Macklemore Dicoret dari Loop Tour Sheeran: Bagaimana Industri Hiburan Menanggapi ‘Kebebasan Berbahaya’?
Menyajikan ulasan tajam seputar film lokal, internasional, dan dunia perfilman.

Macklemore resmi dicoret dari rangkaian Loop Tour Ed Sheeran setelah ia memanfaatkan panggung di Stadion MetLife, New Jersey, untuk menyuarakan dukungan terhadap Palestina dan menyerukan penghentian genosida di Gaza—langkah yang langsung memicu tekanan massal dari pemilik venue dan miliarder Robert Kraft, yang mengancam pembatalan konser.
Keputusan pencoretan, diumumkan oleh promotor Messina Touring Group, tidak hanya menimbulkan gelombang dukungan dari musisi dan aktivis, tetapi juga mengungkap ketegangan yang semakin mendalam antara industri hiburan dan isu politik yang dianggap “terlalu berbahaya” untuk dibicarakan di panggung.
Grup musik rock Garbage langsung mengecam keputusan itu sebagai “benar-benar kegilaan” dan menegaskan bahwa membela hak warga Palestina tidak berarti antisemitisme. “Ini sangat tidak adil,” tulis mereka di Billboard Senin (14/9), mengkritik industri yang cenderung membungkam suara-suara yang mengganggu kesetaraan.
Dukungan juga datang dari Kehlani, yang mengagumi keberanian Macklemore dan menyatakan bahwa “banyak tempat atau pemilik usaha” seharusnya bersatu padu untuk mendukung kebebasan berpendapat. “Merasa terhormat mengenalmu,” tulisnya, sambil memuji Macklemore sebagai simbol perlawanan terhadap “upaya membungkam” yang memprihatinkan.
Sementara itu, Greta Thunberg dan aktivis edukasi Ms. Rachel mengecam diamnya industri hiburan terhadap tewasnya puluhan ribu anak-anak di Gaza. “Genosida sedang terjadi,” tulis Ms. Rachel, menuduh Ed Sheeran “mengalah” pada pihak-pihak yang menolak mengakui kenyataan. “Kita semua harus angkat bicara mengenai hal ini.”
Meskipun kehilangan tempat dalam tour, Macklemore tidak menyalahkan Sheeran atau memusuhi publik. “Saya bukan korban. Ed Sheeran juga bukan korban,” katanya di Instagram. “Korban sesungguhnya adalah warga Palestina.” Ia bahkan menganggap keputusan ini sebagai “tur paling sukses” karena berhasil mengalihkan perhatian ke isu yang selama ini diabaikan.
Namun, rangkaian konser Ed Sheeran di Philadelphia tetap berjalan tanpa Macklemore, sementara promotor hingga kini belum memberikan pernyataan resmi. Keputusan ini juga mengingatkan pada pengaruh Robert Kraft, miliarder pemilik stadion legendaris di AS, yang telah menjadi figur kunci dalam menentukan agenda publik melalui ancaman pembatalan konser.
Analisis Redaksi
Pencoretan Macklemore bukan hanya soal kebebasan ekspresi, tetapi tanda industri hiburan yang semakin terpolarisasi di tengah krisis Palestina. Ketika 90.000 orang bisa menjadi penonton, tetapi kata-kata tentang genosida dianggap “terlalu berbahaya” untuk diucapkan, pertanyaan muncul: siapa yang benar-benar menjadi korban? Apakah industri lebih takut pada kerugian finansial daripada pada krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung?
Logisnya, tekanan dari pemilik venue dan miliarder seperti Kraft menunjukkan bahwa hiburan tidak lagi berdiri sendiri—melainkan terikat pada kepentingan ekonomi dan politik yang lebih luas. Hal ini mengingatkan pada kasus-kasus sebelumnya, seperti protes Sheeran terhadap Israel tahun lalu, yang juga menimbulkan kontroversi. Namun kali ini, reaksi industri lebih keras: tidak hanya dicoret, tetapi dibisukan.
Macklemore sendiri telah berhasil mengubah situasi menjadi kampanye kebebasan berpendapat. Namun, pertanyaan yang lebih mendalam adalah: berapa lama industri hiburan masih akan menutup mata? Jika seniman yang bersuara kini dianggap “berbahaya,” maka siapa yang akan membela mereka ketika suara mereka menjadi satu-satunya yang tersisa? Hal ini bukan hanya tentang Macklemore, tetapi tentang harga yang harus dibayar oleh kebebasan di era hiburan yang semakin terkomodifikasi.


