Tim SAR Temukan Liferaft KM Virgo 8, Sonar TNI AL Deteksi Kapal di Dasar Laut

Berita Daerah
Budi SantosoBudi Santoso
Sumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Tim SAR Temukan Liferaft KM Virgo 8, Sonar TNI AL Deteksi Kapal di Dasar Laut
BAGIKAN:

Tim pencarian dan pertolongan gabungan menemukan liferaft diduga milik KM Virgo Transport 8 di perairan Kuala Pembuang, Kamis (17/9), saat operasi hari kelima memasuki fase penetapan posisi kapal yang terbalik di Laut Jawa sejak Rabu (16/9) kemarin.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banjarmasin I Putu Sudayana mengonfirmasi penemuan perahu karet itu sambil membeberkan perkembangan terbaru: pemantauan visual dari jarak 1,1 mil laut sudah tidak menangkap jejak badan kapal di permukaan. "Deteksi bawah air oleh unsur TNI AL menggunakan sonar aktif berhasil mengidentifikasi posisi objek yang diduga kapal pada koordinat 04°31,667' S - 114°00,245' T, dengan pergeseran sekitar 500 yard ke arah tenggara dari posisi sebelumnya," ujarnya.

Strategi hari ini membagi operasi menjadi dua sektor utama. Unsur udara — helikopter Basarnas, Polri, dan TNI AL — difokuskan menyisir area seluas 1.489 mil laut persegi. Di bawahnya, empat sektor laut dengan total luas 5.600 mil laut persegi dikerahkan ratusan personel serta armada lengkap: kapal SAR, kapal perang, pesawat, hingga peralatan pendukung evakuasi.

Cuaca yang berubah cepat jadi musuh utama sejak awal. Putu mengakui tim lapangan kerap terjebak perpindahan kondisi mendadak, meski hari ini langit cerah berawan dengan gelombang 1 hingga 1,5 meter — cukup ramah untuk gerakan optimal. KM Virgo Transport 8 sendiri hilang kontak pada Minggu (13/9) pukul 02.00 Wita, saat berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin sejak Sabtu (12/9) lalu.

Kapal ro-ro itu membawa 243 jiwa — penumpang, awak, hingga kru. Hingga Senin (14/9), 114 orang berhasil diselamatkan. Angka 129 jiwa lain tetap jadi beban pikiran seluruh komponen SAR, keluarga, dan publik yang menunggu kabar di dermaga dan posko.

Analisis Redaksi

Penemuan liferaft dan deteksi sonar bukan sekadar kemajuan teknis; itu titik balik narasi dari pencarian permukaan ke eksekusi evakuasi bawah air. Pergeseran posisi kapal 500 yard ke tenggara mengindikasikan arus bawah yang cukup kuat — faktor yang harus jadi acuan penempatan tali tampar dan penentuan titik masuk nurul. Jika badan kapal memang sudah miring di dasar, risiko kebocoran bahan bakar dan bahan berbahaya (B3) jadi ancaman nyata bagi ekosistem perairan Kuala Pembuang dan pantai sekitarnya.

Langkah logis selanjutnya adalah penetapan zona keamanan (safety zone) ketat oleh Dirjen Perhubungan Laut guna mencegah tabrakan kapal niaga dengan armada SAR, serta pengaktifan tim penyelidik kecelakaan laut (KNKT/Komite Nasional Keselamatan Transportasi) sejak dini. Bukti fisik — liferaft, debris, hingga kotak hitam jika ada — harus diamankan dengan protokol bukti forensik, bukan sekadar dikumpulkan. Keluarga 129 orang yang hilang butuh jalur informasi tunggal, teratur, dan bermartabat; bukan rumor media sosial yang justru melukai lagi.

Meow! Tanya Nesi!
😸