Kubu Raya Terbakar Asap: Warga Diperangi Sesak Nafas, Relawan Distribusikan Oksigen di Tengah Karhutla

Berita Daerah
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Kubu Raya Terbakar Asap: Warga Diperangi Sesak Nafas, Relawan Distribusikan Oksigen di Tengah Karhutla
BAGIKAN:

Warga Kubu Raya, Kalimantan Barat, terpaksa meminjam nafas dari botol oksigen yang dibagikan relawan saat kabut asap karhutla menutupi langit sejak pagi ini.

Foto-foto yang beredar menunjukkan seorang warga berusia sekitar 60 tahun menarik napas dalam-dalam dari tabung oksigen sambil memandangi langit berwarna kemerahan, sementara anak-anaknya berusaha menutup mulut dengan kain basah.

Kondisi ini terjadi setelah API karhutla yang melanda hutan dan lahan sejak seminggu lalu semakin mereda namun tetap menghasilkan asap tebal yang menutupi wilayah tersebut selama 24 jam terakhir, mengakibatkan indeks kualitas udara (IQA) mencapai level merah—tingkat bahaya tertinggi yang pernah dicatat di Kalbar.

Relawan dari Komunitas Lingkungan Kalimantan Barat dan Posyandu Udara Bersih telah menggelar distribusi oksigen gratis sejak pukul 06.00 WIB, namun demand melebihi pasokan, sehingga beberapa warga terpaksa menunggu antre selama dua jam.

Salah satu warga, Ibu Siti (58), pedagang kelontong di pasar tradisional Kubu Raya, mengaku sesak nafasnya semakin parah sejak pagi setelah mencoba menutup mulut dengan kain basah. “Kali ini lebih parah daripada tahun lalu,” katanya sambil menarik napas dalam-dalam dari tabung oksigen. Tahun lalu, ia pernah mengalami serangan sesak akibat kabut asap karhutla yang juga melanda Kalbar.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kalbar, Dr. Bambang Sutrisno, mengaku tidak memiliki data pasti jumlah korban sesak nafas akibat asap, namun dokter-dokter swasta di Kubu Raya melaporkan peningkatan pasien dengan gejala pernapasan sejak kemarin.

Kondisi ini juga memengaruhi transportasi udara, karena Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II di Pontianak telah menutup landasan pacu sementara sejak pukul 08.00 WIB akibat visibilitas yang menurun drastis.

Menurut data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kalbar, kecepatan angin hanya mencapai 3-5 km/jam sejak pagi, sehingga asap tidak dapat bergerak ke arah lain dan menumpuk di wilayah Kubu Raya. Suhu udara juga naik hingga 32 derajat Celsius, membuat kondisi semakin tidak menyenangkan bagi warga.

Analisis Redaksi

Kondisi ini menggambarkan kelemahan sistem tanggap darurat karhutla di Kalimantan Barat, di mana meskipun data IQA merah sudah diketahui sejak kemarin, distribusi oksigen masih belum mencukupi. Penyebaran asap yang menutupi wilayah secara massal juga menunjukkan bahwa upaya pemadaman karhutla belum optimal, terutama karena kecepatan angin yang rendah yang membuat asap tidak bisa bergerak.

Dampak jangka panjang dari pengulangan bencana karhutla tahunan ini akan terasa pada kesehatan jangka panjang warga, seperti peningkatan risiko penyakit pernapasan kronis, khususnya bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, anak-anak, dan lansia. Tidak adanya peningkatan pengawasan terhadap kebakaran hutan secara proaktif juga menunjukkan bahwa pemerintah daerah masih belum siap menghadapi musim kemarau yang semakin ekstrem.

Logisnya, langkah selanjutnya harus melibatkan koordinasi antara pemerintah daerah, satuan pemadam kebakaran, dan masyarakat. Pemerintah harus segera menyiapkan cadangan oksigen yang lebih besar dan meningkatkan pemantauan karhutla melalui satelit, sementara masyarakat perlu lebih waspada dengan tanda-tanda bahaya asap, seperti batuk kronis, sesak nafas, dan iritasi mata. Jika tidak ditangani dengan serius, Kubu Raya akan terus menjadi korban berulang dari kebijakan yang terlambat dan tidak efektif.

Meow! Tanya Nesi!
😸