Inggris dan Eropa Sanksi Israel, AS Diam: Sinyal Retak dengan Netanyahu?

Dunia
Budi SantosoBudi Santoso
Sumber: CNN Internasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Inggris dan Eropa Sanksi Israel, AS Diam: Sinyal Retak dengan Netanyahu?
BAGIKAN:

Inggris dan sejumlah negara Eropa resmi menjatuhkan sanksi terhadap Israel terkait aktivitas pemukiman di Tepi Barat yang diduduki. Yang mengejutkan bukan hanya langkah itu, melainkan respons Amerika Serikat: Washington tidak mengecam, dan Presiden Donald Trump serta Menteri Luar Negeri Marco Rubio belum mengutuk keputusan Inggris, Prancis, Kanada, dan negara lain.

Dalam politik internasional, jeda sikap sering lebih bermakna daripada pernyataan resmi. Selama ini pemerintahan Trump dikenal sebagai yang paling pro-Israel dalam sejarah AS. Pada awal masa jabatan keduanya, ia bahkan mencabut sanksi yang dijatuhkan pemerintahan Joe Biden terhadap sejumlah pemukim Israel yang terlibat kekerasan di Tepi Barat. Karena itu, ketiadaan kecaman atas langkah Eropa menjadi sinyal yang sulit diabaikan.

Trump Memilih Menahan Diri

Ketika ditanya tentang sanksi itu pada Rabu, Trump mengambil nada yang tidak biasa. Ia lebih tertutup dan mengatakan akan berbicara dengan Israel. Ia mengaku mengetahui persoalan tersebut, tetapi ingin memahami alasan di balik keputusan negara-negara itu. 'Saya mengerti persis apa yang sedang terjadi, tetapi saya ingin mencari tahu mengapa hal itu tiba-tiba terjadi?' ujarnya.

Inggris diketahui telah memberikan informasi kepada pemerintah AS sebelum mengumumkan sanksi. Informasi itu disampaikan antara lain melalui pembicaraan Perdana Menteri Inggris Andy Burnham dan Trump. Bagi para pejabat AS dan mantan pejabat AS yang berbicara kepada CNN, sikap Trump dan Rubio memunculkan dugaan bahwa pemerintahan saat ini mulai tidak nyaman dengan kebijakan Israel di Tepi Barat.

Rubio: AS Tidak Akan Ikut Inggris

Rubio juga tidak ikut mengecam sanksi negara-negara tersebut. Namun ia menyinggung kekhawatiran AS terhadap situasi di Tepi Barat. 'Kami tidak ingin melihat hal-hal yang dapat menggoyahkan stabilitas terjadi di Tepi Barat saat ini, mengingat begitu banyak hal yang terjadi di wilayah tersebut,' kata Rubio kepada wartawan pada Selasa. Menurutnya, kondisi di Tepi Barat dapat memengaruhi upaya AS mencapai kemajuan dalam penyelesaian konflik Gaza, termasuk rencana 20 poin dan Dewan Perdamaian yang didukung Washington.

Meski demikian, Rubio menegaskan AS tidak akan mengikuti langkah Inggris. 'Jelas, kami tidak akan melakukan apa yang dilakukan Inggris,' ujarnya. Ia mengakui pemerintah AS telah menerima informasi mengenai keputusan Inggris dan mendengar argumen di baliknya.

Keretakan di Washington dan Tel Aviv?

Jika dibaca sebagai gejala, sikap Trump dan Rubio berbeda dari pernyataan Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee. Huckabee sebelumnya menuduh pemerintah Inggris melakukan 'kebencian terhadap Yahudi' terkait kebijakan tersebut, dan memperingatkan dampaknya bagi sejumlah perusahaan Inggris. Namun, seorang pejabat Gedung Putih mengatakan pernyataan Huckabee tidak dikoordinasikan dengan Gedung Putih maupun Departemen Luar Negeri AS.

Mantan pejabat senior AS menilai respons Huckabee sejalan dengan pandangannya selama bertahun-tahun mengenai Israel, permukiman Yahudi, dan Tepi Barat. 'Mungkin itu yang dia harapkan, karena banyak orang mungkin mengharapkan hal yang sama sebagai respons awal dari pemerintah, berdasarkan sejarah mereka dan pandangan yang pernah mereka ungkapkan sebelumnya,' kata mantan pejabat tersebut.

Yang lebih penting, AS juga belum secara terbuka mengecam rencana Israel mengembangkan proyek permukiman E1. Proyek itu dinilai dapat membagi Tepi Barat menjadi wilayah utara dan selatan, sehingga semakin sulit membentuk negara Palestina yang berkesinambungan. E1 juga berpotensi memisahkan Yerusalem Timur dari wilayah Tepi Barat lainnya, padahal Yerusalem Timur diharapkan menjadi ibu kota negara Palestina di masa depan.

Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich secara terbuka mendukung perluasan permukiman. Ia bahkan mengatakan pembangunan permukiman adalah cara untuk 'mengubur' gagasan negara Palestina. 'Negara Palestina sedang dihapus dari meja perundingan bukan dengan slogan tetapi dengan tindakan,' kata Smotrich.

Israel merebut Yerusalem Timur dan Tepi Barat dalam perang 1967. Kedua wilayah dianggap sebagai wilayah pendudukan berdasarkan hukum internasional, sementara permukiman Israel di wilayah itu secara luas dinilai ilegal oleh masyarakat internasional.

Pengaruh Trump atas Netanyahu

Mantan Duta Besar AS untuk Israel Daniel Shapiro menilai Trump sebenarnya memiliki pengaruh terhadap Benjamin Netanyahu untuk mendorong perubahan kebijakan Israel di Tepi Barat. Menurutnya, Trump dapat menggunakan isu kekerasan pemukim untuk menekan Netanyahu, terutama karena Netanyahu membutuhkan dukungan Trump menjelang pemilihan umum Israel.

'Netanyahu sangat menginginkan dukungan Trump, secara eksplisit jika memungkinkan, secara implisit jika tidak, dan tentu saja tidak ingin dia membuat pernyataan yang menyiratkan bahwa Trump berpikir segalanya akan lebih baik dengan pemerintahan yang berbeda,' kata Shapiro kepada CNN. 'Saya pikir Trump memiliki banyak pengaruh, tetapi saya rasa dia belum benar-benar menggunakannya.'

Seorang mantan pejabat senior AS lainnya meragukan Netanyahu dapat mengendalikan para pemukim sebelum pemilihan. Ia menyebut sanksi yang direncanakan negara-negara Barat sebagai 'tembakan peringatan'. Namun, pejabat AS lainnya mempertanyakan efektivitas sanksi tersebut. 'Sanksi yang diberlakukan sekarang ini menggalang dukungan orang-orang untuk Israel dan sebagian untuk Netanyahu, memperkuat argumennya bahwa dunia sekarang menentang kita,' kata pejabat tersebut.

Dalam konteks hubungan internasional, sikap Washington ini bisa dibaca sebagai upaya menjaga keseimbangan: tidak ingin berkonfrontasi langsung dengan Israel, tetapi juga tidak nyaman dengan eskalasi permukiman yang mengancam solusi dua negara. Bagi Eropa, sanksi menjadi instrumen tekanan moral dan hukum. Bagi AS, diam adalah bahasa diplomatik yang menunggu momentum—terutama menjelang pemilu Israel. Namun, jika Washington terus menahan diri, jarak antara retorika pro-Israel dan realitas lapangan akan semakin sulit ditutup.

FAQ Terkait Berita Ini

Mengapa Inggris dan negara Eropa menjatuhkan sanksi? Karena aktivitas pemukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki serta pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.

Mengapa respons AS dianggap di luar dugaan? Karena pemerintahan Trump dikenal sangat pro-Israel dan biasanya mendukung kebijakan Israel, tetapi kali ini tidak mengecam sanksi Eropa.

Apa dampak sanksi ini? Sanksi dapat menandai keretakan Washington-Tel Aviv, meski AS kecil kemungkinan menjatuhkan sanksi langsung terhadap Israel. Efektivitasnya masih diperdebatkan.

Meow! Tanya Nesi!
😸