Taruna Ikrar Ajak 6.000 Mahasiswa Unand Taklukkan Dunia lewat Inovasi dan Kolaborasi ABG
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Taruna Ikrar mengajak sekitar 6.000 mahasiswa Universitas Andalas (Unand) berani bermimpi besar dan mempersiapkan diri untuk bersaing di tingkat global. Ajakan itu disampaikan di Auditorium Universitas Andalas, Padang, Selasa (15/9), dalam forum yang dihadiri ribuan mahasiswa.
Di hadapan mereka, Taruna menegaskan pentingnya target tinggi. “Raih prestasi setinggi-tingginya. Jangan hanya berpikir bagaimana menaklukkan Indonesia, tetapi siapkan diri untuk menaklukkan dunia,” ujar Taruna dalam rilisnya, Selasa (15/9).
Taruna mengatakan perkembangan kecerdasan buatan, bioteknologi, kesehatan, ekonomi digital, dan transformasi industri membuka peluang besar bagi generasi muda untuk menjadi inovator dan pemimpin global.
Dia juga memperkenalkan konsep neuroscience leadership, yakni pendekatan kepemimpinan yang menekankan kemampuan mengelola emosi, mengambil keputusan secara rasional, membangun empati, dan memimpin diri sendiri.
Selain pengembangan kapasitas individu, Taruna menekankan pentingnya kolaborasi Academia, Business, dan Government (ABG). Menurutnya, riset dan pengetahuan dari kampus harus dapat dihilirkan menjadi inovasi, produk, serta manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Taruna mencontohkan UMKM rendang Sumatera Barat sebagai salah satu potensi yang dapat dikembangkan melalui kolaborasi tersebut. Perguruan tinggi dapat berperan dalam riset dan inovasi, dunia usaha memperkuat produksi dan pasar, sementara pemerintah membangun regulasi serta ekosistem pendukung.
Analisis Redaksi
Pesan Taruna di Auditorium Unand bukan sekadar seruan motivasi. Sebagai Kepala BPOM RI, ia membawa perspektif bahwa daya saing global tidak lagi ditentukan hanya oleh kemampuan akademik, tetapi juga oleh kesiapan mengelola emosi, mengambil keputusan rasional, dan berempati. Dalam konteks mahasiswa, konsep neuroscience leadership menawarkan kerangka yang lebih konkret daripada retorika menaklukkan dunia.
Gagasan kolaborasi Academia, Business, dan Government memberi arah praktis. Kampus tidak cukup menghasilkan riset; dunia usaha perlu memperkuat produksi dan pasar; pemerintah menyiapkan regulasi serta ekosistem. Jika pola ini diterapkan pada UMKM rendang Sumatera Barat, hilirisasi pengetahuan bisa berujung pada produk bernilai tambah, lapangan kerja, dan manfaat ekonomi yang lebih luas.
Yang perlu diwaspadai adalah jarak antara gagasan dan eksekusi. Tanpa tindak lanjut yang terukur, ajakan menaklukkan dunia hanya berhenti sebagai pidato. Langkah logis berikutnya adalah memastikan kolaborasi ABG berjalan di tingkat program, bukan sekadar forum. Mahasiswa, pelaku usaha, dan pemerintah daerah perlu menerjemahkan pesan itu menjadi agenda kerja yang bisa dievaluasi.


