Basarnas Hentikan Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Selat Sunda Usai 10 Hari Tanpa Jejak

Berita Daerah
Budi SantosoBudi Santoso
Sumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Basarnas Hentikan Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Selat Sunda Usai 10 Hari Tanpa Jejak
BAGIKAN:

Basarnas resmi menghentikan operasi pencarian lima jurnalis yang hilang di perairan Selat Sunda, Rabu (17/9/2026), setelah sepuluh hari penelusuran tidak menemukan jejak apapun dari keberadaan korban.

Keputusan penghentian disampaikan Kepala Basarnas Muhamad Syaugi melalui konferensi pers virtual di Jakarta. "Kami telah mengeksploitasi seluruh potensi dan sumber daya yang tersedia, namun hingga hari kesepuluh ini tidak ada temuan signifikan yang mengarah pada keberadaan kelima jurnalis," ucap Syaugi dengan nada hampa.

Operasi yang dimulai sejak 8 September melibatkan 14 kapal, empat helikopter, serta personel gabungan dari TNI, Polri, KPLP, dan Basarnas sendiri. Cakupan pencarian diperluas hingga radius 60 mil laut dari titik terakhir terdeteksi, mencakup perairan sekitar Gunung Anak Krakatau hingga jalur lintas Selat Sunda yang dikenal berarus deras dan tidak menentu.

Kelima jurnalis tersebut dilaporkan hilang saat melakukan liputan lapangan di area Gunung Anak Krakatau. Identitas korban dan media tempat mereka bekerja hingga penutupan berita ini belum dibuka secara resmi oleh Basarnas, mengingat sensitivitas keluarga dan proses identifikasi yang belum selesai. Tim SAR terakhir kali menemukan peralatan pribadi yang diduga milik korban di pantai Selatan Lampung, namun barang bukti itu tidak cukup untuk menentukan lokasi pasti korban.

Penghentian pencarian ini menimbulkan gelombang kekhawatiran di kalangan pers dan komunitas mitigasi bencana. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) meminta pemerintah untuk tidak menutup kasus begitu saja, mengingat wilayah Selat Sunda memiliki karakteristik geologi dan oseanografi yang kompleks dengan arus timbal balik antara Samudra Hindia dan Laut Jawa.

Analisis Redaksi

Penghentian pencarian setelah sepuluh hari tanpa hasil adalah keputusan operasional yang rasional dari sisi logistik dan keselamatan personel SAR, namun secara humaniter meninggalkan luka terbuka bagi keluarga dan rekan seprofesi. Selat Sunda bukan perairan biasa; interaksi arus laut, aktivitas vulkanik Anak Krakatau, dan dasar laut yang tidak rata menciptakan 'lubang hitam' bagi operasi pencarian konvensional. Pengalaman kasus KM Sinar Bangun di Danau Toba dan Lion Air JT610 di Laut Jawa menunjukkan bahwa temuan baru sering muncul berbulan-bulan kemudian, sering kali oleh nelayan atau petugas pengawasan laut rutin, bukan oleh tim SAR inti.

Yang perlu diwaspadai kini adalah celah kooridinasi pasca-pencarian. Basarnas telah menyerahkan tanggung jawab ke Polri untuk jalur penyidikan kepolisian, namun tanpa jejak fisik, penyidikan kejahatan pun terjebak pada dugaan-dugaan. Langkah logis selanjutnya adalah pembentukan tim tugas gabungan yang tidak terikat jadwal SAR ketat, melibatkan komunitas nelayan, pengamat vulkanologi, dan ahli forensik maritim untuk memetakan kemungkinan drift arus balik. Pers tidak boleh biarkan kasus ini tenggelam bersama arus Selat Sunda.

Meow! Tanya Nesi!
😸