Erupsi Anak Krakatau: Kualitas Udara di Banten-Jakarta Masih Aman, tapi Sumatera Selatan 'Tidak Sehat'

Kesehatan
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Erupsi Anak Krakatau: Kualitas Udara di Banten-Jakarta Masih Aman, tapi Sumatera Selatan 'Tidak Sehat'
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) memantau kualitas udara pasca erupsi Gunung Anak Krakatau di Banten, DKI, Jabar, dan Lampung; hasilnya umumnya baik hingga sedang.
  • Sebaliknya, sejumlah daerah di Sumatera Selatan (Lahat, Musi Rawas, Prabumulih, dll.) masuk kategori tidak sehat dengan parameter PM2.5 sebagai polutan dominan.
  • KLH masih mengkaji hubungan langsung partikulat dengan erupsi, sementara masyarakat rentan diimbau menggunakan masker saat beraktivitas luar ruang.

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) segera mengerahkan tim teknis ke sejumlah wilayah di Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Lampung, menyusul penyebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau pada Minggu (6/9). Pemantauan difokuskan pada kualitas udara ambien, khususnya parameter PM2.5, PM10, serta konsentrasi gas sulfur dioksida (SO2).

Plt Deputi Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLH/BPLH, Noer Adi Wardoyo, menjelaskan bahwa tim juga memeriksa kualitas air laut di pesisir Banten dan Lampung. Hasil pemantauan per 6 September 2026 menunjukkan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Banten berada pada kategori sedang: Serang Sumurpecung 85, Tangerang Pasir Jaya 65, Tangerang Selatan Serpong 78, dan Cilegon Pulomerak 63. Sementara itu, Jakarta GBK mencatat ISPU 64, Kabupaten Bogor Leuwiliang 83, dan Kabupaten Bekasi Sukamahi masuk kategori baik dengan ISPU 39.

Namun, kondisi berbeda terjadi di sejumlah kabupaten/kota di Sumatera bagian selatan. Berdasarkan data KLH, wilayah dengan kategori tidak sehat didominasi oleh parameter PM2.5, yaitu Kabupaten Lahat (112), Kabupaten Musi Rawas (165), Kota Prabumulih (139), Kabupaten Musi Banyuasin Serasan Jaya (128), Kabupaten Tebo (169), Jambi Paal Lima (166), dan Kabupaten Tanjabtim Muara Sabak (114). Sementara kategori sedang tercatat di Muara Enim (81), Bengkulu Singaran Pati (61), dan Bandar Lampung Talang (57); Lampung Selatan Way Urang masih baik dengan nilai 30.

Meskipun demikian, KLH menegaskan bahwa kajian teknis lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan hubungan langsung antara peningkatan partikulat dan erupsi Gunung Anak Krakatau. Koordinasi dengan BMKG, Badan Geologi (PVMBG), BNPB, Kementerian Kesehatan, dan pemerintah daerah terus diperkuat untuk mitigasi terpadu. Masyarakat diminta tetap tenang, mengikuti informasi resmi, dan kelompok rentan—anak‑anak, lansia, ibu hamil, serta penderita gangguan pernapasan—diimbau memakai masker saat di luar ruangan bila diperlukan.

Analisis Pakar

Data KLH yang dirilis patut diapresiasi karena memberikan gambaran nyata di tengah kecemasan publik pasca erupsi. Namun, sebagai jurnalis investigasi, saya menyoroti beberapa kejanggalan. Pertama, perbedaan mencolok antara wilayah barat (Banten-Jakarta-Jabar) yang relatif aman dengan Sumatera Selatan yang justru masuk kategori tidak sehat mengindikasikan bahwa pola sebaran abu vulkanik tidak linear—dan ini membutuhkan pemetaan meteorologi yang lebih transparan dari BMKG. Mengapa tidak ada penjelasan detail mengenai arah angin dan tinggi kolom abu pada periode kritis? Masyarakat berhak tahu apakah peningkatan PM2.5 di Lahat atau Musi Rawas semata-mata dari erupsi atau ada kontribusi emisi lokal yang selama ini terabaikan.

Kedua, pernyataan KLH bahwa mereka masih 'memperdalam hubungan langsung' terkesan lamban. Padahal, sejak erupsi pertama, dampak kualitas udara adalah risiko paling nyata bagi kesehatan jutaan jiwa. Saya menilai perlu ada mekanisme peringatan dini yang lebih agresif, tidak sekadar pemantauan pasca-fakta. Jika erupsi berlanjut, mengapa tidak ada simulasi skenario dampak untuk setiap wilayah? Ketiadaan kajian prediktif menunjukkan bahwa sistem kesiapsiagaan kita masih reaktif, bukan proaktif. Ini celah besar yang harus segera dibenahi, mengingat Gunung Anak Krakatau adalah salah satu gunung api teraktif di Indonesia.

Ketiga, soal imbauan masker—walaupun benar, tetapi tanpa disertai distribusi masker gratis atau subsidi, kelompok ekonomi lemah akan kesulitan mengakses perlindungan. Saya mendesak KLH bersama Kementerian Kesehatan dan BPBD untuk menggerakkan posko-posko kesehatan di daerah terdampak, terutama di Sumatera Selatan. Jangan sampai kita hanya pandai merilis data, tetapi abai pada tindakan nyata di lapangan. Transparansi data juga harus diperkuat dengan dashboard publik yang bisa diakses real-time, bukan sekadar siaran pers. Ini adalah ujian kredibilitas bagi pemerintah dalam melindungi warga dari bencana multidimensi.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apakah abu vulkanik dari Anak Krakatau berbahaya bagi kesehatan?
    A: Abu vulkanik mengandung partikel halus (PM2.5) yang dapat masuk ke saluran pernapasan dan memicu iritasi, sesak napas, serta memperburuk penyakit paru dan jantung. Kelompok rentan sangat berisiko.
  • Q: Apa itu ISPU dan bagaimana membacanya?
    A> ISPU (Indeks Standar Pencemaran Udara) adalah angka tanpa satuan yang menggambarkan kondisi kualitas udara. Kategori: 0–50 baik, 51–100 sedang, 101–200 tidak sehat, 201–300 sangat tidak sehat, dan >300 berbahaya.
  • Q: Bagaimana cara melindungi diri dari polusi udara pasca-erupsi?
    A> Gunakan masker N95 atau setara saat di luar, tutup ventilasi rumah, hindari aktivitas fisik berat di luar ruangan, dan pantau informasi resmi dari KLH, BMKG, serta pemerintah daerah setempat.
Meow! Tanya Nesi!
😸