Bayi di Korea Buka Rekening Investasi: Tren Baru yang Mengguncang Pasar Modal

Ekonomi & Pasar
Siti AmaliaSiti Amalia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Bayi di Korea Buka Rekening Investasi: Tren Baru yang Mengguncang Pasar Modal
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Rekening investasi untuk bayi di Korea Selatan melonjak hampir tiga kali lipat dalam setahun, mencapai 15.000 akun untuk usia <1 tahun.
  • Orang tua mengalokasikan 300.000‑400.000 won per bulan ke ETF S&P 500 dan saham semikonduktor, memanfaatkan efek bunga majemuk sejak lahir.
  • Dukungan regulasi (pembukaan rekening jarak jauh, hibah bebas pajak hingga 20 juta won) serta insentif perusahaan sekuritas mempercepat adopsi tren ini.

Fenomena pembukaan rekening investasi untuk bayi kini menjadi arus utama di Korea Selatan. Pasangan Lee Hye-won dan suaminya menekankan bahwa durasi investasi lebih krusial daripada besaran modal. Mereka rutin menanamkan antara 300.000‑400.000 won (sekitar Rp3,9‑5,2 juta) tiap bulan ke ETF yang melacak indeks S&P 500, mengandalkan kekuatan bunga majemuk selama puluhan tahun ke depan.

Tak hanya pasangan Lee, Lee Jun-hyeok, seorang karyawan kantoran, memilih menanamkan dana pada sektor semikonduktor domestik serta saham teknologi AI di Amerika. "Saya ingin memberi 'hadiah waktu' kepada anak saya," ujarnya, menegaskan bahwa investasi sejak lahir menjadi strategi jangka panjang untuk membangun kekayaan.

Data Mirae Asset Securities, broker terbesar di Korea berdasarkan kapitalisasi pasar, mengungkapkan bahwa akun sekuritas untuk anak di bawah satu tahun hampir tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai 15.000 rekening pada Juni. Sementara itu, akun untuk anak di bawah sembilan tahun naik hampir 60 % menjadi 185.000.

Profesor ekonomi Jae-joon Woo dari DePaul University memperkirakan tren ini akan terus berlanjut meski volatilitas pasar meningkat. Menurutnya, pergeseran preferensi dari properti ke ekuitas menandakan perubahan paradigma investasi di kalangan generasi muda Korea.

Faktor pajak juga memperkuat daya tariknya. Korea memberlakukan pajak progresif hingga 45 % pada keuntungan properti yang dimiliki kurang dari dua tahun, bahkan mencapai 70 % untuk properti jangka pendek. Sebaliknya, keuntungan modal dari penjualan saham domestik umumnya bebas pajak bagi investor ritel, kecuali mereka adalah pemegang saham utama.

Selain itu, kebijakan hibah memungkinkan orang tua memberikan hingga 20 juta won (sekitar Rp360 juta) kepada anak di bawah umur tanpa pajak selama periode 10 tahun, yang dapat langsung diinvestasikan ke saham atau ETF. Ini menjadikan rekening anak tidak hanya sebagai sarana menabung, melainkan sebagai kendaraan akumulasi aset sejak dini.

Perusahaan sekuritas dan regulator turut mempercepat adopsi. KakaoPay Securities berencana memberikan saham senilai 100.000 won (sekitar Rp1,8 juta) kepada setiap bayi yang lahir tahun depan. Sejak 2023, otoritas keuangan mengizinkan pembukaan rekening investasi anak secara remote melalui aplikasi seluler, menghilangkan hambatan administratif.

Analisis Pakar

Sebagai seorang ekonom makro, saya melihat tiga dimensi utama yang menjelaskan mengapa tren ini melaju cepat. Pertama, struktur demografis Korea yang menua menuntut strategi akumulasi kekayaan yang lebih efisien. Dengan tingkat kelahiran yang rendah, orang tua berupaya memaksimalkan setiap unit manusia sebagai aset jangka panjang, memanfaatkan efek compounding sejak usia balita.

Kedua, pergeseran alokasi aset dari properti ke ekuitas mencerminkan kelelahan pasar perumahan yang semakin terjangkau hanya bagi kalangan atas. Pajak properti yang tinggi dan regulasi ketat membuat investasi properti kurang menarik, sementara pasar saham—terutama yang terdiversifikasi secara global—menawarkan likuiditas dan potensi pertumbuhan yang lebih tinggi.

Ketiga, inovasi regulasi fintech memperluas aksesibilitas. Pembukaan rekening via ponsel dan batas hibah bebas pajak menciptakan ekosistem yang ramah bagi investor ritel. Ini bukan sekadar kebijakan pajak melainkan strategi pemerintah untuk meningkatkan partisipasi pasar modal, yang pada gilirannya dapat memperdalam likuiditas dan menurunkan biaya modal bagi perusahaan.

Namun, ada risiko yang perlu diwaspadai. Ketergantungan pada ETF S&P 500 mengekspose portofolio anak pada volatilitas pasar Amerika, yang dapat berfluktuasi tajam dalam jangka menengah. Diversifikasi lintas kelas aset dan wilayah geografis tetap penting, terutama mengingat potensi korelasi tinggi antara pasar ekuitas global dalam kondisi krisis.

Secara keseluruhan, tren ini menandai evolusi budaya keuangan Korea: dari konservatisme properti ke mentalitas investasi jangka panjang yang berorientasi pada pertumbuhan. Bagi pelaku industri, ini membuka peluang bagi penyedia layanan wealth‑tech, produk reksa dana anak, dan platform edukasi keuangan yang dapat menyiapkan generasi berikutnya menjadi investor yang cerdas.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa batas hibah bebas pajak untuk anak di Korea?
    A: Orang tua dapat memberikan hingga 20 juta won (sekitar Rp360 juta) per anak dalam periode 10 tahun tanpa dikenakan pajak.
  • Q: Mengapa ETF S&P 500 menjadi pilihan utama bagi orang tua Korea?
    A: ETF S&P 500 menawarkan diversifikasi global, biaya rendah, dan eksposur ke perusahaan terbesar di AS, cocok untuk strategi jangka panjang dengan efek bunga majemuk.
  • Q: Apakah keuntungan dari penjualan saham di Korea dikenakan pajak?
    A: Untuk investor ritel, keuntungan modal dari penjualan saham yang terdaftar di bursa domestik biasanya tidak dikenakan pajak, kecuali pemegang saham utama.
Meow! Tanya Nesi!
😸