DK PBB Memanas: Rusia-China Bentrok dengan AS dkk soal Sanksi Iran dan Masa Depan JCPOA

Dunia
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

DK PBB Memanas: Rusia-China Bentrok dengan AS dkk soal Sanksi Iran dan Masa Depan JCPOA
BAGIKAN:

Rusia dan China berhadapan langsung dengan Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris di Dewan Keamanan PBB membahas keabsahan sanksi internasional terhadap Iran serta pemberlakuan kembali sanksi PBB melalui mekanisme snapback dalam kesepakatan nuklir 2015. Perdebatan berlangsung di markas PBB, New York, ketika agenda non-proliferasi kembali dibahas, dengan garis pemisah tajam antara anggota tetap yang memiliki hak veto.

Rusia berargumen mekanisme snapback tidak berlaku karena Resolusi PBB 2231 resmi kedaluwarsa pada 18 Oktober 2025. Moskow juga menyebut Komite 1737 telah bubar pada 2015 sehingga tidak ada dasar hukum untuk menggelar pertemuan komite. China mendukung posisi itu dan menilai kepresidenan DK PBB tidak memiliki mandat menyusun atau menyampaikan laporan 90 hari.

Barat Ngotot, Iran Disebut Melanggar

Delegasi negara-negara Barat menentang. Inggris, bersama Prancis dan Jerman, menyatakan telah memulai mekanisme snapback sesuai Resolusi DK 2231. Prancis menegaskan resolusi dewan telah dipulihkan berikut mandat komite untuk melapor setiap 90 hari. Perwakilan AS menuduh Rusia dan China berusaha melemahkan keputusan dewan demi melindungi Iran.

DK PBB akhirnya menggelar pemungutan suara mengenai agenda pembahasan sanksi Iran dengan hasil 11 dukungan, dua menolak, dan dua abstain. Hasil itu menggagalkan upaya China dan Rusia memblokir pertemuan. Beijing menegaskan penarikan sepihak AS dari JCPOA, penggunaan kekerasan terhadap Iran, dan kebijakan tekanan maksimum menjadi penyebab utama situasi kompleks di Timur Tengah. China juga membela hak Iran menggunakan energi nuklir secara damai dan mempercayai komitmen Teheran bahwa mereka tidak mengembangkan senjata nuklir. Inggris berseberangan, dengan alasan Iran merupakan satu-satunya negara tanpa senjata nuklir yang memperkaya uranium hingga tingkat tinggi.

Analisis: Arena Hukum atau Panggung Geopolitik?

Perdebatan ini bukan sekadar adu retorika. Ia memperlihatkan DK PBB sebagai arena kontestasi tafsir hukum dan kepentingan geopolitik. Rusia dan China memakai argumen legalistik untuk membendung tekanan Barat, sementara AS dan sekutunya menggunakan norma non-proliferasi untuk menjaga rezim pengawasan. Ketegangan menegaskan bahwa nuklir Iran tetap menjadi simpul utama rivalitas kekuatan besar. Bagi Iran, dukungan Moskow dan Beijing memberi ruang diplomatik, tetapi tidak otomatis menghapus sanksi. Bagi Barat, snapback adalah instrumen untuk mempertahankan arsitektur JCPOA yang rapuh. Dampaknya meluas: stabilitas Teluk, harga minyak, dan hubungan Teheran dengan IAEA berada di bawah bayang-bayang ketidakpastian.

FAQ Terkait Berita Ini

Apa itu mekanisme snapback? Mekanisme dalam Resolusi 2231 yang memungkinkan sanksi PBB terhadap Iran diberlakukan kembali jika Iran dinilai melanggar JCPOA, tanpa bisa dihalangi veto.

Mengapa Rusia dan China menolak? Mereka menilai Resolusi 2231 sudah kedaluwarsa pada 18 Oktober 2025 dan Komite 1737 telah bubar, sehingga tidak ada dasar hukum untuk melanjutkan proses.

Apa dampaknya bagi Iran? Ketegangan memperkuat posisi diplomatik Iran di antara kekuatan besar, tetapi ketidakpastian sanksi tetap membebani ekonomi dan negosiasi nuklir.

Meow! Tanya Nesi!
😸