Eskalasi Yaman Ancam Pasokan Minyak Global, Harga Diesel AS Sentuh Rekor
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Konflik Timur Tengah meluas ke Yaman setelah Arab Saudi melancarkan serangan udara, sementara kelompok Houthi yang didukung Iran mengaku menembakkan drone dan rudal ke sejumlah kota Saudi pada Rabu (16/9/2026), memperparah krisis energi yang sudah berlangsung enam bulan.
Serangan Saudi terjadi setelah Houthi bergerak cepat menguasai wilayah pesisir Laut Merah Yaman serta pulau-pulau di Selat Bab el-Mandeb. Juru bicara militer Houthi Yahya Saree mengklaim kelompoknya menyerang pelabuhan minyak utama Saudi di Yanbu dan pangkalan udara Khamis Mushait, serta menembak jatuh jet tempur F-15 — klaim yang belum dibuktikan langsung. Sebaliknya, pejabat pemerintahan Yaman yang didukung Saudi mengakui serangan udara bersama ke posisi Houthi, meski Riyadh belum mengonfirmasi.
Amerika Serikat merespons dengan memperketat peringatan perjalanan, melarang pegawainya bepergian ke radius 32 kilometer dari perbatasan Saudi-Yaman. Houthi merilis video yang memperlihatkan pejuangnya merebut kendaraan lapis baja pasukan pro-Saudi, pesawat tempur melintas, dan ledakan membumbung di gurun. Saree menyebut Saudi telah melancarkan hingga 450 serangan udara dalam seminggu ini.
Kecemasan puncak ketika Saudi pada Selasa mengumumkan pertahanan udaranya menembak jatuh drone Houthi di selatan Makkah, menyebutnya melanggar "garis merah" tempat suci. Saree membantah menargetkan Makkah, menuduh laporan Saudi sebagai propaganda. Di tengah eskalasi, sumber Reuters mengungkap pejabat AS bertemu perwakilan Houthi di Oman akhir pekan lalu; Houthi menyatakan tidak berniat menyerang kapal AS dan tetap komitmen pada gencatan senjata 2025.
Dampak ke pasar energi terasa seketika. Harga minyak Brent mengarah US$108 per barel, mendekati level tertinggi sejak Mei. Rata-rata ritel diesel AS menembus US$6,30 per galon — rekor pertama kalinya — angka yang sensitif secara politik. Para pedagang memperkirakan penutupan berkepanjangan Pipa East-West Saudi, rute pengalihan ekspor dari Selat Hormuz yang diblokade, berpotensi memangkas pasokan global hingga 4%.
Menteri Energi AS Chris Wright menilai aliran minyak melalui jaringan pipa tersebut diperkirakan pulih dalam beberapa hari, namun Saudi belum memberikan jadwal pasti. Konflik ini memasuki babak baru sejak Houthi pada Juli lalu menyatakan blokade laut terhadap Saudi dan menyerang wilayah selatan kerajaan. Kekerasan melonjak bulan ini setelah Houthi mendorong mundur pasukan pro-pemerintah Yaman yang didukung Saudi.
Putra Mahkota Mohammed bin Salman sempat menelepon Presiden Donald Trump meminta dukungan militer, namun bantuan AS hingga kini terbatas pada intelijen. AS sendiri pernah membombardir posisi Houthi dua bulan pada 2025 sebelum menghentikan kampanye usai tercapai kesepakatan gencatan senjata yang Trump sebut berhasil menghentikan serangan ke kapal.
Analisis Redaksi
Perluasan medan tempur ke Yaman menandai titik kritis dalam arsitektur keamanan energi Timur Tengah. Selat Bab el-Mandeb dan Pipa East-West bukan sekadar infrastruktur Saudi, tapi klep pengaman pasokan global saat Selat Hormuz tidak berfungsi. Ketika kedua jalur ini terancam bersamaan, pasar tidak lagi menghadapi risiko supply disruption parsial, melainkan kemungkinan shock sistemik yang sulit dikompensasi cadangan strategis negara-negara pembeli.
Klaim-klaim timbal balik antara Saudi dan Houthi — soal drone Makkah, jet F-15, hingga 450 serangan udara — menciptakan kabut perang yang menyulitkan verifikasi independen. Namun fakta di lapangan jelas: Houthi kini menguasai posisi strategis di Bab el-Mandeb, dan kemampuan mereka menembak Yanbu serta Khamis Mushait menunjukkan jangkauan operasional yang melampaui asumsi sebelumnya. Pertemuan AS-Houthi di Oman mengisyaratkan saluran diplomasi tetap terbuka, tapi komitmen "tidak menyerang kapal AS" tidak menjamin keamanan Infrastruktur minyak Saudi.
Langkah selanjutnya yang perlu diwaspadai: apakah eskalasi ini memicu intervensi militer AS yang lebih dalam melampaui intelijen, atau justru mendorong Arabia Saudi ke meja negosiasi posisi lemah. Harga diesel AS yang sentuh rekor US$6,30 per galon menciptakan tekanan politik domestik bagi Trump — variabel yang historis sering menentukan keputusan Washington di Timur Tengah. Jika pipa East-West tidak pulih dalam "beberapa hari" perkiraan Wright, pasar akan mulai mempricing skenario penutupan jangka panjang, dan angka 4% kekurangan pasokan global bisa jadi konservatif.


