BRIN Luncurkan ANG: Teknologi Pengganti LPG yang Bisa Menghemat Rp26 Triliun per Tahun

Ekonomi & Pasar
Dian KusumaDian Kusuma
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

BRIN Luncurkan ANG: Teknologi Pengganti LPG yang Bisa Menghemat Rp26 Triliun per Tahun
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • BRIN mengembangkan teknologi Absorbed Natural Gas (ANG) yang menyimpan gas pada tekanan 30 bar, jauh lebih rendah dari CNG konvensional.
  • Jika diadopsi secara nasional, ANG diproyeksikan mengurangi beban subsidi LPG hingga Rp26 triliun per tahun.
  • Uji coba akan selesai akhir 2026 dan target komersialisasi pada 2027, dengan dukungan penuh Presiden Prabowo Subianto dan Kementerian ESDM.

Dalam sebuah pertemuan eksklusif di Istana Kepresidenan, Arif Satria, Kepala BRIN, memaparkan progres teknologi Absorbed Natural Gas (ANG) kepada Presiden Prabowo Subianto bersama 150 peneliti. ANG memanfaatkan Metal Organic Framework (MOF) untuk menyimpan gas alam pada tekanan sekitar 30 bar—sejauh mana tekanan ini lebih rendah dibandingkan dengan sistem CNG tradisional.

Penemuan MOF yang dipelopori oleh ilmuwan Jepang Susumu Kitagawa, peraih Nobel Kimia 2021, menjadi basis riset BRIN. BRIN bahkan telah mendirikan sister‑lab bersama Kitagawa di Indonesia untuk mempercepat transfer teknologi. Menurut perhitungan awal, satu tabung ANG dengan kapasitas setara 3 kg LPG dapat memperpanjang masa pakai dari 10 hari menjadi 15 hari, artinya efisiensi penyimpanan meningkat 50%.

Arif menegaskan bahwa meski masih dalam fase uji coba pada sektor HOREKA (Hotel, Restoran, dan Katering), potensi penghematan subsidi energi nasional sangat signifikan. "Jika teknologi ini diadopsi secara luas, beban subsidi LPG dapat turun hingga Rp26 triliun per tahun," ujarnya. Presiden dan Menteri Bahlil Lahadalia telah diberi pengarahan untuk mempercepat implementasi, dengan catatan bahwa selain menghemat devisa, ANG juga meningkatkan cadangan gas domestik.

BRIN menargetkan selesainya uji coba pada akhir 2026, sehingga produksi massal dapat dimulai pada 2027. Jika berhasil, Indonesia akan memiliki alternatif energi yang lebih bersih, lebih murah, dan lebih mandiri, mengurangi ketergantungan pada impor LPG.

Analisis Pakar

Secara makroekonomi, pengenalan ANG dapat menjadi katalisator penting dalam menurunkan defisit perdagangan energi Indonesia. Saat ini, impor LPG menyerap sekitar US$5‑6 miliar per tahun, yang sebagian besar dibebankan pada subsidi pemerintah. Mengalihkan beban ini ke teknologi domestik tidak hanya mengurangi beban fiskal, tetapi juga memperkuat neraca perdagangan dengan menurunkan kebutuhan devisa.

Dari perspektif bisnis, peluang investasi di rantai nilai ANG sangat luas. Mulai dari produksi MOF, manufaktur tabung penyimpanan, hingga integrasi dengan jaringan distribusi gas alam. Investor swasta dan BUMN dapat memanfaatkan skema Public‑Private Partnership (PPP) untuk mempercepat komersialisasi, terutama mengingat dukungan politik yang kuat dari Presiden dan Kementerian ESDM.

Namun, ada tantangan signifikan yang harus diatasi. Pertama, skala produksi MOF masih terbatas dan biaya bahan baku relatif tinggi. Kedua, regulasi keamanan penyimpanan gas pada tekanan rendah namun volume tinggi memerlukan standar baru yang belum ada. Ketiga, adopsi di sektor HOREKA harus diikuti oleh edukasi konsumen dan pelatihan teknis bagi operator.

Jika BRIN dapat mengatasi hambatan tersebut, ANG berpotensi menjadi platform energi transisi yang menghubungkan gas alam konvensional dengan energi terbarukan. Dalam jangka panjang, teknologi ini dapat membuka pintu bagi integrasi hidrogen terkompresi atau teradsorpsi, memperluas portofolio energi bersih Indonesia.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa perbedaan utama antara ANG dan CNG?
  • A: ANG menyimpan gas pada tekanan sekitar 30 bar menggunakan material MOF, sedangkan CNG biasanya disimpan pada tekanan 200‑250 bar, sehingga ANG lebih aman dan lebih efisien dalam ruang penyimpanan.
  • Q: Kapan teknologi ANG akan tersedia untuk konsumen umum?
  • A: Uji coba diperkirakan selesai akhir 2026, dengan peluncuran komersial awal 2027, tergantung pada hasil sertifikasi keamanan dan regulasi.
  • Q: Bagaimana ANG dapat mengurangi beban subsidi LPG?
  • A: Dengan menggantikan LPG konvensional, ANG dapat menurunkan impor LPG dan mengurangi subsidi pemerintah hingga diproyeksikan Rp26 triliun per tahun.
Meow! Tanya Nesi!
😸