tabung yang mudah pecah menjadi pouch yang lebih tahan banting, serta menambah varian produk seperti biji ketapang, kembang goyang mini, dan kue arisah. Meskipun inovasi ini meningkatkan omzet menjadi Rp30‑40 juta, biaya operasional—terutama sewa toko di Rorotan—menyerap hampir seluruh pendapatan.

Menjelang 2025, Umairoh mengundurkan diri dari pekerjaan kantornya dan mengalihkan fokus penuh ke bisnis. Dengan latar belakang sebagai business intelligence analyst, ia menyelami data di Shopee Seller Dashboard, mempelajari algoritma, perilaku konsumen, dan efektivitas iklan. Keputusan berbasis data menghasilkan lonjakan omzet 300 %: dari Rp30 juta menjadi hampir Rp90 juta, dan pada September 2025 mencatatkan omzet tiga digit pertama.

Saat ini, penjualan bulanan stabil di atas Rp100 juta, dengan puncak Ramadan‑Lebaran mencapai Rp180 juta. Sekitar 55 % penjualan berasal dari e‑commerce, sisanya dari toko fisik dan pemesanan grosir. Produksi harian meningkat dari 10‑20 kg per varian menjadi 50‑70 kg pada musim puncak. Produk Neng Mae bahkan telah diekspor ke Jepang dan Malaysia melalui program Shopee Export, membuka peluang pasar internasional.

Tim produksi kini berjumlah 12 orang, termasuk Mala, yang masih mengolah camilan dengan peralatan sederhana. Keberhasilan Neng Mae tidak hanya diukur dari angka, melainkan dari dampak sosial—penciptaan lapangan kerja dan pelestarian warisan kuliner Betawi.

Analisis Pakar

Transformasi Neng Mae menegaskan dua prinsip kunci dalam ekosistem UMKM Indonesia: digitalisasi dan data‑driven decision making. Pada fase awal, usaha mengandalkan penjualan tradisional (bazar, pre‑order) yang rentan terhadap gangguan eksternal seperti pandemi. Pergeseran ke platform Shopee tidak sekadar memindahkan kanal, melainkan membuka akses ke analitik real‑time yang memungkinkan pemilik mengoptimalkan SKU, pricing, dan kampanye iklan secara iteratif.

Rebranding kemasan menjadi pouch adalah contoh adaptasi operasional yang sering diabaikan oleh pelaku UMKM. Penggunaan kemasan yang lebih kuat tidak hanya mengurangi kerugian logistik, tetapi juga meningkatkan persepsi kualitas di mata konsumen—faktor penting dalam persaingan e‑commerce yang sangat visual. Selain itu, diversifikasi produk (biji ketapang, kembang goyang mini, dll.) menurunkan risiko konsentrasi pada satu item, memperluas basis pelanggan, dan meningkatkan nilai rata‑rata transaksi.

Namun, tantangan tetap ada. Skalabilitas produksi masih bergantung pada fasilitas fisik yang terbatas, dan biaya sewa toko di Rorotan menggerus margin. Solusi jangka panjang meliputi investasi pada lini produksi otomatisasi ringan, serta model kemitraan dengan retailer modern untuk memperluas jaringan distribusi tanpa menambah beban operasional tetap.

Strategi ekspor melalui Shopee Export menunjukkan pemanfaatan ekosistem platform untuk mengurangi friksi masuk pasar internasional. Dengan mengandalkan tim logistik Shopee, Neng Mae dapat fokus pada branding dan kualitas produk, sementara risiko regulasi dan kepabeanan dikelola oleh pihak ketiga. Ini adalah blueprint yang dapat diikuti oleh UMKM lain yang ingin mengglobal tanpa harus membangun infrastruktur ekspor sendiri.

Selain itu, tantangan operasional di Jakarta seperti pemadaman listrik dapat mempengaruhi rantai pasok, menambah kompleksitas manajemen risiko bagi UMKM yang bergantung pada distribusi kota besar.

Dalam konteks ketidakpastian investasi, keberhasilan digitalisasi seperti yang ditunjukkan Neng Mae menjadi contoh penting bagi kebijakan yang mendukung ekosistem startup dan UMKM.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Bagaimana Neng Mae meningkatkan omzetnya hingga Rp100 juta per bulan?
    A: Dengan memanfaatkan data penjualan di Shopee, melakukan rebranding kemasan, menambah variasi produk, dan memperluas kanal penjualan baik online maupun offline.
  • Q: Apakah produk N
Meow! Tanya Nesi!
😸