Daihatsu Gagal Tergeser: Strategi First‑Car Buyer Menghadapi Gelombang Mobil China

Ekonomi & Pasar
Dian KusumaDian Kusuma
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Daihatsu Gagal Tergeser: Strategi First‑Car Buyer Menghadapi Gelombang Mobil China
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Daihatsu tetap menargetkan pembeli mobil pertama (first‑car buyer) meski masuknya merek‑merek China semakin agresif.
  • Strategi perusahaan menekankan ekosistem kepemilikan lengkap: jaringan penjualan, pembiayaan fleksibel, layanan purna jual, dan nilai jual kembali yang kuat.
  • Model hybrid Rocky Hybrid telah mencatat sekitar 800 SPK, namun pasokan masih terbatas karena masih berstatus CBU.

Masuknya semakin banyak merek otomotif asal China ke Indonesia tidak dipandang sebagai ancaman oleh PT Astra Daihatsu Motor (ADM). Di tengah persaingan yang semakin ketat, Daihatsu justru memilih mempertahankan fokus pada pasar pembeli mobil pertama atau first‑car buyer yang selama ini menjadi basis konsumennya.

Segmen tersebut dinilai masih memiliki potensi besar karena mayoritas konsumennya berasal dari pengguna sepeda motor yang ingin naik kelas menjadi pemilik mobil. Karena itu, strategi perseroan tidak hanya bertumpu pada produk, tetapi juga membangun ekosistem kepemilikan kendaraan yang mudah dijangkau sejak proses pembelian hingga penjualan kembali.

Rokky Irvayandi, Marketing Director & Corporate Function Director PT Astra Daihatsu Motor, menyatakan kehadiran pemain baru justru menjadi sinyal positif bagi perkembangan industri otomotif nasional. Menurutnya, Daihatsu memiliki posisi pasar yang berbeda dibanding sebagian besar merek pendatang.

"Sebenarnya kalau kami melihat hadirnya banyak merek baru itu bagus untuk industri otomotif Indonesia. Daihatsu sendiri fokus di segmen first‑car buyer, yaitu konsumen yang membeli mobil pertama dan sekitar 90% merupakan pengguna sepeda motor yang naik kelas menjadi pemilik mobil. Konsumen seperti ini tidak hanya mempertimbangkan produknya, tetapi juga kemudahan dalam memiliki kendaraan," ujar Rokky pada Jumat (7/9/2026).

Daihatsu menilai keputusan membeli mobil pertama sangat dipengaruhi berbagai faktor di luar spesifikasi kendaraan. Jaringan penjualan, pembiayaan, layanan purnajual hingga nilai jual kembali menjadi pertimbangan penting bagi konsumen yang baru memasuki pasar otomotif roda empat.

"Harga tentu harus terjangkau, tetapi beyond product juga sangat penting. Outlet harus mudah ditemukan, pilihan pembiayaan fleksibel, produknya tangguh dan efisien, bengkel mudah dijangkau, suku cadang gampang didapat dengan harga yang tetap terjangkau, sampai akhirnya mudah dijual kembali. Produk Daihatsu dikenal memiliki nilai jual kembali yang masih baik sehingga memudahkan konsumen ketika ingin naik ke segmen kendaraan berikutnya," tambahnya.

Di sisi lain, ADM juga membeberkan perkembangan penjualan Rocky Hybrid yang mulai diterima pasar sejak pertama kali diperkenalkan di Indonesia. Ketersediaan unit masih terbatas karena model tersebut masih didatangkan secara utuh dari luar negeri.

"Rocky Hybrid sampai saat ini sudah membukukan sekitar 800 SPK sejak pertama kali kami umumkan. Indennya masih sekitar satu bulan karena pasokannya memang terbatas mengingat model ini masih berstatus CBU. Namun penerimaan konsumen terhadap Rocky Hybrid cukup baik," ujar Rokky.

Persaingan di segmen hybrid juga semakin ramai dengan kehadiran sejumlah merek asal China yang menawarkan harga kompetitif. Meski demikian, Daihatsu tetap mengandalkan pendekatan yang menggabungkan produk dengan layanan kepemilikan sebagai pembeda di pasar.

"Kalau kami selalu menawarkan beyond product. Bukan hanya produknya, tetapi juga kemudahan saat membeli, kemudahan ketika menggunakan kendaraan, hingga kemudahan saat menjual kembali. Itulah yang terus kami komunikasikan kepada konsumen sebagai nilai tambah Daihatsu," tutupnya.

Analisis Pakar

Strategi Daihatsu yang menitikberatkan pada first‑car buyer bukan sekadar taktik defensif melawan masuknya mobil China; melainkan upaya menciptakan moat (benteng kompetitif) berbasis layanan. Di pasar Indonesia, transisi dari motor ke mobil masih menjadi jalur utama pertumbuhan penjualan mobil baru. Dengan menyiapkan jaringan dealer yang tersebar luas, pembiayaan yang terintegrasi melalui Astra Finance, serta program trade‑in yang menarik, Daihatsu mengunci nilai tambah yang sulit ditiru oleh pemain baru yang masih berfokus pada harga.

Selain itu, nilai jual kembali (resale value) menjadi faktor krusial bagi konsumen yang belum memiliki kebiasaan menabung untuk mobil. Daihatsu telah membangun reputasi keandalan dan ketersediaan suku cadang, yang secara langsung menurunkan total cost of ownership (TCO). Dalam konteks ekonomi makro Indonesia yang masih menghadapi inflasi dan ketidakpastian suku bunga, konsumen cenderung lebih sensitif terhadap TCO daripada sekadar harga jual.

Namun, tantangan terbesar tetap pada kecepatan adopsi teknologi hybrid. Model Rocky Hybrid masih berstatus CBU, sehingga biaya logistik dan bea masuk menambah beban harga akhir. Jika Daihatsu tidak dapat mempercepat transisi ke produksi lokal (CKD atau bahkan SKD), keunggulan harga kompetitif yang ditawarkan merek China akan semakin menggerus pangsa pasar.

Kesimpulannya, Daihatsu berada pada posisi yang menguntungkan selama ia terus mengoptimalkan ekosistem kepemilikan dan mempercepat lokalisasi produksi hybrid. Kegagalan dalam salah satu aspek tersebut dapat membuka celah bagi kompetitor China yang agresif dalam hal pricing dan inovasi produk.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa Daihatsu fokus pada pembeli mobil pertama?
    A: Karena segmen ini masih terbesar di Indonesia, dengan konsumen yang beralih dari motor ke mobil dan sangat memperhatikan kemudahan pembiayaan, layanan purna jual, serta nilai jual kembali.
  • Q: Berapa banyak unit Rocky Hybrid yang telah terjual?
    A: Hingga September 2026, Daihatsu mencatat sekitar 800 Surat Pemesanan Kendaraan (SPK) untuk Rocky Hybrid.
  • Q: Apakah mobil China mengancam posisi Daihatsu?
    A: Tidak secara langsung; mereka menargetkan segmen harga yang berbeda. Daihatsu tetap kompetitif lewat jaringan layanan dan nilai jual kembali yang kuat.
Meow! Tanya Nesi!
😸