Cara Membuat Pupuk Organik Cair dari Limbah Rumah Tangga, Hemat dan Ramah Tanaman

Selebriti
Nadia PutriNadia Putri
Sumber: KapanLagi
Nadia Putri
Nadia Putri
Editor Hiburan

Pengamat budaya pop dan tren media sosial yang tahu persis apa yang sedang viral.

Cara Membuat Pupuk Organik Cair dari Limbah Rumah Tangga, Hemat dan Ramah Tanaman
BAGIKAN:

Sisa sayuran, kulit buah, dan ampas kopi di dapur bisa disulap menjadi pupuk organik cair yang menyuburkan tanaman sekaligus memangkas biaya perawatan. Cara membuatnya cukup menguraikan bahan organik bersama larutan gula dan bioaktivator di dalam air, lalu difermentasi dalam wadah tertutup selama beberapa minggu. Metode ini bisa dilakukan siapa saja di rumah, kapan saja, dan menjadi solusi murah untuk mengurangi sampah sekaligus ketergantungan pada pupuk kimia.

Prinsipnya sederhana: mikroorganisme bekerja mengurai sisa dapur menjadi cairan kaya hara. Hasil fermentasi tinggal diencerkan, lalu disemprotkan atau disiramkan ke tanaman. Riset di jurnal PLOS One menunjukkan pemupukan organik cair meningkatkan serapan hara makro dan mikro serta menambah bahan organik tanah dibanding pupuk mineral.

Tiga Bahan Utama yang Mudah Didapat

Bahan paling murah datang dari sisa dapur. limbah rumah tangga seperti sisa sayur, kulit buah, dan ampas kopi diuraikan mikroba menjadi larutan bernutrisi. Kotoran sapi, kambing, atau ayam juga kaya nitrogen, tetapi wajib memakai kotoran yang sudah matang atau dikompos. Dedaunan hijau, gulma, dan buah matang bisa difermentasi menjadi larutan pemacu tumbuh kaya kalium.

Langkah Dasar Fermentasi Limbah Dapur

Siapkan wadah dan alat. Gunakan ember atau jerigen plastik bertutup rapat, saringan kain, dan pengaduk kayu. Hindari wadah logam yang mudah berkarat karena dapat menurunkan kualitas fermentasi.

Cacah bahan organik. Kumpulkan sisa sayur, kulit buah, dan ampas kopi, lalu cacah kecil sekitar 2 sampai 5 cm. Semakin kecil potongan, semakin luas permukaan yang bisa diuraikan mikroba.

Larutkan gula dan bioaktivator. Campur gula merah atau molase dengan sedikit air, tambahkan EM4, lalu diamkan 15 sampai 20 menit agar mikroba bangkit.

Campur dan tambahkan air. Masukkan bahan ke dalam wadah, tuangkan larutan gula dan bioaktivator, lalu tambahkan air bersih. Isi wadah maksimal dua pertiga bagian supaya masih ada ruang udara untuk mikroba bekerja.

Fermentasi dan buka berkala. Tutup wadah, tetapi buka sesekali setiap beberapa hari untuk membuang gas. Simpan di tempat teduh dengan suhu ideal sekitar 25 sampai 30 derajat Celsius.

Saring dan simpan. Setelah beraroma seperti tape, saring cairannya ke wadah bersih; ampasnya masih bisa dipakai sebagai pupuk padat.

Panduan Rutgers Organic Land Care mengingatkan pentingnya tidak memakai air berkaporit saat fermentasi karena klorin akan membunuh mikroba menguntungkan.

Kotoran Ternak: Kaya Nitrogen, Tapi Perlu Hati-hati

Kotoran sapi, kambing, atau ayam kaya nitrogen dan menjadi bahan andalan. Namun kotoran segar masih mengandung amonia dan patogen yang berisiko membakar tanaman. Dr. Elaine Ingham, ahli mikrobiologi tanah, dikutip dari ABC Organic Gardener, menyatakan, 'Sebagian besar organisme dalam fermentasi tersebut adalah organisme penyebab penyakit pada manusia, atau patogen.'

Pilih kotoran yang sudah matang atau setidaknya kering, bukan yang masih segar dan berbau menyengat. Larutkan gula merah atau molase dengan air, tambahkan EM4, lalu diamkan sekitar 20 menit. Tempatkan kotoran ke dalam tong atau ember plastik bersih dan bertutup. Tambahkan air cucian beras, air kelapa, atau urine hewan bila ada, lalu aduk merata. Tuangkan air bersih tanpa kaporit hingga bahan terendam, sisakan ruang udara, dan tutup rapat. Fermentasi 10 sampai 14 hari sambil dibuka sesekali; pupuk siap disaring bila sudah beraroma fermentasi yang tidak busuk.

Pupuk Cair Berbasis Tanaman

Dedaunan hijau dan buah matang bisa difermentasi menjadi larutan pemacu tumbuh yang kaya kalium. Petik pucuk daun muda, gulma, atau buah matang pada pagi hari, dan sebaiknya jangan dicuci agar mikroba alami di permukaannya tetap terjaga. Potong kecil atau tumbuk dedaunan dan buah agar sel dan sarinya cepat larut. Campur dengan gula merah dengan rasio sekitar 1:1 terhadap bahan, aduk hingga permukaan bahan terlapisi gula. Padatkan campuran ke dalam toples atau ember, isi maksimal dua pertiga bagian. Tutup longgar dengan kain, simpan jauh dari sinar matahari langsung. Setelah 1 sampai 2 minggu, saring cairan yang beraroma manis sedikit alkohol, lalu encerkan sebelum dipakai.

Kunci agar Tidak Gagal

Selalu encerkan sebelum dipakai: sekitar 1 bagian pupuk dengan 10 sampai 20 bagian air. Konsentrasi terlalu pekat, terutama nitrogen, dapat memicu daun terbakar. Semprot pagi atau sore saat matahari tidak terik. Pakai air tanpa kaporit, seperti air sumur, air hujan, atau air keran yang sudah diendapkan. Jaga suhu fermentasi 25 sampai 30 derajat Celsius; terlalu dingin membuat fermentasi berhenti, terlalu panas mematikan bakteri baik. Pupuk matang beraroma seperti tape atau manis asam, bukan bau busuk menyengat. Simpan di lokasi sejuk dan gelap; larutan yang sudah diencerkan sebaiknya dihabiskan dalam 1 sampai 2 minggu. Jangan jadikan pupuk cair satu-satunya sumber nutrisi karena mikroelemen butuh waktu lebih lama; posisinya paling ideal sebagai pelengkap kompos atau pupuk padat. Buang batch yang berbau busuk kuat atau berjamur hitam.

Pupuk cair hasil racikan sendiri cocok untuk berbagai tanaman, mulai dari tomat, sayur organik, bayam, sawi, hingga media semai. Umumnya fermentasi berlangsung sekitar 10 hari hingga 2 bulan, tergantung bahan, suhu, dan bioaktivator. Penggunaan EM4 atau molase mempercepat proses menjadi sekitar 2 minggu, sedangkan tanpa aktivator bisa lebih lama. Takaran umum adalah 1 bagian pupuk dicampur 10 sampai 20 bagian air, atau sekitar 20 ml per 5 liter air. Mulailah dari campuran encer terlebih dahulu untuk menghindari kelebihan nutrisi.

Meow! Tanya Nesi!
😸