Kebakaran RSSA Malang: 45 Pasien Anak Dievakuasi Saat Code Red, Manajemen Rumah Sakit Perlu Jawab Celah Keselamatan
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Kepanikan sempat menyelimuti Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang pada Rabu sore (9/9) ketika api mulai melahap ruang gizi dan laundry room. Sebanyak 45 pasien anak yang tengah dirawat langsung dievakuasi setelah status code red diaktifkan, sebagai langkah antisipasi atas bahaya asap dan risiko keracunan karbon monoksida.
Evakuasi 45 Pasien Anak Berjalan Cepat
Kebakaran kali pertama dilaporkan ke Mako Damkar pada pukul 14.57 WIB. Sebanyak lima unit armada dengan 20 personel dikerahkan ke lokasi. Saat petugas tiba, api sudah menyebar di beberapa titik dan plafon ruangan terbakar hingga roboh. Material seperti peralatan dapur, bahan makanan, selimut, dan seprai ikut memperbesar kobaran api.
Wakil Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RSSA, dr Syaifullah Asmiragani, menjelaskan bahwa keputusan evakuasi diambil setelah sistem peringatan darurat rumah sakit berbunyi. Seluruh pasien anak dipindahkan dari area perawatan ke titik kumpul terdekat agar terhindar dari paparan asap tebal.
“Begitu ada aktivitas code red, pasien anak kami evakuasi ke titik kumpul dekat gedung untuk mencegah terjadinya keracunan karbon monoksida akibat asap yang berlebihan,” ujar Syaifullah. Tim medis kemudian melakukan skrining dan evaluasi menyeluruh untuk memastikan tidak ada pasien yang mengalami kegawatan.
Setelah kondisi dinyatakan aman, pasien dipindahkan ke ruang perawatan sementara di Grand Paviliun lantai 2. Sebab, ruang perawatan anak masih berbau asap dan tidak layak huni. “Mungkin butuh waktu satu hingga dua hari sampai asap benar-benar hilang,” kata Syaifullah. Ia menambahkan, seluruh 45 pasien berada dalam kondisi stabil dan tidak ada tanda-tanda kegawatan.
Manajemen RSSA Pastikan Pelayanan Normal Kembali
Direktur Utama RSSA, dr Mochamad Bachtiar Budianto, menyebut alur evakuasi pasien anak telah sesuai prosedur. Menurutnya, ruang pediatri telah disiapkan untuk menerima pasien dalam situasi darurat seperti ini. “Secara sistem kami sudah memiliki alur evakuasi untuk pediatri di ruang GMT,” ujarnya.
Bachtiar menegaskan, pelayanan kepada pasien anak kini kembali berjalan normal. Selain aspek medis, pihak rumah sakit juga menerjunkan psikiater dan psikolog untuk mendampingi pasien anak yang mungkin mengalami trauma atau rasa takut pasca kebakaran.
Evaluasi Keselamatan Rumah Sakit Sorotan
Insiden ini membuka ruang evaluasi serius bagi pengelola fasilitas kesehatan. Rumah sakit bukan hanya tempat pengobatan, tetapi juga tempat berlindung bagi orang-orang dalam kondisi paling rentan. Standar keselamatan pasien harus diuji secara berkala, bukan sekadar menjadi dokumen prosedur yang tampak baik di atas kertas.
Kebakaran yang melanda dapur dan laundry room seharusnya menjadi alarm bagi manajemen RSSA dan seluruh rumah sakit di Indonesia untuk melakukan audit menyeluruh terhadap sistem proteksi kebakaran. Material seperti selimut dan seprai di laundry room serta peralatan dapur dan bahan makanan di ruang gizi menjadi bahan bakar yang memperbesar api. Tanpa deteksi dini dan respons cepat, insiden kebakaran rumah sakit bisa menimbulkan korban jiwa.
Evakuasi 45 pasien anak yang berjalan relatif cepat patut diapresiasi. Namun, publik tetap perlu mempertanyakan: mengapa sumber api bisa muncul di area vital rumah sakit? Apakah inspeksi instalasi listrik dan dapur berjalan rutin? Pertanyaan-pertanyaan ini harus dijawab tuntas agar kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan tidak luntur.
FAQ Terkait Berita Ini
1. Apakah ada korban dalam kebakaran RSSA Malang?
Tidak ada korban jiwa maupun luka dalam insiden ini. Seluruh 45 pasien anak yang dievakuasi dilaporkan selamat dan kondisi stabil.
2. Mengapa 45 pasien anak harus dievakuasi?
Mereka dievakuasi untuk menghindari risiko menghirup asap tebal yang dapat menyebabkan keracunan karbon monoksida setelah kebakaran melanda ruang gizi dan laundry room.
3. Di mana pasien anak dipindahkan?
Pasien anak untuk sementara dirawat di Grand Paviliun lantai 2 RSSA Malang, karena ruang perawatan sebelumnya masih berbau asap dan membutuhkan waktu 1–2 hari untuk kembali layak dipakai.

