Impor RI Melejit 34% YoY, BPS Ungkap Penyebab di Balik Lonjakan Non-Migas

Ekonomi & Pasar
Dian KusumaDian Kusuma
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Impor RI Melejit 34% YoY, BPS Ungkap Penyebab di Balik Lonjakan Non-Migas
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Impor total pada Juni 2026 naik 34,27% YoY menjadi US$25,91 miliar.
  • Semester I 2026 tercatat US$137,24 miliar, melesat 18,69% dibandingkan tahun sebelumnya.
  • Kenaikan dipicu utama oleh impor non-migas, khususnya bahan baku penolong (+18,38%) dan barang modal (+26,53%).

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan lonjakan impor Indonesia yang signifikan pada Juni 2026. Nilai impor mencapai US$25,91 miliar, melambung 34,27% secara tahunan. Jika dilihat secara kumulatif, total impor Semester I 2026 mencapai US$137,24 miliar, naik 18,69% YoY.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa pertumbuhan ini didorong oleh dua pilar utama: impor migas dan impor non‑migas. Impor migas semester I tercatat US$22 miliar (+38,71%), sementara impor non‑migas mencapai US$115,23 miliar (+15,50%).

Namun, sorotan utama tetap pada impor non-migas. Pada Juni 2026, nilai impor non‑migas mencapai US$21,35 miliar, naik 25,05% YoY. Di antara komponen utama, bahan baku penolong menyumbang US$97,95 biliar, meningkat 18,38% secara kumulatif. Barang modal tumbuh 26,53%, sedangkan barang konsumsi naik 17,46%.

Secara keseluruhan, semua golongan barang impor menunjukkan pertumbuhan positif pada Juni 2026, menandakan tekanan pada neraca perdagangan dan kebutuhan akan kebijakan yang menyeimbangkan pasokan domestik dengan permintaan industri.

Analisis Pakar

Lonjakan impor ini menimbulkan pertanyaan strategis bagi kebijakan ekonomi makro Indonesia. Pertama, peningkatan signifikan pada bahan baku penolong dan barang modal mencerminkan upaya industri untuk meningkatkan kapasitas produksi, namun hal ini juga menambah beban pada defisit neraca perdagangan. Jika tidak diimbangi dengan ekspor yang tumbuh sejalan, tekanan pada nilai tukar Rupiah dapat meningkat, memicu inflasi impor.

Kedua, pertumbuhan impor migas yang mencapai lebih dari 38% pada semester pertama menunjukkan ketergantungan energi yang masih tinggi. Pemerintah perlu memperkuat agenda diversifikasi energi, termasuk percepatan transisi ke energi terbarukan, untuk mengurangi volatilitas biaya impor yang dipengaruhi harga minyak dunia.

Ketiga, sektor barang modal yang tumbuh lebih dari 26% mengindikasikan adanya investasi domestik yang kuat, namun kualitas investasi tersebut harus dipastikan menghasilkan nilai tambah yang signifikan. Kebijakan insentif fiskal harus diarahkan pada teknologi tinggi dan rantai nilai yang meningkatkan daya saing ekspor, bukan sekadar meningkatkan konsumsi barang impor.

Akhirnya, BPS mencatat bahwa pertumbuhan impor terjadi di seluruh golongan barang, yang berarti tekanan pada cadangan devisa akan terus berlanjut. Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan perlu menyiapkan strategi manajemen risiko valuta asing yang lebih proaktif, termasuk penggunaan instrumen lindung nilai dan diversifikasi sumber devisa melalui peningkatan ekspor jasa.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa penyebab utama lonjakan impor Indonesia pada Juni 2026?
    A: Kenaikan utama berasal dari impor non‑migas, terutama bahan baku penolong dan barang modal, serta peningkatan impor migas.
  • Q: Bagaimana lonjakan impor memengaruhi neraca perdagangan Indonesia?
    A: Impor yang lebih tinggi memperlebar defisit perdagangan, menambah tekanan pada cadangan devisa dan nilai tukar Rupiah jika ekspor tidak tumbuh seimbang.
  • Q: Apa langkah kebijakan yang dapat mengurangi ketergantungan impor energi?
    A: Pemerintah dapat mempercepat transisi ke energi terbarukan, meningkatkan efisiensi energi, dan mengembangkan sumber energi domestik untuk mengurangi kebutuhan impor migas.
Meow! Tanya Nesi!
😸