Gibran Blusukan ke RSD Idaman Banjarbaru, Cek Kesiapan Hadapi Karhutla: Obat hingga Oksigen!

Politik
Budi SantosoBudi Santoso
Sumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Gibran Blusukan ke RSD Idaman Banjarbaru, Cek Kesiapan Hadapi Karhutla: Obat hingga Oksigen!
BAGIKAN:

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menekankan pentingnya kesiapan rumah sakit dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi warga terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama kelompok rentan. Penekanan itu disampaikan Gibran saat meninjau Rumah Sakit Daerah Idaman di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Kamis (10/9).

Dalam kunjungan tersebut, Gibran Rakabuming Raka memastikan kesiapan fasilitas dan pelayanan kesehatan di daerah itu agar masyarakat yang terdampak karhutla dapat memperoleh penanganan secara cepat dan tepat, khususnya ketika membutuhkan layanan medis akibat kondisi lingkungan yang terdampak asap.

Fokus pada Kelompok Rentan

Gibran menyoroti pentingnya perlindungan bagi kelompok rentan. "Di tengah penanganan karhutla, menjaga keselamatan dan kesehatan warga, terutama kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas adalah bagian penting," kata Gibran, dikutip dari Antara.

Ia meminta rumah sakit memastikan ketersediaan obat, oksigen, tempat tidur, tenaga kesehatan, serta sistem rujukan, sehingga kebutuhan pelayanan medis bagi warga terdampak dapat dipenuhi secara cepat ketika kondisi darurat membutuhkan penanganan.

"Rumah sakit harus siap, terutama untuk anak-anak dan kelompok rentan. Obat, oksigen, tempat tidur, tenaga kesehatan, dan sistem rujukan harus dipastikan tersedia ketika dibutuhkan," tegasnya.

Apresiasi untuk Tenaga Kesehatan

Gibran juga mengapresiasi dokter, perawat, dan tenaga kesehatan yang tetap memberikan pelayanan kepada masyarakat selama kondisi karhutla. Menurutnya, kesinambungan layanan kesehatan menjadi bagian penting dalam melindungi warga selain upaya penanganan kebakaran.

"Terima kasih untuk Bapak-Ibu dokter, perawat, dan tenaga kesehatan yang terus melayani masyarakat selama kondisi karhutla," ujarnya.

Dalam kunjungan tersebut, Gibran juga berbincang dengan pasien dan keluarga pasien untuk mengetahui kondisi pelayanan yang diterima, termasuk keluarga yang membawa anak dengan keluhan batuk dan pilek setelah terpapar asap karhutla.

Siti Fatimah, ibu yang membawa anaknya berobat, mengatakan pelayanan di RSD Idaman Banjarbaru sudah baik dan rumah sakit tersebut menjadi salah satu tempat keluarganya mendapatkan layanan kesehatan ketika anak-anak mengalami gangguan kesehatan.

Sementara itu, Puji Lestari, seorang ibu hamil, mengaku dirinya membatasi aktivitas di luar rumah ketika kondisi asap cukup tebal serta rutin mengonsumsi vitamin dan kalsium dari puskesmas sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan selama karhutla. "Jadi saya tidak ke mana-mana, minum vitamin saja dari puskesmas. Sudah periksa hamil rutin. Minum kalsium juga dari puskesmas," ujar dia.

Analisis: Kesiapan Musiman atau Solusi Sistemik?

Kunjungan Gibran ke RSD Idaman Banjarbaru memang menunjukkan perhatian pemerintah terhadap dampak karhutla. Namun, sebagai jurnalis senior, saya menilai bahwa kesiapan rumah sakit hanyalah salah satu mata rantai dari persoalan besar yang kerap berulang setiap tahun. Karhutla bukan sekadar bencana musiman, melainkan buah dari tata kelola lingkungan yang buruk, penegakan hukum yang lemah, dan kepentingan ekonomi yang mengabaikan keberlanjutan.

Pertanyaan kritisnya: apakah kesiapan ini akan bertahan setelah musim karhutla berakhir? Ataukah ini hanya respons spontan yang akan menguap begitu asap hilang? Pemerintah perlu memastikan bahwa anggaran kesehatan untuk penanganan karhutla tidak hanya bersifat ad hoc, tetapi terintegrasi dalam sistem kesehatan nasional. Selain itu, pencegahan karhutla harus menjadi prioritas, bukan hanya penanganan korban.

Tanpa upaya pencegahan yang serius, rumah sakit akan terus menjadi benteng terakhir yang kewalahan. Masyarakat, terutama kelompok rentan, akan terus menjadi korban. Sudah saatnya pemerintah tidak hanya memeriksa kesiapan rumah sakit, tetapi juga menindak tegas pelaku pembakaran hutan dan lahan serta memperbaiki kebijakan lingkungan secara menyeluruh.

FAQ Terkait Berita Ini

Apa yang diminta Gibran kepada rumah sakit?
Gibran meminta rumah sakit memastikan ketersediaan obat, oksigen, tempat tidur, tenaga kesehatan, dan sistem rujukan untuk menangani korban karhutla, terutama kelompok rentan.

Mengapa kelompok rentan menjadi perhatian?
Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas lebih mudah terkena dampak kesehatan akibat asap karhutla, sehingga memerlukan penanganan khusus.

Bagaimana respons masyarakat?
Seorang ibu, Siti Fatimah, menilai pelayanan di RSD Idaman Banjarbaru sudah baik. Sementara Puji Lestari, ibu hamil, memilih membatasi aktivitas dan rutin mengonsumsi vitamin dari puskesmas.

Meow! Tanya Nesi!
😸