Rekor Baru! Pengangguran RI Tembus Level Terendah Sejak Era Orde Baru, Apa Makna di Balik Angka Ini?

Ekonomi & Pasar
Dian KusumaDian Kusuma
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Rekor Baru! Pengangguran RI Tembus Level Terendah Sejak Era Orde Baru, Apa Makna di Balik Angka Ini?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) RI turun ke angka 4,65%, level terendah sejak era Soeharto.
  • Sektor manufaktur (furnitur, tekstil, alas kaki) dan jasa (akomodasi, transportasi) menjadi motor utama penyerapan tenaga kerja.
  • Pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya permintaan pasar global terhadap komoditas dan produk manufaktur Indonesia.

Jakarta — Indonesia mencatatkan pencapaian fenomenal dalam struktur ketenagakerjaan nasional. Berdasarkan data terbaru, jumlah pengangguran di tanah air menyusut drastis menjadi 7,22 juta orang pada Mei 2026. Angka ini menempatkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) Indonesia pada posisi 4,65%, sebuah level terendah yang belum pernah terlihat sejak era pemerintahan Soeharto.

Mengutip ulasan dalam program Squawk Box, Economist CNBC Indonesia, Maesaroh, menjelaskan bahwa momentum ini tidak lepas dari performa kuat sejumlah sektor yang menjadi tulang punggung PDB RI. Sektor manufaktur seperti furnitur, alas kaki, hingga tekstil menunjukkan tren positif seiring dengan menguatnya permintaan dari pasar global.

Secara lebih spesifik, BPS mencatat bahwa penyerapan tenaga kerja paling masif terjadi pada sektor akomodasi makanan dan minuman, transportasi, pertambangan, penyimpanan makanan, serta sektor pertanian. Fenomena ini mengindikasikan adanya pergeseran sekaligus penguatan pada sektor-sektor jasa dan ekstraktif yang mampu menyerap tenaga kerja dalam skala besar.

Analisis Pakar

Sebagai pengamat ekonomi, saya melihat angka 4,65% ini adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, secara statistik ini adalah kemenangan besar bagi kebijakan makroekonomi kita. Mencapai level pengangguran terendah sejak era Orde Baru menunjukkan bahwa mesin pertumbuhan ekonomi kita, terutama di sektor manufaktur dan jasa, sedang bekerja pada kapasitas yang optimal untuk menyerap tenaga kerja. Namun, kita tidak boleh hanya terpaku pada angka permukaan tanpa membedah kualitas pekerjaan yang tercipta.

Poin kritis yang harus kita perhatikan adalah job quality atau kualitas pekerjaan. Meskipun angka pengangguran turun, kita harus waspada terhadap fenomena 'underemployment' atau setengah penganggur. Apakah penyerapan di sektor akomodasi dan transportasi ini merupakan pekerjaan formal dengan gaji layak dan jaminan sosial, ataukah hanya pekerjaan sektor informal yang bersifat musiman? Jika pertumbuhan ini hanya didorong oleh sektor informal yang tidak stabil, maka ketahanan ekonomi kita terhadap guncangan global tetap akan rentan.

Selain itu, ketergantungan pada permintaan global di sektor furnitur dan tekstil menunjukkan bahwa ekonomi kita masih sangat sensitif terhadap dinamika geopolitik dan daya beli konsumen di luar negeri. Jika terjadi resesi global atau proteksionisme perdagangan meningkat, sektor-sektor yang menjadi penyerap tenaga kerja utama ini akan menjadi yang paling pertama terdampak. Kita perlu mendorong diversifikasi ekonomi agar tidak hanya bergantung pada sektor yang sangat bergantung pada ekspor.

Terakhir, saya melihat adanya pola menarik di mana sektor transportasi dan akomodasi tumbuh pesat. Ini adalah sinyal kuat bahwa konsumsi domestik dan mobilitas masyarakat sedang berada di puncak. Pemerintah dan pelaku bisnis harus memastikan bahwa infrastruktur pendukung dan stabilitas harga kebutuhan pokok tetap terjaga, agar daya beli yang mendorong sektor-sektor ini tidak tergerus oleh inflasi yang tidak terkendali.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Mengapa angka pengangguran bisa turun drastis?
A: Penurunan ini didorong oleh meningkatnya permintaan global pada sektor manufaktur (tekstil, furnitur) serta pertumbuhan pesat di sektor jasa seperti transportasi dan akomodasi.

Q: Apakah ini berarti ekonomi Indonesia sedang sangat sehat?
A: Secara statistik, ini indikator positif, namun perlu dilihat lebih dalam apakah pekerjaan yang tercipta adalah pekerjaan formal yang stabil atau sekadar pekerjaan informal.

Q: Sektor apa yang paling banyak menyerap tenaga kerja saat ini?
A: Sektor akomodasi makanan dan minuman, transportasi, pertambangan, penyimpanan makanan, dan pertanian.

Meow! Tanya Nesi!
😾