Mariana Utara Menolak Rencana Penambangan Laut Dalam AS: Konflik Kedaulatan dan Lingkungan Meningkat
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Gubernur David Apatang menolak rencana Washington untuk melisensi eksplorasi tambang di laut dalam sekitar Kepulauan Mariana Utara.
- Rencana tersebut mencakup dua blok seluas masingâmasing 140.000 kmÂČ di timur dan barat Saipan, yang menimbulkan kekhawatiran tentang keamanan pangan dan ekosistem laut.
- Para kritikus mengingatkan bahwa penambangan laut dalam dapat menimbulkan dampak lingkungan permanen, sementara wilayah tersebut bergantung pada dukungan keuangan AS.
Gubernur Persemakmuran Kepulauan Mariana Utara, David Apatang, menyatakan tidak ada konsultasi dengan masyarakat setempat sebelum pemerintah Amerika Serikat mengumumkan rencana lelang wilayah laut untuk eksplorasi tambang. Menurutnya, keputusan mendadak tersebut menimbulkan kegelisahan luas di antara penduduk yang sangat bergantung pada sumber daya laut untuk mata pencaharian.
Pemerintah AS awalnya mengusulkan eksplorasi di blok seluas 140.000 kilometer persegi di sebelah timur Saipan. Namun, dalam perkembangan terbaru, blok serupa di sebelah barat Saipan juga dimasukkan dalam daftar lelang, memperluas area yang dipertanyakan oleh warga setempat.
Kekhawatiran utama meliputi potensi gangguan terhadap ketahanan pangan, karena banyak komunitas di Mariana Utara mengandalkan perikanan tradisional. Selain itu, wilayah lepas pantai tersebut berdekatan dengan kawasan konservasi seperti Atol Mawar, yang merupakan habitat penting bagi penyu sisik yang terancam punah.
Penambangan laut dalam menargetkan mineral seperti nikel, tembaga, dan kobalt yang terdapat dalam nodul polimetalik di dasar samudra. Namun, para ilmuwan dan aktivis lingkungan memperingatkan bahwa aktivitas ini dapat menyebabkan kerusakan ekosistem yang tidak dapat dipulihkan, termasuk pencemaran limbah, gangguan migrasi spesies laut, dan kebisingan yang merusak habitat.
Wilayah-wilayah seperti Guam, Kepulauan Mariana Utara, dan Samoa Amerika, yang secara administratif berada di bawah yurisdiksi AS, menuntut setidaknya moratorium sementara terhadap penambangan laut dalam. Namun, ketergantungan finansial mereka pada Washington membuat posisi tawar mereka terbatas.
Analisis Pakar
Secara geopolitik, keputusan AS untuk membuka lelang wilayah laut dalam di kawasan Pasifik menandakan upaya memperkuat kehadiran strategisnya di tengah persaingan global atas sumber daya kritis. Dengan meningkatnya permintaan akan logam untuk teknologi bersih, Amerika Serikat berusaha mengamankan pasokan mineral yang selama ini didominasi oleh China. Namun, pendekatan topâdown tanpa melibatkan komunitas lokal berisiko menimbulkan ketegangan politik internal dan menurunkan legitimasi kebijakan luar negeri AS.
Dari perspektif hukum internasional, wilayah laut yang dimaksud termasuk zona ekonomi eksklusif (ZEE) yang berada di bawah kedaulatan negara terkait. Meskipun AS memiliki hak mengelola sumber daya di ZEE, prinsip free, prior and informed consent (FPIC) yang diakui dalam standar hak asasi manusia menuntut konsultasi yang bermakna dengan penduduk asli. Kegagalan memenuhi standar ini dapat membuka peluang bagi litigasi internasional atau tekanan diplomatik dari negaraânegara lain yang menyoroti isu lingkungan.
Lingkungan laut dalam masih relatif belum dipelajari, dan dampak penambangan pada ekosistem abyssal masih bersifat spekulatif. Namun, studi awal menunjukkan bahwa gangguan fisik dan kimia dapat mempengaruhi rantai makanan global, dengan konsekuensi yang meluas hingga ke perairan pesisir. Oleh karena itu, moratorium sementara yang diminta oleh komunitas setempat bukan sekadar tuntutan politik, melainkan langkah preventif yang berlandaskan prinsip kehatiâhatian (precautionary principle).
Ke depan, kebijakan AS harus menyeimbangkan kepentingan strategis dengan tanggung jawab lingkungan dan hak masyarakat adat. Pendekatan yang inklusif, misalnya melalui mekanisme konsultasi multistakeholder dan penilaian dampak lingkungan yang transparan, dapat mengurangi risiko konflik dan meningkatkan keberlanjutan eksplorasi sumber daya laut dalam.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Mengapa pemerintah AS ingin menambang laut dalam di sekitar Kepulauan Mariana Utara?
A: Amerika Serikat mencari sumber mineral kritis seperti nikel, tembaga, dan kobalt yang terdapat dalam nodul polimetalik di dasar laut untuk mendukung industri teknologi bersih dan mengurangi ketergantungan pada pemasok luar negeri. - Q: Apa dampak potensial penambangan laut dalam terhadap lingkungan setempat?
A: Penambangan dapat merusak habitat dasar laut, menghasilkan limbah berbahaya, mengganggu migrasi spesies, dan mengancam spesies terancam punah seperti penyu sisik. - Q: Apakah masyarakat lokal memiliki hak untuk menolak proyek ini?
A: Berdasarkan prinsip FPIC dan hukum internasional, komunitas adat berhak atas konsultasi yang bebas, sebelumnya, dan terinformasi sebelum proyek yang memengaruhi wilayah mereka dilaksanakan.


