Istana Bantah Pencopotan Purbaya Yudhi Sadewasa Terkait Perombakan Pejabat Kemenkeu
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Wakil Menteri Sekretaris Negara Bambang Eko Suhariyanto secara tegas membantah pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa dari kursi Menteri Keuangan berkaitan dengan langkah kontroversialnya merombak ratusan pejabat di lingkungan kementerian tersebut. Bantahan dari Istana ini disampaikan menanggapi klaim terbuka yang sebelumnya dilontarkan oleh Purbaya usai prosesi serah terima jabatan dengan penggantinya, Suahasil Nazara, di Jakarta.
"Oh itu pengakuan Pak Purbaya ya? Tapi sebetulnya enggak. Tidak ada yang istimewa. Pergantian kapan saja itu sebetulnya Menteri wakil Menteri siap diganti," ujar Bambang saat memberikan keterangan resmi kepada para wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Rabu (16/9).
Lebih lanjut, pihak Istana mengaku sama sekali tidak mengetahui apabila terdapat persoalan internal pelik yang melatarbelakangi pencopotan mendadak tersebut. Bambang menegaskan bahwa dari perspektif pemerintah pusat, rotasi jabatan menteri merupakan hal yang wajar terjadi dan sepenuhnya berada dalam ranah kewenangan eksekutif tertinggi.
Sebelumnya, Purbaya Yudhi Sadewa digantikan oleh Suahasil Nazara yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan pada Senin (14/9). Saat memberikan pernyataan pers usai serah terima jabatan di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, pada Selasa (15/9), Purbaya terang-terangan menduga keputusan perombakan pejabat yang ia lakukan beberapa hari sebelumnya menjadi pemicu utama pencopotannya.
Kecurigaan Purbaya beralasan mengingat pada Kamis (10/9), sewaktu masih menjabat sebagai menteri, ia memang melakukan perombakan besar-besaran di tubuh Kemenkeu. Tercatat ada sekitar 50 pegawai level Eselon II dan 350 pegawai level Eselon III yang dirotasi secara masif, menyusul penataan ulang di Direktorat Jenderal Pajak, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, hingga jajaran fungsional dan direksi Special Mission Vehicle.
Kendati demikian, Purbaya sendiri menepis spekulasi liar yang menyebutkan bahwa pemberhentiannya dilatarbelakangi oleh gesekan atau konflik terbuka dengan anak buahnya di internal Kemenkeu. Ia tetap menghormati keputusan presiden dan mengakui bahwa perombakan kabinet merupakan hak prerogatif kepala negara yang harus diterima dengan lapang dada.
Analisis Redaksi
Dinamika pencopotan menteri yang diiringi silang pendapat antara pengakuan pejabat terdahulu dan sanggahan Istana menunjukkan dinamika kabinet yang menarik dicermati. Di satu sisi, Purbaya secara terbuka membaca pola sebab-akibat antara tindakan tegasnya merombak birokrasi Kemenkeu dengan keputusan pemecatannya. Di sisi lain, Istana bergeming pada argumen normatif bahwa perombakan adalah hak prerogatif presiden tanpa ada muatan khusus. Kontras ini memperlihatkan betapa rentannya posisi pejabat publik ketika melakukan reformasi struktural yang menyenggol zona nyaman birokrasi mapan.
Publik patut mewaspadai apakah perombakan di Kemenkeu ini akan diteruskan oleh kepemimpinan baru di bawah Suahasil Nazara atau justru dianulir secara perlahan. Langkah-langkah konsolidasi internal dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi indikator kunci apakah kebijakan fiskal Indonesia benar-benar steril dari intervensi kepentingan elite birokrasi lama yang posisinya sempat digoyang oleh kebijakan Purbaya.


