EWINDO Ganti Paradigma: Warga Jadi Mitra, Bukan Sekadar Penerima Manfaat

Ekonomi & Pasar
Siti AmaliaSiti Amalia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

EWINDO Ganti Paradigma: Warga Jadi Mitra, Bukan Sekadar Penerima Manfaat
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • EWINDO menolak istilah "beneficiaries" dan mengangkat warga sebagai mitra dalam program pemberdayaan.
  • Fokus pada sense of ownership melalui empat alur: listen, learn, adapt, dan measure.
  • Keberhasilan diukur dari kemandirian jangka panjang, bukan sekadar angka partisipasi.

Senior GM Human Resource & Corporate Secretary PT EastWestSeedIndonesia (EWINDO), Faisal Reza, menegaskan bahwa masyarakat harus diperlakukan sebagai mitra, bukan sekadar penerima manfaat (beneficiaries) dalam setiap inisiatif community development. Ia menyampaikan pandangan tersebut pada panel BangunBangsaConference2026 yang bertajuk SustainableCommunityGrowth di Menara Bank Mega, Jakarta, Kamis (6/8).

Menurut Faisal, keberhasilan program tidak dapat dipisahkan dari rasa kepemilikan yang tumbuh melalui kolaborasi. "Itulah kenapa kami tidak menyebut mereka sebagai beneficiaries atau penerima manfaat, tapi kami menempatkan mereka sebagai mitra. Karena mindset mitra ada fungsi ownership‑nya, kita mendesain program ini bersama‑sama untuk kolaborasi (co‑creation)," ujarnya.

Ia memaparkan empat alur utama yang menjadi fondasi keberlanjutan program pemberdayaan:

  • Listen: Mendengarkan kebutuhan riil masyarakat.
  • Learn: Mengambil pelajaran dari kondisi lapangan.
  • Adapt: Menyesuaikan desain program dengan konteks lokal.
  • Measure: Mengukur dampak bukan sekadar output.

Faisal menegaskan bahwa tolok ukur utama bukanlah angka partisipasi melainkan kemandirian jangka panjang. "Yang paling penting ukurannya adalah bagaimana para mitra ini memiliki long‑term capabilities, sehingga mereka mempunyai tingkat kemandirian yang cukup apabila kita menyelesaikan program ini," pungkasnya.

Analisis Pakar

Sebagai pakar ekonomi makro, saya melihat perubahan paradigma EWINDO ini sebagai langkah strategis yang selaras dengan tren global menuju inclusive growth. Mengubah posisi warga dari sekadar penerima manfaat menjadi mitra aktif meningkatkan efficiency alokasi sumber daya karena program yang dirancang bersama cenderung lebih tepat sasaran dan mengurangi risiko kegagalan implementasi.

Empat alur yang diusung – listen, learn, adapt, measure – sebenarnya merupakan kerangka kerja yang mirip dengan design thinking. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat social capital tetapi juga menciptakan human capital yang lebih resilient. Dari perspektif bisnis, perusahaan yang mengintegrasikan model co‑creation dengan komunitas dapat membuka peluang baru, misalnya dalam pengembangan varietas benih yang lebih sesuai dengan kondisi mikro‑iklim lokal, yang pada gilirannya meningkatkan produktivitas pertanian dan profitabilitas perusahaan.

Namun, tantangan terbesar tetap pada pengukuran dampak. Tanpa metrik yang transparan dan berkelanjutan, klaim kemandirian dapat menjadi sekadar narasi pemasaran. Oleh karena itu, EWINDO perlu mengadopsi standar internasional seperti Social Return on Investment (SROI) atau Impact Management Project (IMP) untuk memvalidasi hasil secara objektif.

Jika berhasil, model ini dapat menjadi blueprint bagi sektor agribisnis Indonesia, memperkuat ekosistem pertanian yang inklusif, sekaligus menambah nilai bagi pemangku kepentingan – dari petani kecil hingga investor institusional yang semakin menuntut CSR yang terukur.

Model kolaboratif ini juga sejalan dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan kemandirian masyarakat secara luas. Sebagai contoh, inisiatif program bedah rumah yang digulirkan pemerintah tahun ini menunjukkan bagaimana sinergi antara sektor publik dan swasta dapat mempercepat pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa EWINDO menolak istilah "beneficiaries"?
    A: Karena istilah tersebut menempatkan warga sebagai penerima pasif, sedangkan EWINDO ingin menumbuhkan rasa kepemilikan dan kolaborasi aktif.
  • Q: Apa saja empat alur utama dalam program pemberdayaan EWINDO?
    A: Listen (mendengarkan), Learn (belajar), Adapt (menyesuaikan), dan Measure (mengukur) – semua diarahkan pada pencapaian kemandirian jangka panjang.
  • Q: Bagaimana keberhasilan program diukur selain angka partisipasi?
    A: Keberhasilan diukur dari peningkatan kemampuan mandiri (long‑term capabilities) masyarakat, yang dapat diverifikasi melalui metrik ESG atau SROI.
Meow! Tanya Nesi!
😾