Dokumenter 'NAZA' Soroti Praktik Intelijen Israel di Gaza, Dapat Apresiasi Tertinggi di Venesia
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Dokumenter ‘NAZA’ yang disutradarai oleh warga Israel Rachel Szor dan Yuval Abraham meraih tepuk tangan terpanjang pada 10 September di Festival Film Venesia, Italia, sekaligus menyoroti praktik intelijen Israel yang menargetkan warga sipil di Gaza.
Latar Belakang dan Konten Film
Film ini, diproduksi oleh film dokumenter The Guardian, mengungkap penggunaan kode “NAZA” oleh dinas intelijen Israel untuk memperkirakan jumlah korban sipil dalam serangan udara. Menurut laporan Guardian, satu sumber mengklaim persetujuan menargetkan 500 NAZA untuk tiap anggota Hamas yang dibunuh.
Para petugas yang tampil dalam film menggambarkan peran mereka sebagai “roda gigi kecil” dalam sistem yang mengandalkan kecerdasan buatan untuk memilih target, sementara drone menjatuhkan bom tanpa kehadiran fisik di lokasi. Bahasa yang dipakai dalam perintah militer sering kali menggunakan eufemisme, mengaburkan fakta bahwa “collateral damage” berarti nyawa manusia.
Reaksi Sutradara dan Dampak Pribadi
Dalam wawancara dengan The Guardian, Szor menyatakan bahwa ia tetap anonim karena tekanan dari dalam negeri, sementara Abraham mengaku keluarganya menjadi sasaran serangan verbal dari sayap kanan setelah filmnya diputar di Berlin 2024. Kedua sutradara menegaskan bahwa mengangkat kisah ini merupakan “harga kecil” dibandingkan konsekuensi yang dihadapi warga Palestina.
Analisis Ahli
Pengamat militer menilai bahwa penggunaan kode NAZA mencerminkan upaya birokratis untuk memisahkan keputusan pembunuhan dari tanggung jawab moral, sebuah praktik yang semakin umum dalam konflik modern yang melibatkan teknologi otonom.
Konsekuensi bagi Warga Gaza
Bagi warga Palestina, ancaman tidak datang dari kelompok sayap kanan melainkan dari operasi militer yang didanai Amerika Serikat, yang menimbulkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa secara masif. Seorang jurnalis Palestina yang mencoba mengakses pejabat senior Israel berisiko tinggi mengalami pembunuhan.


