Rupiah Buka Melemah ke Rp17.764 per Dolar AS, Analis Sebut Tekanan Kebijakan Fed
Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Rupiah dibuka melemah ke level Rp17.764 per dolar AS pada perdagangan Kamis (17/9) pagi, turun 68 poin atau 0,38 persen dari penutupan sebelumnya. Pelemahan itu terjadi seiring bergeraknya mata uang Asia secara bervariasi terhadap mata uang cadangan dunia.
Di kawasan Asia, yuan China melorong 0,04 persen, peso Filipina turun 0,14 persen, ringgit Malaysia terdepresiasi 0,57 persen, dan won Korea Selatan melemah 0,46 persen. Sementara itu, dolar Singapura naik 0,05 persen, yen Jepang menguat 0,09 persen, dan dolar Hong Kong bergerak datar.
Pergerakan bervariasi juga terlihat pada mata uang negara maju. Euro Eropa melemah 0,03 persen, poundsterling Inggris turun 0,05 persen, serta dolar Kanada anjlok 0,04 persen. Sebaliknya, dolar Australia menguat 0,11 persen dan franc Swiss naik 0,01 persen terhadap greenback.
Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong menilai tekanan pada rupiah dipicu oleh keputusan The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin (bps). "Pernyataan hawkish dari Ketua The Fed Warsh juga mendorong lonjakan indeks dolar AS serta meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga lebih lanjut pada akhir tahun," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Ia memproyeksikan pergerakan rupiah hari ini akan bergerak dalam rentang Rp17.650 hingga Rp17.800 per dolar AS. Rentang itu mencerminkan ketidakpastian pasar global yang masih mencerna implikasi kebijakan moneter ketat di ekonomi terbesar dunia.
Pelemahan pagi ini menambah beban importir dan pemegang utang berbasis dolar, sekaligus menguji ketahanan cadangan devisa Bank Indonesia. Pelaku pasar kini menunggu rilis data ekonomi AS berikutnya untuk menilai apakah siklus kenaikan suku bunga benar-benar telah berakhir atau masih menyisakan satu kali lagi.
Analisis Redaksi
Dominasi narasi Fed tetap menjadi penggerak utama sentimen pasar emergin, termasuk rupiah, mengesampingkan fundamental domestik yang relatif sehat. Ketika Warsh mengeluarkan nada hawkish, pasar tidak peduli dengan surplus transaksi berjalan Indonesia; aliran modal cenderung ke aman (risk-off) dan indeks dolar melonjak, mendorong rupiah ke batas bawah proyeksi analis.
Yang perlu diwaspadai adalah kemungkinan rupiah menembus batas Rp17.800 jika data inflasi AS atau pengangguran minggu depan menunjukkan ketahanan pasar tenaga kerja. Dalam skenario itu, Bank Indonesia kemungkinan besar akan konsisten menjaga stabilitas melalui intervensi triple intervention dan mempertahankan suku bunga acuan di level tinggi, setidaknya hingga ada kejelasan pivot dari The Fed.


