Bernardo Tavares Bawa Persebaya Juara Piala Presiden 2026: Drama Penalty 6‑5 yang Mengguncang!
Mantan jurnalis olahraga yang kini berfokus pada analisis taktik sepak bola lokal maupun Eropa.

Ringkasan Singkat
- Persebaya Surabaya menjuarai Piala Presiden 2026 setelah mengalahkan Persib Bandung lewat adu penalti 6‑5.
- Gol pembuka datang dari M. Ramadhan Sananta, namun Persib cepat balas lewat Patricio Matricardi, membuat skor akhir 1‑1 sebelum babak tambahan.
- Pelatih asal Portugal, Bernardo Tavares, mengungkapkan kebahagiaan dan tantangan taktis di final yang digelar tanpa penonton di Stadion Kapten I Wayan Dipta.
Dalam laga final yang menegangkan namun tanpa sorotan penonton, Persebaya Surabaya berhasil menorehkan sejarah baru dengan mengangkat trofi Piala Presiden 2026. Gol pertama datang dari M Ramadhan Sananta pada menit ke‑20, memanfaatkan umpan silang tajam dari Rachmat Irianto. Namun, hanya tiga menit kemudian, Patricio Matricardi menyamakan kedudukan untuk Persib Bandung, menjadikan skor 1‑1 hingga akhir waktu normal.
Tanpa ada gol tambahan di babak perpanjangan, pertandingan beralih ke adu penalti. Di titik krusial, Reza Arya menggantikan Ernando Ari pada babak kedua dan menahan dua tendangan keras lawan, membuka jalan bagi Persebaya menutup laga dengan kemenangan 6‑5. Bernardo Tavares tak dapat menahan senyum lebar, mengakui bahwa meski pernah mengalami kegagalan, hari itu menjadi bukti kebangkitan timnya.
"Kami memang memiliki peluang lebih banyak, namun intensitas final ini terasa kurang karena jeda pemulihan yang tidak seimbang," ujar Tavares. Ia menambahkan, "Persib bermain di sore hari semifinal, sementara kami baru bertanding di malam hari, jadi waktu istirahat kami jelas lebih singkat." Meski begitu, semangat pemain tetap tinggi, dan trofi pertama dalam 22 tahun akhirnya kembali ke tangan Bajul Ijo.
Analisis Pakar
Sebagai pengamat yang telah menyaksikan evolusi taktik sepak bola Indonesia, saya melihat keberhasilan Persebaya Surabaya bukan sekadar kebetulan. Bernardo Tavares berhasil menanamkan filosofi permainan menyerang yang fleksibel, memanfaatkan kecepatan sayap dan ketajaman akhir. Umpan silang Rachmat Irianto yang menghasilkan gol Sananta adalah contoh sempurna dari transisi cepat dari pertahanan ke serangan, sebuah pola yang sering diabaikan oleh tim-tim lokal.
Namun, yang paling menonjol adalah manajemen psikologis pada fase adu penalti. Mengganti Ernando Ari dengan Reza Arya pada menit-momen kritis menunjukkan keberanian taktis yang jarang terlihat di kompetisi domestik. Keputusan ini tidak hanya menambah elemen kejutan, tetapi juga menurunkan tekanan pada penendang utama Persib. Penjagaan dua tendangan lawan oleh Reza menandakan persiapan mental yang matang, sesuatu yang biasanya hanya ditemukan pada tim-tim yang berpengalaman di level internasional.
Di sisi lain, Persib Bandung tampak terhambat oleh jadwal yang tidak seimbang. Kekurangan waktu pemulihan memaksa mereka bermain dengan intensitas yang menurun, terutama pada babak tambahan. Hal ini menyoroti pentingnya perencanaan logistik dalam turnamen singkat, di mana faktor kebugaran dapat menjadi penentu akhir.
Terakhir, kemenangan ini menandai berakhirnya masa gelap 22 tahun tanpa trofi besar bagi Persebaya. Ini bukan hanya soal trofi, melainkan perubahan budaya klub yang kini mengadopsi standar profesionalisme ala Eropa. Jika tren ini terus berlanjut, kita dapat menyaksikan Persebaya menjadi kekuatan dominan tidak hanya di kompetisi domestik, tetapi juga di kancah Asia.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Bagaimana cara Persebaya mengeksekusi gol pembuka di final?
A: Gol datang dari M Ramadhan Sananta yang memanfaatkan umpan silang tajam Rachmat Irianto pada menit ke‑20. - Q: Siapa yang menyelamatkan Persebaya di adu penalti?
A: Penjaga gawang Reza Arya menggagalkan dua tendangan penalti Persib, menjadi kunci kemenangan. - Q: Berapa lama Persebaya tidak memenangkan trofi besar sebelum ini?
A: Selama 22 tahun, sejak terakhir kali mengangkat trofi utama pada era awal 2000-an.


