Latihan Gabungan TNI 2026: Pamer Drone Kamikaze, Rudal C-705, dan Janji Kemandirian yang Dipertanyakan

Politik
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Latihan Gabungan TNI 2026: Pamer Drone Kamikaze, Rudal C-705, dan Janji Kemandirian yang Dipertanyakan
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Operasi TNI Terintegrasi 2026 digelar di Dabo Singkep, Riau, menampilkan drone kamikaze AKM KI-50, rudal C-705, serta pesawat Rafale dan F-16.
  • Latihan melibatkan unsur udara, laut, darat, siber, dan pasukan khusus, sekaligus menyoroti produk pertahanan dalam negeri.
  • Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menegaskan kesiapan TNI, namun kritik menyoroti transparansi, biaya, dan efektivitas taktik modern.

Dalam rangka menegaskan kembali kesiapan militer Indonesia, TNI melaksanakan Operasi TNI Terintegrasi 2026 di kawasan latihan Dabo Singkep, Kepulauan Riau, pada Rabu (5/8). Latihan ini menampilkan rangkaian simulasi tempur yang mencakup drone kamikaze AKM KI-50 buatan dalam negeri, penembakan rudal C-705 dari KRI Sampari-628, serta operasi udara dengan pesawat Rafale dan F-16 bermuatan bom MK-82.

Latihan dipimpin langsung oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Panglima TNI, serta para Kepala Staf Angkatan. Menurut Dinas Penerangan Angkatan Laut, skenario ini menggabungkan teknologi modern—mulai dari Unmanned Surface Vehicle (USV) kamikaze yang diluncurkan dari KRI Soeharso-991, hingga operasi siber yang menargetkan instalasi listrik musuh—dengan taktik tradisional seperti infiltrasi pasukan khusus Kopaska dan sabotase kabel bawah laut.

Bagian laut melibatkan serangkaian tembakan Bantuan Tembakan Kapal (BTK) dari KRI Prabu Siliwangi-321, KRI Sultan Iskandar Muda-367, dan KRI Raden Eddy Martadinata-331, serta peluncuran Multi Launcher Rocket System (MLRS) oleh Korps Marinir. Di darat, pasukan Lintas Udara (Linud) TNI AD melakukan penerjunan tempur menggunakan Hercules C-130, sementara unit artileri dan drone intai menambah dimensi pengintaian.

Secara resmi, latihan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesiapan tempur gabungan dalam menghadapi ancaman modern. Namun, di balik pameran alutsista, muncul pertanyaan kritis: sejauh mana kemampuan ini dapat diintegrasikan secara real‑time di medan perang yang sesungguhnya? Apakah investasi besar pada platform seperti drone kamikaze dan USV sebanding dengan manfaat taktis yang dapat dihasilkan? Dan bagaimana transparansi penggunaan dana publik dalam proyek‑proyek pertahanan yang masih dalam tahap pengembangan?

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi, saya melihat latihan ini bukan sekadar demonstrasi kekuatan, melainkan panggung politik yang dirancang untuk menegaskan narasi kemandirian pertahanan Indonesia. Penggunaan produk dalam negeri—seperti AKM KI-50—menjadi simbol kebanggaan, namun kualitas, keandalan, dan interoperabilitasnya masih jauh dari standar militer Barat. Tanpa uji coba lapangan yang memadai, klaim “kemandirian” dapat berujung pada ketergantungan pada teknologi asing yang masih menjadi komponen utama dalam sistem persenjataan.

Selanjutnya, integrasi antara unsur udara, laut, darat, dan siber menuntut infrastruktur command‑and‑control (C2) yang sangat canggih. Hingga kini, belum ada bukti publik bahwa TNI memiliki jaringan C2 yang mampu mengelola simultanitas serangan siber, operasi laut, dan penerjunan udara tanpa mengalami latensi kritis. Kegagalan dalam hal ini dapat berakibat fatal, terutama bila menghadapi lawan yang menguasai perang elektronik.

Aspek biaya juga tak boleh diabaikan. Latihan berskala besar dengan platform premium seperti Rafale, USV kamikaze, dan MLRS menelan anggaran yang signifikan. Di tengah tekanan ekonomi nasional, alokasi dana pertahanan harus dipertanggungjawabkan secara transparan. Tanpa audit independen, publik berhak menuntut klarifikasi mengenai efisiensi belanja dan prioritas strategis.

Akhirnya, latihan ini menimbulkan pertanyaan tentang strategi pertahanan jangka panjang. Apakah Indonesia beralih ke doktrin asimetris yang mengandalkan senjata kamikaze dan serangan siber, atau tetap mengedepankan kemampuan konvensional? Keputusan ini akan menentukan arah pengembangan industri pertahanan domestik dan posisi geopolitik Indonesia di kawasan Asia‑Pasifik.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa tujuan utama Operasi TNI Terintegrasi 2026?
    A: Menunjukkan kemampuan gabungan tiga matra (udara, laut, darat) serta menguji integrasi teknologi modern seperti drone kamikaze, USV, dan operasi siber.
  • Q: Drone kamikaze AKM KI-50 buatan dalam negeri sudah siap pakai?
    A: Masih dalam tahap pengembangan; latihan ini lebih bersifat demonstrasi konseptual daripada uji coba operasional penuh.
  • Q: Bagaimana dampak latihan ini terhadap anggaran pertahanan Indonesia?
    A: Latihan berskala besar memerlukan dana signifikan, namun rincian anggaran belum dipublikasikan secara transparan, memicu pertanyaan publik tentang efisiensi belanja.
Meow! Tanya Nesi!
😾