Masjid Al‑Azhar Jakarta Gelar Salat Istisqa: Upaya Spiritual Atas Krisis Kekeringan El Nino

Agama
Maulana IbrahimMaulana Ibrahim
Sumber: CNN Nasional
Maulana Ibrahim
Maulana Ibrahim
Pakar Sejarah Islam

Mengulas sejarah kebudayaan Islam dan tokoh-tokoh penting dalam agama.

Masjid Al‑Azhar Jakarta Gelar Salat Istisqa: Upaya Spiritual Atas Krisis Kekeringan El Nino
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Masjid Al‑Azhar di Jakarta mengadakan Salat Istisqa untuk memohon hujan di tengah ancaman El Nino.
  • Kekeringan memperparah krisis air bersih dan memicu kebakaran hutan (karhutla) di beberapa wilayah Indonesia.
  • Acara ini menimbulkan perdebatan tentang peran institusi keagamaan dalam mengatasi masalah lingkungan yang memerlukan kebijakan publik.

Jakarta, 1 September 2026 – Pada sore hari ini, Masjid Al‑Azhar menggelar Salat Istisqa, doa khusus yang dipanjatkan untuk memohon turunnya hujan. Upacara keagamaan ini dilaksanakan sebagai respons simbolis terhadap dampak El Nino yang telah menimbulkan kekeringan meluas, menurunkan ketersediaan air bersih, dan memicu karhutla di sejumlah provinsi.

Ribuan umat berkumpul di halaman masjid, mengangkat tangan dan memanjatkan doa bersama para ulama. Mereka berharap hujan dapat mengembalikan keseimbangan ekosistem yang kini terancam. Namun, di balik harapan spiritual itu, muncul pertanyaan kritis: apakah doa semata cukup mengatasi krisis yang pada dasarnya bersifat struktural?

Para pengamat menilai bahwa aksi keagamaan ini mencerminkan keprihatinan masyarakat, namun sekaligus menyoroti kegagalan kebijakan pemerintah dalam mengelola sumber daya air dan mitigasi kebakaran hutan. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan curah hujan di wilayah Jabodetabek turun 30% dibandingkan rata‑rata tahunan, sementara tingkat kebakaran hutan meningkat 45% sejak awal tahun.

Selain itu, kritik muncul terkait penggunaan ruang publik untuk kegiatan keagamaan yang berpotensi menimbulkan polarisasi. Beberapa pihak menilai bahwa lembaga keagamaan seharusnya menjadi mitra strategis pemerintah, bukan sekadar pelaku simbolik. Tanpa dukungan kebijakan yang konkret—seperti revitalisasi waduk, penegakan hukum terhadap pembakaran lahan, dan investasi infrastruktur air bersih—doa tidak akan mengubah realitas di lapangan.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi, saya melihat fenomena Salat Istisqa di Jakarta sebagai cermin kegelisahan publik yang terpinggirkan oleh kebijakan yang lamban. Keagamaan memang memiliki peran penting dalam membangun solidaritas, namun ketika dijadikan satu‑satunya respons terhadap bencana alam, hal itu berisiko menutup mata pada akar permasalahan: degradasi lingkungan, urbanisasi tak terkendali, dan kurangnya investasi dalam infrastruktur air.

Penelitian terbaru dari Universitas Indonesia mengungkap bahwa 68% wilayah perkotaan di Pulau Jawa berada pada zona risiko kekeringan tinggi. Angka ini tidak hanya menimbulkan krisis air rumah tangga, tetapi juga memperparah konflik agraria antara petani dan pengembang. Oleh karena itu, peran Masjid Al‑Azhar seharusnya lebih dari sekadar memimpin doa; ia dapat menjadi platform advokasi yang menuntut transparansi alokasi anggaran mitigasi iklim.

Selanjutnya, pemerintah pusat dan daerah perlu mengintegrasikan kebijakan keagamaan dalam kerangka climate governance. Misalnya, dengan melibatkan tokoh agama dalam program edukasi konservasi air, atau mengalokasikan dana zakat untuk proyek rehabilitasi sungai. Pendekatan kolaboratif ini tidak hanya memperkuat legitimasi kebijakan, tetapi juga memobilisasi sumber daya sosial yang selama ini terabaikan.

Terakhir, masyarakat harus sadar bahwa doa tidak dapat menggantikan tindakan. Keterlibatan aktif dalam program penanaman kembali, pelaporan illegal logging, dan penghematan air di tingkat rumah tangga adalah langkah konkret yang dapat mempercepat pemulihan. Tanpa sinergi antara spiritualitas dan kebijakan publik, Indonesia akan terus terjebak dalam siklus kekeringan yang memperburuk ketimpangan sosial.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa itu Salat Istisqa?
    A: Salat Istisqa adalah shalat khusus dalam Islam yang dipanjatkan untuk memohon turunnya hujan ketika terjadi kekeringan.
  • Q: Mengapa Masjid Al‑Azhar menggelar istisqa sekarang?
    A: Karena fenomena El Nino memperparah kekeringan, mengurangi pasokan air bersih, dan meningkatkan risiko kebakaran hutan di Indonesia.
  • Q: Apa langkah konkret pemerintah untuk mengatasi krisis air selain doa?
    A: Pemerintah perlu mempercepat revitalisasi waduk, menegakkan hukum anti‑pembakaran lahan, dan meningkatkan investasi infrastruktur air bersih serta program edukasi konservasi.
Meow! Tanya Nesi!
😸