El Nino Kuat Mengancam Bisnis Indonesia: Risiko Kekeringan, Karhutla, dan Dampak pada Energi
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Ringkasan Singkat
- El Nino kini berada pada fase kuat dan berpotensi menjadi sangat kuat, menurunkan curah hujan Agustus‑September.
- Wilayah selatan Indonesia (NTT, NTB, Bali, Jawa Selatan, Sumatra Selatan, Papua Selatan) diprediksi mengalami musim kemarau terpanjang dalam 30 tahun terakhir.
- Pemerintah gencar lakukan modifikasi cuaca, pengisian waduk, dan pencegahan karhutla untuk melindungi sektor pertanian, energi, dan kesehatan.
JAKARTA – El Nino yang dipantau oleh BMKG kini telah memasuki kategori kuat dan berpotensi melaju ke fase sangat kuat. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menegaskan bahwa fenomena ini akan memperpanjang musim kemarau pada Agustus‑September, meningkatkan risiko kekeringan, dan memicu kebakaran hutan serta lahan (karhutla) terutama di wilayah selatan Indonesia.
BMKG telah memproyeksikan kondisi ini sejak Maret 2026, ketika prediksi awal menyebutkan El Nino berkategori moderat. Namun, setelah WMO mengonfirmasi El Nino aktif pada 2 Juni, data suhu permukaan laut menunjukkan anomali +1,59°C pada wilayah 3.4, menandakan intensitas kuat. "Kita tidak hanya melihat data dasarian Juli, melainkan periode Mei‑Juni‑Juli untuk menilai tren ini," ujar Faisal dalam Dialog Nasional Kementerian PPN/Bappenas.
Pengaruh paling signifikan diperkirakan terjadi pada Agustus‑September, ketika curah hujan turun ke level rendah‑sangat rendah. Setelah pertengahan Oktober, musim hujan mulai kembali, sehingga dampak El Nino akan berkurang. Daerah yang paling terancam meliputi Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, wilayah pesisir Jawa, Sumatra selatan, hingga Papua selatan.
Dampak lintas sektor tidak dapat diabaikan. Pertanian akan menghadapi penurunan produksi, pasokan air bersih terancam, waduk dan irigasi akan menipis, pembangkit listrik tenaga air (PLTA) berpotensi kehilangan debit, dan kualitas udara akan menurun akibat asap kebakaran. Pemerintah, melalui Kementerian Pekerjaan Umum, telah meluncurkan operasi modifikasi cuaca untuk mengisi kembali waduk, menjaga pasokan air baku, irigasi, serta stabilitas listrik.
Berbeda dengan penanganan El Nino 2015, pendekatan kini lebih proaktif. Data muka air tanah gambut dipantau secara real‑time; bila turun di bawah 1 meter, BMKG berkoordinasi dengan BNPB untuk melakukan penyemprotan awan guna meningkatkan kelembaban tanah sebelum kebakaran terjadi.
Analisis Pakar
Secara makroekonomi, El Nino kuat menambah ketidakpastian pada perekonomian Indonesia, termasuk potensi deflasi. Sektor pertanian, yang menyumbang sekitar 13% PDB, akan mengalami penurunan hasil panen, terutama padi dan komoditas hortikultura di wilayah selatan. Penurunan produksi tidak hanya menaikkan harga pangan domestik, tetapi juga mengurangi ekspor beras, yang dapat menurunkan neraca perdagangan.
Di sisi energi, berkurangnya debit air pada PLTA dapat memaksa PLN meningkatkan pembangkit berbasis batu bara atau gas, yang berimplikasi pada kenaikan tarif listrik dan emisi karbon. Hal ini menambah tekanan pada agenda dekarbonisasi Indonesia yang telah dijanjikan dalam komitmen NDC.
Pasar modal juga akan merespons. Perusahaan agribisnis dan utilitas energi berpotensi mengalami volatilitas saham. Investor harus menilai eksposur mereka terhadap risiko iklim ini dan mempertimbangkan diversifikasi ke sektor yang lebih tahan terhadap cuaca ekstrem, seperti teknologi pertanian (agritech) atau energi terbarukan yang tidak bergantung pada air.
Terakhir, kebijakan fiskal dan moneter perlu menyesuaikan. Pemerintah dapat memperluas subsidi irigasi, mempercepat pembangunan infrastruktur penyimpanan air, dan memberikan insentif bagi petani yang mengadopsi praktik konservasi air. Bank Indonesia dapat menyiapkan likuiditas khusus untuk sektor pertanian yang terdampak, mengingat potensi penurunan pendapatan petani dapat menurunkan konsumsi domestik secara keseluruhan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Kapan puncak dampak El Nino diperkirakan terjadi di Indonesia?
A: Puncaknya diprediksi pada Agustus‑September 2026, dengan curah hujan terendah di wilayah selatan. - Q: Bagaimana El Nino memengaruhi harga pangan di pasar domestik?
A: Kekeringan mengurangi hasil panen, terutama padi, sehingga harga beras dan komoditas pangan lainnya cenderung naik. - Q: Apa langkah pemerintah untuk mencegah kebakaran hutan selama El Nino?
A: Pemerintah melakukan pemantauan muka air tanah gambut, operasi modifikasi cuaca, dan koordinasi lintas kementerian untuk meningkatkan kelembaban tanah sebelum kebakaran terjadi.


