EEG Normal, Tapi Febiona Masih Kejang dan Muntah: Ibu Korban MBG Karo Merasa Tidak Puas

Kesehatan
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

EEG Normal, Tapi Febiona Masih Kejang dan Muntah: Ibu Korban MBG Karo Merasa Tidak Puas
BAGIKAN:

Hasil pemeriksaan hasil EEG yang dilakukan dua kali di rumah sakit berbeda menyatakan aktivitas listrik saraf otak Febiona Purba, siswi kelas XI SMK Bersama Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, berada dalam batas normal. Namun, remaja 16 tahun yang diduga keracunan korban MBG Karo itu masih mengalami muntah dan kejang, sementara ibunya mengaku tidak pernah menerima dokumen hasil pemeriksaan secara fisik. Kontroversi pun membelah narasi antara otoritas kesehatan dan keluarga korban.

Dinas Kesehatan Karo melalui Sekretarisnya, Mardin Purba, menyatakan tim medis telah melakukan pemeriksaan Electroencephalography (EEG) sebanyak dua kali di rumah sakit yang berbeda. Hasilnya, secara konsisten aktivitas listrik saraf otak pasien dalam batas normal. EEG sendiri merupakan pemeriksaan untuk merekam aktivitas listrik di otak, yang lazim digunakan untuk mendiagnosis dan memantau berbagai kondisi neurologis.

Menurut Mardin, proses penanganan medis belum dihentikan. Tim, katanya, masih terus memantau karena Febiona masih memiliki keluhan. Ia menegaskan pemeriksaan akan didalami secara cermat. Pernyataan ini disampaikan pada Kamis (10/9), merujuk pemberitaan detikNews.

Beda Suara Ibu Korban

Di sisi lain, Elvinus Lusiana Sitanggang (49), ibu Febiona, membantah menerima hasil EEG secara utuh. Ia mengaku hanya mendapat penjelasan lisan bahwa hasilnya normal, tanpa salinan dokumen. Ia menyebut hanya diberi hasil rontgen paru-paru. “Kami sudah minta hasil EEG, tapi enggak dikasih, cuma dicakapkan saja katanya hasilnya normal,” ujar Elvinus, seperti dikutip.

Elvinus mengaku tidak puas dengan pemeriksaan yang dijalani anaknya. Ia bahkan berencana menempuh pengobatan alternatif. Menurutnya, dokter menyatakan tidak ada penyakit pada Febiona, tetapi kenyataannya anaknya masih muntah dan sempat kejang. Dokter, katanya, meminta keluarga merekam video saat kejang terjadi di rumah agar pemberian obat bisa lebih tepat.

Pemeriksaan Lanjutan di RSUP H Adam Malik

Febiona Purba (16), siswi kelas XI SMK Bersama Berastagi, kini menjalani pemeriksaan lanjutan di RSUP H Adam Malik Medan. Ia sebelumnya berpindah-pindah rumah sakit selama lebih dari tiga pekan. Awalnya, ia diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolahnya pada 13 Agustus. Kondisinya kemudian dilaporkan makin berat, termasuk gangguan ingatan hingga kesulitan berbicara.

Humas RSUP H Adam Malik Medan, Rosario Dorothy Simanjuntak, menyatakan Febiona telah tiga kali datang untuk rawat jalan. Meski begitu, tim medis belum dapat menyampaikan diagnosis maupun memastikan penyebab gangguan yang dialaminya. “Saat ini dokter yang menangani masih belum bisa memberikan keterangan karena proses pemeriksaan masih berjalan,” katanya.

Sekretaris Dinas Kesehatan Sumatera Utara, Hamid Rijal Lubis, mengaku belum menerima laporan resmi dari RSUP H Adam Malik mengenai kondisi terbaru Febiona, termasuk dugaan gangguan ingatan. Ia tidak ingin mengambil kesimpulan sebelum ada hasil pemeriksaan dari tim medis.

Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution menyatakan kondisi Febiona masih dalam pemantauan. Pemeriksaan tidak hanya untuk mengetahui kondisi fisik, tetapi juga memastikan apakah gangguan yang dialami berkaitan dengan saraf atau faktor lain. “Nanti gangguan di sini perlu kita lihat apakah tindak lanjut dari medisnya, pemeriksaan dari medisnya, apakah memang pengaruh dari otonomnya atau sarafnya atau yang lainnya,” ucapnya.

Analisis: Transparansi Medis dan Ruang Spekulasi

Kontradiksi antara Dinas Kesehatan Karo dan keluarga korban bukan sekadar soal komunikasi. Dalam kasus dugaan keracunan makanan yang menyangkut program publik, keterbukaan dokumen medis menjadi bagian dari akuntabilitas. Jika keluarga tidak diberi salinan hasil pemeriksaan, ruang spekulasi akan tumbuh, terutama ketika gejala klinis masih terlihat.

Di sisi lain, hasil EEG normal tidak otomatis menutup kemungkinan adanya gangguan lain. Pemeriksaan neurologis memiliki batas, dan diagnosis memerlukan observasi longitudinal. Karena itu, sikap tim medis yang belum menyimpulkan penyebab memang dapat dibenarkan secara ilmiah. Namun, keterbukaan kepada keluarga tetap penting agar tidak terjadi kesenjangan informasi yang justru memperburuk kepercayaan publik.

Hingga kini, Febiona masih menjalani perawatan dan pemantauan. Keluarga berharap ada kejelasan, sementara otoritas kesehatan menegaskan proses pemeriksaan belum selesai. Kasus ini menjadi ujian bagi tata kelola komunikasi publik di tengah dugaan dampak MBG terhadap kesehatan siswa.

FAQ Terkait Berita Ini

Apa hasil EEG siswi korban MBG Karo? Dinas Kesehatan Karo menyatakan hasil EEG yang dilakukan dua kali di rumah sakit berbeda menunjukkan aktivitas listrik saraf otak Febiona Purba dalam batas normal.

Mengapa ibu korban tidak puas? Ia mengaku tidak menerima dokumen hasil EEG secara fisik, hanya penjelasan lisan, dan masih melihat anaknya muntah serta kejang.

Apa langkah medis berikutnya? Tim medis masih melanjutkan pemantauan, meminta keluarga merekam video saat kejang, dan belum menyampaikan diagnosis pasti.

Meow! Tanya Nesi!
😸