Presiden Prabowo Bentuk Tim Gabungan untuk Revolusi Buku Sekolah: Tantangan Besar di Depan
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Presiden Prabowo Subianto membentuk tim lintas kementerian guna meningkatkan mutu buku ajar SD‑SMA.
- Tim akan membandingkan buku Indonesia dengan materi dari tujuh negara ASEAN, termasuk Thailand, Malaysia, dan Singapura.
- Fokus utama: menanamkan nilai nasionalisme, memperbaiki buku matematika, dan mengangkat kualitas buku bahasa Inggris, dengan output fisik dan digital.
JAKARTA, 7 Agustus 2024 – Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan pembentukan tim gabungan untuk menilai dan memperbaiki kualitas buku pelajaran mulai dari SD hingga SMA. Arahan ini disampaikan oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi pada Jumat (7/8), yang menegaskan bahwa tim akan menelaah buku‑buku dari Thailand, Malaysia, Brunei Darussalam, Timor‑Leste, Kamboja, Vietnam, dan Singapura sebagai tolok ukur.
Tim tersebut akan melibatkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdik‑T), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Tiga pilar utama yang ditekankan Presiden meliputi penguatan nilai nasionalisme dan kebangsaan, peningkatan kualitas buku matematika, serta perbaikan buku bahasa Inggris.
Menurut Prasetyo, materi pembelajaran harus disesuaikan dengan karakteristik peserta didik Indonesia, mengingat perbedaan konteks sosial‑ekonomi antara Indonesia dan negara‑negara yang bahasa Inggrisnya menjadi lingua franca. Pemerintah berencana, setelah kajian selesai, menyediakan buku ajar dalam bentuk fisik serta versi digital yang dapat diunduh dan diintegrasikan dengan Papan Interaktif Digital (PID) di sekolah.
Analisis Pakar
Inisiatif ini menandai langkah strategis yang jarang dilakukan oleh pemerintah sebelumnya. Membandingkan buku pelajaran dengan standar ASEAN memang tampak ambisius, namun tantangannya jauh lebih kompleks daripada sekadar menyalin konten. Pertama, kualitas buku tidak hanya ditentukan oleh isi materi, melainkan juga oleh metodologi pengajaran, ilustrasi, dan keterpaduan dengan kurikulum nasional. Kedua, upaya menanamkan nilai nasionalisme harus diimbangi dengan kebebasan berpikir kritis; terlalu menekankan ideologi dapat menurunkan objektivitas ilmiah.
Selanjutnya, fokus pada matematika dan bahasa Inggris memang tepat mengingat keduanya menjadi kunci kompetensi global. Namun, tanpa investasi pada pelatihan guru, infrastruktur, dan evaluasi berkelanjutan, perbaikan buku saja tidak akan menghasilkan peningkatan signifikan pada hasil belajar. Pemerintah perlu memastikan bahwa revisi buku diikuti oleh program pengembangan profesional bagi pendidik.
Terakhir, penyediaan versi digital melalui PID membuka peluang inovasi, tetapi juga menimbulkan risiko kesenjangan digital. Sekolah di daerah terpencil yang masih minim akses internet akan tetap tertinggal jika tidak ada kebijakan pendukung. Oleh karena itu, kebijakan ini harus diiringi dengan program infrastruktur broadband nasional yang merata.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa saja negara ASEAN yang akan dijadikan acuan dalam perbandingan buku?
A: Thailand, Malaysia, Brunei Darussalam, Timor‑Leste, Kamboja, Vietnam, dan Singapura. - Q: Tim gabungan melibatkan kementerian mana saja?
A: Kemdik‑T, Kemendikdasmen, Bappenas, dan BRIN. - Q: Bagaimana rencana pemerintah menyebarkan buku digital?
A: Buku digital akan dapat diunduh dan diintegrasikan ke dalam Papan Interaktif Digital (PID) di sekolah, selain disediakan dalam bentuk cetak.


