Irjen Susilo Teguh Raharjo Resmi Gabung UBISA, Wakapolri Janjikan Dorong Kolaborasi Polri‑Universitas

Berita Daerah
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Irjen Susilo Teguh Raharjo Resmi Gabung UBISA, Wakapolri Janjikan Dorong Kolaborasi Polri‑Universitas
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

Jakarta, 3 Agustus 2024 – Irjen Susilo Teguh Raharjo, Kasatgas Pembentukan Pusat Studi Kepolisian di Lemdiklat Polri, menandatangani perjanjian bergabung dengan Universitas Bima Sakapenta (UBISA). Penandatanganan ini disambut hangat oleh Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo, yang menilai kolaborasi ini dapat menjadi katalisator bagi sinergi antara institusi kepolisian dan dunia akademik.

Dalam pernyataan tertulisnya, Dedi menekankan bahwa kehadiran Susilo di UBISA bukan sekadar penambahan nama pada daftar dosen, melainkan upaya strategis untuk memperluas ekosistem police‑science yang lebih terbuka dan kolaboratif. "Kehadiran beliau akan semakin memperkuat kolaborasi antara Polri dan dunia pendidikan tinggi serta memperluas jejaring Pusat Studi Kepolisian yang terus kita bangun bersama perguruan tinggi negeri maupun swasta di Indonesia," ujarnya.

Susilo, yang selama ini menjadi motor penggerak dalam menyiapkan jaringan akademik Polri, mengungkapkan motivasinya bergabung dengan UBISA adalah untuk menanamkan benih masa depan bangsa melalui pendidikan. "Perguruan tinggi merupakan pilar utama peradaban; di dalamnya lahir sumber daya manusia, ilmu pengetahuan, inovasi, dan solusi bagi persoalan bangsa," katanya.

Rektor UBISA, Agus Supriyadi, menyambut kedatangan Susilo dengan harapan bahwa pengalaman dan jaringan akademiknya akan memberi energi baru bagi pengembangan universitas. "Semoga kehadiran beliau menginspirasi sekaligus memperkuat langkah UBISA dalam melahirkan sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, dan berbudi luhur," ungkapnya.

Data terbaru menunjukkan bahwa Pusat Studi Kepolisian telah didirikan di 79 perguruan tinggi (negeri dan swasta) di seluruh Indonesia, dengan 40 di antaranya sudah beroperasi secara penuh. Namun, Dedi menegaskan bahwa angka bukan satu‑satunya ukuran keberhasilan. "Yang lebih penting adalah bagaimana Pusat Studi Kepolisian menjadi ruang bertemunya pengalaman praktis kepolisian dengan kekuatan akademik kampus, menghasilkan riset, inovasi, dan rekomendasi berbasis ilmu pengetahuan," tegasnya.

Analisis Pakar

Langkah Irjen Susilo bergabung dengan UBISA harus dilihat bukan hanya sebagai aksi simbolik, melainkan sebagai upaya Polri untuk menginternalisasi budaya evidence‑based policing di tengah dinamika keamanan yang semakin kompleks. Kolaborasi semacam ini dapat menutup kesenjangan antara praktik lapangan dan riset akademik, namun keberhasilannya sangat bergantung pada kualitas mekanisme koordinasi dan alokasi sumber daya.

Secara kritis, perlu dipertanyakan apakah jaringan Pusat Studi Kepolisian yang kini tersebar di 79 perguruan tinggi benar‑benar mampu menghasilkan output yang relevan dan dapat diimplementasikan. Banyak institusi pendidikan tinggi di Indonesia masih berjuang dengan keterbatasan dana, infrastruktur, dan kompetensi riset. Tanpa dukungan yang memadai, inisiatif ini berisiko menjadi sekadar formalitas yang menambah daftar nama tanpa dampak nyata.

Selain itu, kehadiran figur tinggi Polri di lingkungan akademik dapat menimbulkan potensi konflik kepentingan, terutama bila penelitian yang dihasilkan menyentuh isu‑isu sensitif seperti penyalahgunaan wewenang atau reformasi struktural. Transparansi dalam proses peer‑review dan kebebasan akademik harus dijaga agar tidak terdistorsi oleh agenda institusional.

Terakhir, kolaborasi ini membuka peluang bagi inovasi teknologi AI dalam pemantauan kriminalitas. Namun, tanpa regulasi yang kuat, hal ini dapat menimbulkan masalah privasi dan hak asasi manusia. Oleh karena itu, peran UBISA dan mitra akademik lainnya harus proaktif dalam menegakkan standar etika serta memastikan bahwa hasil riset tidak disalahgunakan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa peran Irjen Susilo Teguh Raharjo di UBISA?
    A: Ia akan menjadi anggota sivitas akademika, mengawal pengembangan Pusat Studi Kepolisian, serta menjembatani kolaborasi riset antara Polri dan universitas.
  • Q: Berapa banyak Pusat Studi Kepolisian yang sudah beroperasi di Indonesia?
    A: Saat ini ada 40 pusat yang beroperasi, 5 dalam tahap penandatanganan PKS, dan 34 masih dalam proses pembentukan.
  • Q: Apa manfaat utama kolaborasi Polri‑universitas bagi masyarakat?
    A: Kolaborasi diharapkan menghasilkan riset berbasis bukti, inovasi keamanan, dan peningkatan kualitas pelayanan Polri kepada publik.
Meow! Tanya Nesi!
😸