Kebakaran KM Mutiara Sentosa: Tanpa Alarm, Penumpang Diselamatkan oleh Kapal Tanker, Kerugian Miliaran Rupiah

Berita Daerah
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Kebakaran KM Mutiara Sentosa: Tanpa Alarm, Penumpang Diselamatkan oleh Kapal Tanker, Kerugian Miliaran Rupiah
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Penumpang KM Mutiara Sentosa selamat meski tidak ada alarm kebakaran; peringatan hanya lewat teriakan ABK.
  • Kebakaran bermula di sebuah truk di perairan Sumenep, menewaskan beberapa penumpang dan menghancurkan 7 ekor kuda serta mobil pengangkut.
  • Evakuasi dilakukan secara improvisasi, dengan korban terombang‑ambing selama lebih dari satu jam hingga diselamatkan oleh kapal tanker yang lewat.

Ari Hidayat (47) dan istri Denik Rohana (31) selamat dari tragedi yang melanda KM Mutiara Sentosa pada Minggu (2/8) di perairan utara Kabupaten Sumenep, Madura. Kedua penumpang, asal Prigen, Pasuruan, tengah mengangkut tujuh ekor kuda ke Makassar ketika api melalap kapal.

Menurut Ari, tidak ada sirene atau alarm kebakaran yang berbunyi. “Alarm enggak ada, tapi peringatan ABK ada. Ya ‘kebakaran, kebakaran’,” ujarnya sambil menirukan teriakan kru kapal. Penumpang lain hanya mengandalkan pelampung, sementara asap mulai terlihat pada pukul 06.00 WIB ketika Denik baru bangun tidur.

Denik menggambarkan momen pertama melihat asap di bagian bawah kapal dan menyadari bahwa sebuah truk sudah terbakar. “Saya suruh suami cek, ternyata sudah terbakar satu mobil,” katanya. Api cepat menyebar, memaksa ratusan penumpang berdesakan ke dek haluan yang terbuka, meski suhu sudah mencapai merah‑merah.

Setelah kondisi kapal memburuk pada pukul 14.00 WIB, penumpang dipaksa melompat ke laut. Ari dan Denik melompat bersama istri, namun ponsel mereka rusak dan tidak dapat menghubungi keluarga. Mereka terombang‑ambing selama lebih dari satu jam sebelum sebuah kapal tanker yang melintas mengevakuasi mereka ke posko darurat di Gapura Surya Nusantara, Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, pada pukul 23.00 WIB.

Sayangnya, tujuh ekor kuda yang dikirim ke Makassar tidak selamat; mereka terbakar bersama truk pengangkut. Ari mengaku kerugian mencapai Rp300 juta, termasuk mobil dan hewan ternak yang sudah terdaftar dalam manifest serta dokumen karantina. Dua rekan mereka, Trala (40) dan Ferdi (20), serta kru yang membantu mengurus kuda masih belum ditemukan.

Ari menegaskan pentingnya pertanggungjawaban dan ganti rugi bagi korban. “Kalau bisa, semuanya minta ganti rugi. Kalau memang tidak bisa, ya begitu,” ujarnya, menutup pernyataan dengan nada cemas namun berharap ada kejelasan dari pihak berwenang.

Analisis Pakar

Tragedi KM Mutiara Sentosa mengungkap kegagalan sistem keselamatan maritim yang sudah lama menjadi sorotan regulator. Tidak adanya alarm kebakaran bukan sekadar kelalaian teknis; itu mencerminkan budaya keselamatan yang masih lemah di banyak operator kapal penumpang di Indonesia. Ketergantungan pada teriakan ABK sebagai satu‑satunya sarana peringatan menandakan kurangnya investasi pada peralatan deteksi dini yang standar internasional.

Selain itu, prosedur evakuasi yang improvisasi—menyuruh penumpang naik ke dek haluan yang sudah panas, lalu memaksa mereka melompat ke laut—menunjukkan kurangnya pelatihan dan simulasi kebakaran di atas kapal. Pada situasi darurat, koordinasi yang terstruktur antara ABK, penumpang, dan pihak penyelamat sangat krusial. Kegagalan ini berpotensi menambah angka korban jiwa, terutama bagi penumpang yang tidak mampu berenang atau memiliki kondisi kesehatan lemah.

Kerugian ekonomi yang diderita oleh Ari dan pemilik kuda juga menyoroti masalah asuransi dan tanggung jawab pengangkutan barang. Meskipun kuda tersebut tercatat dalam manifest, tidak ada bukti bahwa pemilik kapal menyediakan asuransi yang memadai untuk hewan hidup. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang regulasi transportasi ternak di perairan Indonesia dan perlunya standar perlindungan yang lebih ketat.

Terakhir, respons pemerintah dan otoritas pelabuhan masih belum terlihat jelas. Penyelamatan oleh kapal tanker yang kebetulan lewat memang menyelamatkan nyawa, namun tidak menggantikan kegagalan institusional dalam mencegah kebakaran. Diperlukan audit menyeluruh terhadap prosedur keselamatan, inspeksi rutin, serta penegakan sanksi yang tegas bagi operator yang melanggar standar.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa tidak ada alarm kebakaran di KM Mutiara Sentosa?
  • A: Kapal tersebut tidak dilengkapi dengan sistem deteksi kebakaran otomatis, sehingga peringatan hanya mengandalkan teriakan kru kapal.
  • Q: Siapa yang bertanggung jawab atas kerugian kuda dan mobil yang terbakar?
  • A: Secara hukum, pemilik kapal dan operator pengangkutan bertanggung jawab, namun proses klaim ganti rugi masih bergantung pada hasil investigasi dan kebijakan asuransi.
  • Q: Apa langkah selanjutnya yang diharapkan dari otoritas maritim?
  • A: Otoritas diharapkan melakukan audit keselamatan, memperketat regulasi alarm kebakaran, dan memastikan prosedur evakuasi yang memadai pada semua kapal penumpang.
Meow! Tanya Nesi!
😾