Purbaya Yudhi Sadewa Akui Semalaman Susah Tidur Usai Dicopot Prabowo dari Menkeu

Ekonomi & Pasar
Dian KusumaDian Kusuma
Sumber: CNN Ekonomi
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Purbaya Yudhi Sadewa Akui Semalaman Susah Tidur Usai Dicopot Prabowo dari Menkeu
BAGIKAN:

Mantan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui semalaman mengalami kesulitan tidur dan perasaan sebal usai diberhentikan Presiden Prabowo Subianto, ungkapan yang disampaikannya usai prosesi serah terima jabatan di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (15/9).

"Semalam masih susah tidur, masih sebal juga tuh," ucap Purbaya dengan nada santai namun tegas di hadapan wartawan, menjawab pertanyaan soal kondisi psikologisnya pasca pencopotan mendadak.

Kabar pemberhentian itu tiba secara tiba-tiba pada Senin (14/9) pagi melalui telepon langsung dari Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi. Hanya dalam waktu kurang dari 24 jam, Purbaya sudah harus menghadapi prosesi sertijab ke pejabat yang menggantikannya, menutup masa jabatannya yang dinilai singkat.

Soal alasan pencopotan, Purbaya menolak berputar-putar. Ia menegaskan tidak ada gesekan internal maupun deviasi kebijakan selama ia memimpin kementerian itu. "Enggak ada, kebijakan kita kan ikuti semua kebijakan presiden. Aman lah itu," tegasnya, menepis spekulasi soal ketidaksepakatan teknis.

Purbaya mengungkapkan dirinya justru sudah memperhitungkan nasib ini dengan peluang 50:50 berdasarkan "hitungan tertentu", bukan sekadar feeling. Detail perhitungan itu ia simpan untuk dirinya, menyerahkan penjelasan penuh pada hak prerogatif Presiden Prabowo Subianto. "Enggak tahu, mesti nanya Pak Presiden itu. Tapi kan bisa lihat dari omongannya, oh 50-50, ya sudah," ujarnya.

Tegasnya, ia tidak berminat kembali menduduki jabatan menteri atau pejabat negara lainnya pasca insiden ini. "Enggak lah. Baru dipecat. Masa jadi menteri lagi," potongnya singkat, menutup pintu spekulasi soal kepengurusan masa depan.

Analisis Redaksi

Keterbukaan Purbaya soal perasaan "sebal" dan kesulitan tidur langka dijumpai dari mantan pejangan tinggi yang biasanya diam atau mengeluarkan pernyataan diplomatik standar. Sikap blak-blakan ini justru memperkuat narasi bahwa pencopotan ini benar-benar tiba tanpa dialog intensif sebelumnya, meskipun sang mantan menkeu mengaku sudah memperhitungkannya secara rasional.

Klaim tidak adanya gesekan kebijakan dan penegasan bahwa semua arahan presiden diikuti, menggeser beban penjelasan sepenuhnya ke sisi Istana. Frasa "setahun ini udah cukup" yang dikutip Purbaya dari omongan Presiden mengisyaratkan adanya penilaian kinerja berbasis waktu yang kaku, terlepas dari output teknis yang dinilai aman oleh timnya.

Ke depan, perhatian publik akan beralih ke figur pengantin baru di Medan Merdeka Timur. Tantangan bukan hanya melanjutkan program, tapi juga menjawab pertanyaan apakah gaya kepemimpinan baru akan mempertahankan kontinuitas teknokratik atau membawa warna politik yang lebih dominan, mengingat prerogatif presiden yang ditekankan Purbaya sebagai satu-satunya penentu.

Meow! Tanya Nesi!
😸