Sekolah Rakyat: Janji Pendidikan Gratis bagi 43.000 Anak Putus Sekolah, Tapi Apa Tantangannya?
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Letkol Teddy Indra Wijaya dorong anak putus sekolah kembali ke bangku dengan program Sekolah Rakyat.
- Acara di Politeknik Penerbangan Indonesia Curug dihadiri Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Wakil Menteri Agus Jabo Priyono.
- Program klaim telah menyalurkan pendidikan kepada sekitar 43.000 anak, namun masih ada pertanyaan soal pendanaan, kualitas, dan pengawasan.
Jakarta, 8 Agustus 2026 – Pada Sabtu (8/8/2026), Letkol Teddy Indra Wijaya, Sekretaris Kabinet, menyampaikan pesan keras kepada ribuan remaja yang pernah terpaksa meninggalkan sekolah. Dalam rangka Persiapan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 8, ia menekankan pentingnya kembali ke kelas dan menumbuhkan cita‑cita besar.
Acara yang digelar di Politeknik Penerbangan Indonesia Curug, Kabupaten Tangerang, Banten, tidak hanya menjadi panggung orasi politik. Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono turut hadir, menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan “gagasan langsung Presiden Prabowo Subianto” untuk menembus kesenjangan pendidikan.
Menurut Letkol Teddy, Sekolah Rakyat dirancang agar “yang tidak bersekolah bisa bersekolah, yang putus sekolah bisa melanjutkan, dan yang belum pernah sekolah sekalipun dapat masuk”. Ia menambahkan bahwa program ini bukan sekadar mengisi bangku kelas, melainkan “menyalakan kembali mimpi yang pernah padam”.
Data resmi menunjukkan bahwa hingga kini sekitar 43.000 anak telah terdaftar dalam program tersebut. Letkol Teddy memuji kerja Kementerian Sosial yang “senantiasa menjangkau anak‑anak yang sebelumnya terpinggirkan”. Namun, di balik angka tersebut, muncul sejumlah pertanyaan kritis: Bagaimana kualitas kurikulum yang disampaikan? Siapa yang menanggung biaya operasional asrama? Dan sejauh mana mekanisme pengawasan independen dapat menjamin akuntabilitas?
Gus Ipul menegaskan bahwa Sekolah Rakyat menargetkan keluarga paling tidak mampu, dengan model asrama yang “memenuhi kebutuhan siswa agar mereka dapat berkonsentrasi belajar”. Pernyataan ini menimbulkan spekulasi tentang beban fiskal negara, mengingat program serupa sebelumnya mengalami kendala pembiayaan dan penurunan mutu.
Para pengamat pendidikan menilai bahwa inisiatif ini, meski berniat mulia, harus diimbangi dengan monitoring yang transparan, audit independen, serta evaluasi berkelanjutan. Tanpa itu, risiko “program satu kali” yang menghilang setelah pemilihan berikutnya tetap mengintai.
Analisis Pakar
Sebagai seorang jurnalis investigasi, saya melihat dua sisi utama dari kebijakan ini. Pertama, niat politiknya jelas: menambah poin popularitas bagi pemerintahan Prabowo dengan menyoroti “pemberdayaan anak‑anak terpinggirkan”. Kedua, realitas implementasinya menuntut sumber daya yang tidak sedikit. Asrama, bahan ajar, tenaga pengajar, serta logistik di daerah‑daerah terpencil menuntut anggaran yang konsisten.
Pengawasan menjadi titik lemah yang paling menonjol. Selama dekade terakhir, program sosial yang dibiayai pemerintah sering kali terhambat oleh kurangnya transparansi dan akuntabilitas. Tanpa lembaga pengawas independen yang memiliki wewenang mengaudit keuangan dan kualitas pendidikan, kita berisiko melihat “sekolah” yang hanya menjadi label, bukan institusi pembelajaran yang sesungguhnya.
Selanjutnya, kualitas kurikulum harus dipertanyakan. Apakah Sekolah Rakyat mengadopsi standar nasional atau hanya menawarkan materi dasar? Anak‑anak yang sebelumnya putus sekolah membutuhkan pendekatan remedial yang intensif, bukan sekadar “kelas reguler”. Jika tidak, mereka tetap akan tertinggal ketika kembali ke dunia kerja.
Akhirnya, keberlanjutan program ini sangat bergantung pada komitmen lintas‑sesi pemerintahan. Jika dukungan politik berkurang, dana yang dialokasikan dapat dipotong, meninggalkan ribuan anak di tengah proses belajar. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat sipil, LSM, dan media untuk terus menuntut laporan periodik yang dapat diakses publik.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Siapa yang berhak mengikuti Sekolah Rakyat?
- A: Anak-anak dari keluarga tidak mampu, termasuk yang belum pernah bersekolah atau yang putus sekolah, dapat mendaftar melalui Kementerian Sosial.
- Q: Bagaimana cara pendanaan program ini?
- A: Pendanaan berasal dari APBN, dengan tambahan dukungan dari sponsor swasta dan donor internasional, namun detail alokasi anggaran belum dipublikasikan secara lengkap.
- Q: Apa mekanisme pengawasan kualitas pendidikan di Sekolah Rakyat?
- A: Saat ini, pengawasan dilakukan oleh Kementerian Sosial, namun belum ada lembaga independen yang melakukan audit rutin.


