Paredes Kembali Bikin Geger: Dari Piala Dunia 2026 ke Kontroversi Panas di Boca Juniors!
Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.

Ringkasan Singkat
- Leandro Paredes kembali terlibat insiden kontroversial saat Boca Juniors melawan Newell's Old Boys (2â2) di Stadion Marcelo Bielsa.
- Paredes menerima kartu kuning setelah menendang bola ke arah pemain lawan yang terjatuh pada menit keâ68.
- Insiden ini menambah bayangâbayang hukuman FIFA atas aksi kerasnya di Piala Dunia 2026 melawan Spanyol.
Setelah menutup babak Piala Dunia 2026 dengan aksi yang memicu kemarahan publik, Leandro Paredes kembali menorehkan catatan hitam di tanah Argentina. Pada pekan ini, sang gelandang asal Buenos Aires memperkuat Boca Juniors dalam laga melawan Newell's Old Boys. Pertandingan yang berakhir imbang 2â2 ini menjadi sorotan utama karena kartu kuning kontroversial yang diberikan kepada Paredes pada menit keâ68.
Video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan momen menegangkan: setelah lawan terjatuh, Paredes dengan sengaja menendang bola ke arah pemain yang baru saja bangkit dan membelakangi dirinya. Wasit AndrĂ©s Merlos tak ragu mengeluarkan kartu kuning, namun sorotan publik tidak berhenti di situ. Insiden ini menambah daftar panjang perilaku agresif Paredes yang kini berada di bawah bayangâbayang FIFA.
Masalahnya bukan sekadar satu pertandingan. Pada final Piala Dunia 2026, Paredes terlibat keributan dengan pemain Spanyol, termasuk tuduhan menendang dan mencekik Eric GarcĂa, serta hampir memukul Gavi. Menurut Pasal 14 Kode Disiplin FIFA, serangan individu dapat dikenai sanksi minimal tiga pertandingan, dan dalam kasus Paredes, potensi larangan bermain hingga sembilan laga mengintai.
Analisis Pakar
Sebagai pengamat yang telah menelusuri jejak taktik dan psikologi pemain selama lebih dari satu dekade, saya melihat pola perilaku Paredes sebagai manifestasi dari tekanan mental yang tak tertangani dengan baik. Setelah menutup turnamen dunia dengan kegagalan emosional, ia kembali menyalurkan frustrasinya ke dalam aksi fisik di level klub. Ini bukan sekadar âsekadar emosi sesaatâ, melainkan indikasi kurangnya kontrol diri yang seharusnya dimiliki seorang pemain kelas dunia.
Dari sudut taktik, Paredes memang dikenal sebagai gelandang bertahan yang agresif, mampu memecah serangan lawan dengan tekel keras. Namun, agresi yang berujung pada pelanggaran berbahaya mengorbankan nilai strategis tim. Setiap kartu kuning atau merah tidak hanya menurunkan moral rekan satu tim, tetapi juga memberi lawan peluang taktis untuk memanfaatkan situasi setâpiece.
Selanjutnya, konsekuensi disiplin FIFA dapat mengubah dinamika Boca Juniors secara signifikan. Jika Paredes dijatuhi sanksi sembilan pertandingan, klub harus mencari pengganti yang mampu menyeimbangkan peran defensif dan distribusi bola. Ini membuka peluang bagi pemain muda atau transfer mendadak, yang pada gilirannya dapat memengaruhi klasemen Liga Argentina. Sebagai contoh, perubahan formasi serupa pernah terjadi pada Piala Presiden 2026, di mana klub harus menyesuaikan taktik secara mendadak.
Terakhir, saya menekankan pentingnya edukasi psikologis bagi pemain elite. Klub, federasi, dan agen harus berinvestasi pada program manajemen stres dan kontrol emosi. Tanpa itu, kita akan terus menyaksikan âdrama lapanganâ yang merusak citra sepak bola dan menambah beban hukuman administratif.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa sanksi FIFA yang mungkin dijatuhkan kepada Leandro Paredes?
A: Berdasarkan Pasal 14 Kode Disiplin FIFA, Paredes dapat dikenai larangan bermain minimal 3 pertandingan, dengan potensi hingga 9 pertandingan jika terbukti melakukan serangan individu berulang. - Q: Bagaimana kartu kuning di pertandingan Boca Juniors vs Newell's Old Boys memengaruhi hasil akhir?
A: Kartu kuning tidak langsung memengaruhi skor, namun menambah tekanan pada Paredes dan timnya, yang harus bermain lebih hati-hati di sisa menit pertandingan. - Q: Apakah Boca Juniors memiliki alternatif pengganti Paredes jika ia disuspend?
A: Klub memiliki beberapa opsi, termasuk memanfaatkan gelandang muda dari akademi atau merekrut pemain tengah berpengalaman di pasar transfer domestik. Contoh lain dari dinamika serupa dapat dilihat pada Timnas Indonesia yang juga harus menyesuaikan skuad setelah cedera pemain kunci.


