Tri Tito Karnavian Singgah di Ternate: Harta Tak Berguna Jika Sakit, Siswa Diingatkan Jauhi Rokok dan Narkoba
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Ketua Umum TP PKK dan Tim Pembina Posyandu, Tri Tito Karnavian, mengunjungi SMAN 2 Ternate dalam rangkaian senam sehat dan program Pokja 1.
- Ia menekankan pentingnya pola hidup sehat, olahraga, konsumsi makanan bergizi, serta menjauhi rokok dan narkoba bagi pelajar.
- Kegiatan melibatkan 250 siswa dari tiga sekolah, dilengkapi dengan cek kesehatan gratis, perekaman KTP elektronik, dan penyaluran bantuan sembako serta alat olahraga.
TERNATE — Tri Tito Karnavian, istri Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Umum Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) dan Ketua Umum Tim Pembina Posyandu, melaksanakan kunjungan kerja ke SMA Negeri 2 Kota Ternate, Maluku Utara, Kamis (3/9). Dalam kesempatan itu, ia memberikan orasi motivasi kepada para siswa tentang urgensi menjaga kesehatan sebagai modal dasar kehidupan.
Di hadapan sekitar 250 pelajar dari SMAN 2, SMKN 5, dan SMAN 10 Ternate, Tri menyampaikan bahwa TP PKK memiliki lebih dari enam juta kader yang tersebar hingga tingkat desa. Kunjungan ini merupakan bagian dari program Kelompok Kerja (Pokja) 1 yang berfokus pada pembinaan karakter keluarga, dengan salah satu pilar utamanya adalah kesadaran hidup sehat.
"Sebelum kita sakit, kita harus menjaga kesehatan, salah satunya adalah berolahraga," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Jumat (4/9). Ia menegaskan bahwa kesehatan bukan sekadar anugerah, melainkan kebutuhan mutlak yang sering diabaikan hingga tubuh benar-benar kolaps. Tri Tito Karnavian memberikan analogi tajam: "Sebanyak apa pun harta, sebesar apa pun rumah, dan sebanyak apa pun kendaraan, semuanya tidak berarti jika kondisi tubuh tidak sehat." Bahkan dengan jaminan kesehatan seperti BPJS, ia menantang para siswa, "Mau tidak tiap hari pergi ke rumah sakit? Dibayarin loh, mau tidak? Tidak mau, walaupun gratis, tidak ada yang mau."
Selain olahraga, ia mengimbau siswa mengatur pola konsumsi makanan sehat dan memanfaatkan fasilitas pemeriksaan kesehatan gratis dari pemerintah. Tak ketinggalan, ia mengingatkan bahaya rokok yang merusak paru-paru dan hanya menguntungkan industri, serta narkoba yang mengancam masa depan generasi muda. "Jika ada teman terindikasi narkoba, laporkan ke sekolah agar mendapat pertolongan," tegasnya.
Lebih jauh, Tri mengajak siswa untuk tidak terpaku pada popularitas di media sosial. Kebermanfaatan, katanya, bisa dimulai dari hal kecil: membantu orang tua, belajar sungguh-sungguh, memakai helm saat berkendara, dan menghindari tawuran. Ia juga mengingatkan agar media digital digunakan secara bijak—bukan sekadar hiburan, melainkan untuk menimba ilmu dan membuka peluang usaha. "Kewajiban kalian saat ini adalah belajar sebaik-baiknya, tetapi jangan hanya teori, karena fasilitas kini sangat mudah," pungkasnya.
Kegiatan Senam Sehat ini digelar berkolaborasi dengan Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia (Perwosi) Pusat, dan dirangkaikan dengan Cek Kesehatan Gratis serta layanan kependudukan (perekaman KTP elektronik pemula dan Kartu Identitas Anak). TP PKK juga menyalurkan 136 paket sembako untuk guru, paket alat olahraga bagi tiga sekolah, serta 250 kaus dan tas untuk siswa. Turut hadir istri Wakil Gubernur Maluku Utara, Rusni Sarbin, beserta jajaran pengurus TP PKK Provinsi Maluku Utara.
Analisis Pakar
Kunjungan Tri Tito Karnavian ke Ternate—meskipun berbalut kegiatan senam dan pembagian sembako—menyiratkan pesan politik dan sosial yang lebih dalam. Sebagai istri pejabat tinggi negara, kehadirannya di ruang publik sekolah menengah atas bukan sekadar seremonial. Ia membawa mandat dari program nasional TP PKK yang selama ini menjadi alat mobilisasi perempuan di akar rumput. Namun, yang patut dicermati adalah kesenjangan antara retorika hidup sehat dan realitas akses kesehatan di Maluku Utara, salah satu provinsi dengan angka stunting dan penyakit tidak menular yang masih tinggi. Apakah imbauan olahraga dan makan sehat cukup efektif tanpa diiringi kebijakan afirmatif yang memperbaiki gizi sekolah, ketersediaan air bersih, dan fasilitas olahraga yang layak? Ini bukan sekadar soal nasihat, melainkan soal eksekusi anggaran dan pengawasan.
Lebih kritis lagi, peringatan anti-rokok dan narkoba kerap menjadi tema basah yang diulang-ulang, namun jarang diikuti dengan program deteksi dini dan rehabilitasi yang massif di lingkungan pendidikan. TP PKK dengan jutaan kadernya seharusnya mampu menciptakan sistem rujukan yang terukur, bukan sekadar sosialisasi satu arah. Tri menyebut pelaporan teman yang terindikasi narkoba, tetapi tanpa perlindungan saksi dan prosedur yang humanis, justru dapat menciptakan budaya curang dan stigmatisasi di kalangan remaja. Pendekatan yang lebih progresif adalah menggandeng psikolog sekolah dan orang tua dalam forum yang berkelanjutan, bukan sekadar kunjungan kilat.
Tak kalah penting, seruan bijak bermedia sosial dan fokus belajar terasa ironis di tengah keterbatasan infrastruktur digital di daerah kepulauan. Banyak siswa Ternate yang masih berjuang dengan sinyal dan perangkat, sementara pemerintah pusat gencar mendorong transformasi digital. Alih-alih memberikan solusi konkret—misalnya akses wifi gratis di sekolah atau pelatihan kewirausahaan digital—pesan yang disampaikan cenderung normatif. Kebermanfaatan memang tidak diukur dari jumlah pengikut, tetapi pemerintah juga tidak boleh melimpahkan tanggung jawab pendidikan karakter sepenuhnya kepada keluarga dan sekolah tanpa dukungan kebijakan yang menyeluruh. Kunjungan ini layak diapresiasi sebagai bentuk perhatian, namun jika tidak ditindaklanjuti dengan evaluasi dampak dan alokasi sumber daya yang tepat, maka akan menjadi catatan retorika tahunan yang sia-sia.
Sebagai jurnalis investigasi, saya menilai TP PKK dan jajaran perlu menunjukkan laporan kinerja terbuka: berapa banyak perubahan perilaku sehat yang terukur setelah program? Berapa kasus narkoba di kalangan pelajar yang berhasil dicegah? Tanpa data, kegiatan seperti ini hanya akan menjadi pajangan citra. Masyarakat, terutama para orang tua, berhak tahu apakah program Pokja 1 benar-benar menurunkan angka sakit atau justru sekadar memenuhi agenda kunjungan kerja. Dibutuhkan komitmen jangka panjang, bukan sekadar foto bersama dan pembagian tas—dan Tri Tito Karnavian, dengan pengaruhnya, bisa mendorong itu dari tingkat pusat hingga desa.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Siapa Tri Tito Karnavian dan apa perannya di TP PKK?
A: Tri Tito Karnavian adalah Ketua Umum Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) dan Ketua Umum Tim Pembina Posyandu. Ia juga istri Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, dan aktif dalam program pemberdayaan perempuan serta kesehatan keluarga di Indonesia. - Q: Apa itu program Pokja 1 TP PKK?
A: Pokja 1 (Kelompok Kerja 1) adalah salah satu bidang kerja TP PKK yang berfokus pada pembinaan karakter keluarga, termasuk pendidikan nilai-nilai moral, kesehatan, dan ketahanan keluarga. Di tingkat sekolah, program ini sering diwujudkan melalui sosialisasi hidup sehat, anti-rokok, dan pemanfaatan fasilitas publik. - Q: Apa saja kegiatan yang dilakukan dalam kunjungan Tri Tito Karnavian ke SMAN 2 Ternate?
A: Kegiatan meliputi senam sehat bersama, cek kesehatan gratis, perekaman KTP elektronik bagi pemula dan Kartu Identitas Anak, serta penyerahan bantuan sembako, alat olahraga, dan perlengkapan siswa. Kunjungan ini juga diisi dengan talkshow motivasi tentang pola hidup sehat dan bahaya narkoba.

