Ancaman Bencana dan Perubahan Iklim Intai Sektor Bisnis, Ini Strategi Mitigasinya
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Pelaku usaha di Indonesia dihadapkan pada tantangan besar menyusul meningkatnya risiko bencana alam, mulai dari gempa bumi, erupsi gunung berapi, hingga dampak perubahan iklim seperti banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan. Dalam program Squawk Box CNBC Indonesia pada Rabu (09/09/2026), ESG Analyst CNBC Indonesia Research, Salma Laiqa, memaparkan bahwa ancaman ini membawa dampak langsung terhadap keberlangsungan operasional korporasi.
Sejumlah sektor strategis dinilai paling rentan terhadap disrupsi akibat bencana dan perubahan iklim. Sektor perbankan, infrastruktur, energi, hingga agrikultur menjadi bidang yang menghadapi tekanan operasional dan finansial yang signifikan. Pada sektor pertanian dan perkebunan, fenomena cuaca ekstrem serta bencana alam seperti banjir dan erupsi dapat langsung melumpuhkan kapasitas produksi.
Selain sektor hulu, rantai pasok global dan domestik yang panjang turut memperbesar kerentanan dunia usaha. Sektor manufaktur dan industri barang konsumsi cepat habis (FMCG) berisiko mengalami hambatan distribusi bahan baku maupun produk akhir akibat terganggunya infrastruktur logistik.
Sebagai pakar ekonomi makro, saya melihat bahwa integrasi aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola atau ESG bukan lagi sekadar instrumen kepatuhan, melainkan strategi bisnis inti untuk bertahan di tengah ketidakpastian iklim. Manajemen risiko yang proaktif dan investasi pada infrastruktur tahan bencana menjadi kunci utama bagi perusahaan untuk melindungi margin profitabilitas dan menjaga kepercayaan investor dalam jangka panjang.

