Banjir & Longsor di Sri Lanka Bikin 5 Tewas, Ancaman Besar bagi Industri Teh dan Pemulihan Ekonomi Pasca Siklon
Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Ringkasan Singkat
- Hujan deras selama dua hari memicu banjir dan tanah longsor di wilayah pegunungan Pegunungan penghasil teh Sri Lanka, menewaskan 5 orang.
- Lebih dari 129 rumah rusak, hampir 2.000 warga mengungsi, dan sekolah ditutup sementara.
- Bencana ini menambah beban pemulihan ekonomi pasca Siklon Ditwa yang merugikan negara hingga US$4,1 miliar.
Jakarta, CNBC Indonesia – Sri Lanka kembali dilanda cuaca ekstrem. Hujan deras yang mengguyur negara itu selama dua hari terakhir memicu banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah, terutama kawasan pegunungan penghasil teh.
Menurut Juru Bicara Pusat Manajemen Bencana Sri Lanka, Pradeep Kodippili, lima orang tewas tertimbun longsor yang menghantam dua rumah di wilayah tengah negara itu. "Selain lima korban meninggal, tiga orang mengalami luka-luka dan dua lainnya masih dinyatakan hilang," ujarnya, dikutip Channel News Asia (CNA) melansir AP.
Longsor tersebut juga menambah kerusakan pada 129 rumah dan memaksa hampir 2.000 warga mengungsi ke lokasi yang lebih aman. Pemerintah mengerahkan personel Angkatan Laut dan Angkatan Darat untuk mengevakuasi warga yang masih terjebak banjir serta membantu proses penyelamatan.
Rekaman yang ditayangkan stasiun televisi lokal Hiru TV memperlihatkan aparat bersama warga mengevakuasi penghuni rumah yang terkepung banjir dan menghadapi ancaman aliran lumpur. Siaran tersebut juga menunjukkan sejumlah ruas jalan utama di wilayah tengah tertutup batu besar, material longsor, dan tiang listrik yang tumbang sehingga menghambat arus lalu lintas.
Pusat Manajemen Bencana menyebut curah hujan tinggi telah membanjiri rumah, lahan pertanian, dan jalan raya di berbagai daerah. Wilayah pegunungan di bagian tengah Sri Lanka menjadi kawasan yang mengalami dampak paling parah akibat cuaca ekstrem tersebut.
Bencana kali ini terjadi ketika Sri Lanka masih berupaya memulihkan kerusakan akibat Siklon Ditwa yang melanda pada November tahun lalu. Siklon tersebut menewaskan hampir 640 orang, memengaruhi sekitar dua juta penduduk, serta menimbulkan kerugian sekitar US$4,1 miliar (sekitar Rp73,8 triliun).
Provinsi Tengah, yang paling terdampak oleh siklon, masih berjuang membangun kembali jalan raya, jalur kereta api, dan permukiman yang rusak. Ancaman banjir dan tanah longsor kembali memperberat proses pemulihan, menambah tekanan pada sektor pertanian, khususnya perkebunan teh yang menjadi tulang punggung ekspor negara.
Analisis Pakar
Sebagai pakar ekonomi makro, saya melihat bencana ini bukan sekadar tragedi kemanusiaan, melainkan pukulan ganda bagi perekonomian Sri Lanka yang masih berjuang keluar dari krisis utang dan inflasi tinggi. Sektor teh, yang menyumbang sekitar 5% PDB dan menempati posisi sebagai salah satu komoditas ekspor utama, kini menghadapi gangguan produksi akibat kerusakan infrastruktur dan lahan pertanian. Penurunan output dapat memicu penurunan pendapatan devisa, memperburuk defisit perdagangan yang sudah rapuh.
Selain itu, kerusakan pada rumah dan fasilitas publik meningkatkan beban fiskal pemerintah. Anggaran yang sebelumnya dialokasikan untuk reformasi struktural dan penyesuaian kebijakan moneter kini harus dipindahkan untuk penanggulangan bencana, memperkecil ruang manuver dalam negosiasi restrukturisasi utang dengan kreditur internasional. Hal ini berpotensi menunda atau mengurangi bantuan IMF yang sangat dibutuhkan.
Di sisi lain, respons cepat militer menunjukkan koordinasi lintas sektoral yang baik, namun efektivitas jangka panjang bergantung pada investasi dalam mitigasi risiko, seperti sistem peringatan dini dan pembangunan infrastruktur tahan banjir. Tanpa langkah preventif, Sri Lanka akan terus berada dalam siklus kerusakan berulang, menghambat pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Investor asing, terutama yang menaruh mata pada sektor agrikultur dan pariwisata, harus menilai ulang eksposur risiko politik‑ekonomi di Sri Lanka. Diversifikasi portofolio ke sektor yang lebih tahan guncangan, serta menuntut transparansi dalam penggunaan dana bantuan bencana, menjadi strategi yang bijak dalam menghadapi ketidakpastian ini.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Berapa banyak korban jiwa akibat banjir dan longsor di Sri Lanka?
- A: Hingga saat ini, bencana tersebut menewaskan lima orang, melukai tiga, dan dua orang masih dinyatakan hilang.
- Q: Bagaimana bencana ini memengaruhi industri teh Sri Lanka?
- A: Kerusakan lahan pertanian dan infrastruktur di daerah pegunungan mengancam produksi teh, yang dapat menurunkan ekspor dan pendapatan devisa negara.
- Q: Apa langkah pemerintah Sri Lanka dalam menanggulangi bencana?
- A: Pemerintah mengerahkan personel Angkatan Laut dan Angkatan Darat untuk evakuasi, serta menutup sekolah dan menyediakan tempat penampungan bagi ribuan pengungsi.


