Ara Pesan 2,5 Juta Genteng UMKM, Gentengisasi Dimulai Oktober-November

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Sumber: CNN Ekonomi
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Ara Pesan 2,5 Juta Genteng UMKM, Gentengisasi Dimulai Oktober-November
BAGIKAN:

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait memastikan program penyerapan 2,5 juta genteng produksi UMKM dari Purwakarta dan Majalengka berjalan pada Oktober sampai November. Rinciannya, 500 ribu genteng akan dikirim ke Purwakarta bulan depan dan 2 juta genteng dikirim ke Jatiwangi, Majalengka. Kebijakan itu disampaikan Ara—sapaan akrabnya—dalam Forum Koordinasi Penanganan Permukiman Kumuh Terpadu di Gedung BJ. Habibie BRIN Jakarta Pusat, Senin (14/9).

Ara menegaskan genteng tersebut berasal dari produksi UMKM. “500 ribu genteng akan dikirimkan bulan depan di Purwakarta, dan 2 juta genteng produk UMKM kita, itu akan kita kirim di Jatiwangi, Majalengka. Sehingga nanti masyarakat kecil UMKM juga bisa merasakan dapat pembangunan,” kata Ara. Pernyataan itu menegaskan orientasi program: bukan sekadar pengadaan atap, tetapi juga penyerapan hasil produksi usaha kecil.

Meski diproduksi UMKM, Ara tidak meragukan kualitas genteng. Ia menyebut semua genteng telah melalui sertifikasi. Ara juga meminta daerah lain, khususnya Jawa Timur, peka terhadap potensi produksi genteng oleh UMKM. Ia berkomitmen membina UMKM terkait dan menyerap hasil produksinya.

“Saya mohon juga Ibu Gubernur Jawa Timur, kalau boleh UMKM-UMKM Jawa Timur juga pasti banyak, biar dibina supaya kami bisa nanti melakukan pemesanan. Kalau bisa nanti setiap provinsi itu jangan jadi pasar, tapi jadi produser, supaya pesannya dari provinsi itu, supaya bisa menggerakkan ekonomi di tempat itu,” ungkapnya.

Ara juga membeberkan dua kota dengan tingkat penggunaan asbes paling banyak, yakni Jakarta dan Bangka Belitung. Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap DKI Jakarta merupakan provinsi kedua paling banyak menggunakan atap asbes, sebesar 54,6 persen dari total rumah. Peringkat pertama dipegang Kepulauan Bangka Belitung, yaitu sebesar 56,7 persen.

Menurut Ara, penggantian atap asbes dengan genteng penting dari sisi kesehatan karena paparan asbes dapat membahayakan tubuh. “Iya dong (diganti) karena asbes itu kan tidak sehat, ya. Yang paling tinggi itu dari data BPS, itu persentasenya ada di Jakarta dan Bangka Belitung,” kata Ara.

Analisis Redaksi

Langkah Ara memesan genteng dari UMKM Purwakarta dan Majalengka menyatukan dua agenda: penyediaan atap yang lebih sehat dan penguatan ekonomi lokal. Jika serapan berjalan sesuai rencana, uang pembangunan tidak hanya berpindah ke produsen besar, tetapi juga mengalir ke usaha kecil di daerah. Ini tafsir logis dari pernyataan Ara yang menekankan agar setiap provinsi tidak sekadar menjadi pasar, melainkan produsen.

Data BPS soal Jakarta dan Bangka Belitung menunjukkan penggantian asbes bukan pekerjaan kecil. Dengan 54,6 persen rumah di DKI Jakarta dan 56,7 persen di Kepulauan Bangka Belitung masih beratap asbes, kebutuhan genteng bisa jauh lebih besar dari 2,5 juta unit. Karena itu, program ini perlu dilihat sebagai awal, bukan akhir. Pemerintah mesti memastikan pasokan UMKM siap, distribusi lancar, dan sertifikasi tetap terjaga.

Yang perlu diwaspadai, permintaan besar bisa memicu masalah kualitas jika pengawasan lengah. UMKM butuh pendampingan produksi, bukan hanya pesanan. Jika eksekusi rapi, program gentengisasi dapat menjadi contoh bahwa kebijakan perumahan bisa sekaligus menggerakkan ekonomi daerah dan mengurangi risiko kesehatan dari paparan asbes.

Meow! Tanya Nesi!
😸