Kebakaran KMP Mutiara Sentosa II: 5 Anak Tak Terdaftar di Manifes – Skandal Keselamatan yang Terbongkar
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Operator KMP Mutiara Sentosa II mengakui lima anak tidak tercatat dalam manifes penumpang.
- Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyebut data manifes tidak akurat, memicu pertanyaan tentang prosedur keselamatan.
- Operasi SAR selesai setelah 238 penumpang dievakuasi, namun lima korban meninggal dunia, menimbulkan sorotan tajam pada regulasi pelayaran domestik.
Surabaya, 5 Agustus 2026 – Pada hari Rabu, PT Atosim Lampung Pelayaran (ALP), pemilik sekaligus operator KMP Mutiara Sentosa II, mengonfirmasi keberadaan lima anak yang tidak tercantum dalam manifes penumpang. Kepala Cabang Surabaya, Ferdinan Pondang, menjelaskan bahwa tiket anak‑anak tersebut tidak didaftarkan oleh pembeli atau orang tua kepada pihak kapal.
"Daftar anak itu memang tidak didaftarkan oleh si pembeli tiket ini kepada kami. Jadi, anak yang lima itu tidak termasuk manifes," ujar Pondang saat diwawancarai di posko terpadu Terminal Gapura Surya Nusantara (GSN), Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.
Meski demikian, Pondang belum dapat menunjukkan data pasti jumlah penumpang yang terdaftar pada pelayaran Surabaya‑Makassar tersebut. Ia menegaskan bahwa data masih dalam proses cross‑check dengan kantor pusat, dan belum ada bukti adanya kelebihan penumpang di atas manifes.
"Ini masih kita cross‑check sama yang di pusat. Kalau untuk itu tidak ada, (penumpang) kelebihan manifes ataupun apa enggak ada," tambahnya. Ia menolak spekulasi bahwa kapal mengangkut penumpang lebih banyak dari yang tercatat.
Sementara itu, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengakui bahwa data manifes KMP Mutiara Sentosa II yang terbakar di perairan utara Kabupaten Sumenep, Madura, pada 2 Agustus, tampak tidak sinkron dengan fakta lapangan. Dudy menyoroti lima anak yang ditemukan dan dievakuasi namun tidak tercatat dalam manifes resmi, menegaskan bahwa setiap penumpang wajib terdaftar.
"Ada lima anak yang tidak tercatat dalam manifest. Nanti mungkin hanya dicantumkan anak ini yang akan menjadi evaluasi kami juga, kenapa tidak tercatat di dalam manifest. Mestinya kan setiap penumpang yang ada di dalam kapal semua harus tercatat," kata Dudy saat meninjau korban kebakaran di GSN pada 3 Agustus.
Operasi penyelamatan yang dipimpin Basarnas berhasil mengevakuasi 238 orang, namun lima korban dinyatakan meninggal dunia. Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menutup operasi SAR khusus dan menyerahkannya kepada operasi rutin Kantor SAR Surabaya.
Analisis Pakar
Kasus KMP Mutiara Sentosa II menyoroti kegagalan sistematis dalam pengelolaan data penumpang di industri pelayaran domestik. Ketidaksesuaian antara manifes dan kenyataan di lapangan bukan sekadar kelalaian administratif; ia mengindikasikan celah regulasi yang memungkinkan operator mengabaikan prosedur keselamatan dasar. Tanpa data yang akurat, otoritas tidak dapat menghitung kapasitas kapal, menilai risiko overloading, atau menyiapkan respons darurat yang proporsional.
Lebih jauh, pengakuan dari pihak operator yang belum dapat menyediakan angka pasti penumpang menimbulkan pertanyaan tentang transparansi internal perusahaan. Proses cross‑check yang “masih berlangsung” seharusnya menjadi standar sebelum publikasi, bukan alasan menunda klarifikasi kepada media. Sikap defensif ini memperparah kepercayaan publik yang sudah rapuh pasca tragedi kebakaran.
Dari perspektif kebijakan, Kementerian Perhubungan harus segera meninjau kembali mekanisme verifikasi manifes, termasuk penerapan sistem digital terintegrasi yang terhubung langsung ke otoritas pelabuhan. Penggunaan teknologi RFID atau QR‑code pada tiket dapat meminimalisir human error dan memastikan setiap penumpang, termasuk anak di bawah umur, tercatat secara real‑time.
Terakhir, tragedi ini menuntut penegakan hukum yang tegas. Jika terbukti ada pelanggaran prosedur keselamatan atau pemalsuan data, perusahaan harus dikenai sanksi administratif maupun pidana. Tanpa akuntabilitas, industri pelayaran akan terus beroperasi dalam zona abu‑abu, menempatkan nyawa ribuan penumpang dalam bahaya.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Mengapa lima anak tidak tercatat dalam manifes KMP Mutiara Sentosa II?
A: Anak‑anak tersebut tidak didaftarkan oleh pembeli tiket kepada operator, sehingga tidak masuk dalam data resmi. - Q: Apakah ada kelebihan penumpang di kapal selain lima anak yang tidak terdaftar?
A: Hingga kini, operator belum menemukan bukti adanya penumpang tambahan di luar manifes; data masih dalam proses cross‑check. - Q: Apa langkah yang akan diambil pemerintah untuk mencegah kejadian serupa?
A: Kementerian Perhubungan berjanji akan merevisi prosedur verifikasi manifes, memperkenalkan sistem digital terintegrasi, dan menindak tegas pelanggaran keselamatan.


