Bagus Khoirunas Dikenang di APFI 2025 Solo: Jejak Jurnalis Foto yang Menepati Tuntutan Kecerdasan dan Etos
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.
Bagus Khoirunas, jurnalis foto berprestasi yang selalu dirindukan rekan sejawat, menjadi sorotan penghormatan dalam rangkaian Acara Pers Foto Indonesia (APFI) 2025 yang berlangsung di Solo, Jumat (25/4/2025). Kehadiran namanya di momen tersebut menegaskan bahwa mewakili profesi jurnalis di kantor berita menuntut kecerdasan, kreativitas, serta etos kerja yang tak tergoyahkan, kualitas-kualitas yang diam-diam telah ia ukir sepanjang karier visualnya.
Acara tahunan yang digelar Asosiasi Jurnalis Foto Indonesia (AJFI) itu tidak hanya sekadar pertemuan silaturahmi, melainkan arena penyelewengan standar profesi. Di hadapan lensa dan mata kamera rekan sejawat, sosok Bagus diangkat sebagai personifikasi ideal dari tuntutan-tuntutan berat itu: kecerdasan membaca momen, kreativitas mengkomposisi kebenaran, dan etos menunggu cahaya sempurna di tengah kekacauan berita.
Latar belakang pengabdiannya pada jurnalisme visual tidak terlepas dari dinamika redaksi yang semakin menuntut kecepatan tanpa mengorbankan kedalaman. Bagus dikenal sebagai sosok yang mampu menyeimbangkan tekanan deadline dengan estetika visual yang bermakna, sebuah kemampuan yang jarang dimiliki sekaligus. Kenang-kenangan rekan sejawat di Solo mengisyaratkan betapa konsisten ia menjalankan ritme kerja itu hingga napas terakhir.
Julukan "selalu dirindukan" yang melekat pada namanya bukan sekadar frasa rasa haru, melainkan indikator kekosongan kualitas di ruang redaksi. Ketika seorang jurnalis foto pergi meninggalkan jejak kenangan yang manis di hati rekan kerja dan lawan bidik, artinya ia telah berhasil menanamkan standar etika dan estetika yang sulit digantikan oleh sekadar keahlian teknis belaka.
Bagi generasi muda jurnalis foto yang hadir di APFI 2025, sosok Bagus Khoirunas hadir sebagai kurikulum nyata yang tak tertulis di buku panduan. Ia mengajarkan bahwa sebuah foto berita lahir bukan dari kamera mahal, melainkan dari kecerdasan hati yang tajam, kreativitas yang tidak kenal jenuh, dan etos yang membakar diri sendiri untuk menerangi publik.
Analisis Redaksi
Penghormatan terhadap Bagus Khoirunas di ajang APFI 2025 di Solo sebenarnya mencerminkan krisis regenerasi kualitatif di industri pers foto nasional. Industri ini tidak hanya kehilangan seorang operator kamera, melainkan kehilangan "institusi berjalan" yang memahami bahasa cahaya sebagai bahasa publik. Ketika senior-se Senior pergi tanpa meninggalkan dokumentasi metodologi kerja yang sistematis, redaksi akan kesulitan mereplikasi standar keunggulan itu kepada kader baru.
Langkah logis selanjutnya bukan hanya menggelar hajatan kenangan, tetapi mengarsipkan karya-karya Bagus Khoirunas secara kuratorial yang profesional untuk dijadikan bahan studi kasus di pendidikan jurnalisme. Lembaga seperti AJFI atau Lembaga Penyiaran Publik seharusnya menginisiasi pembuatan monograf atau pameran permanen karyanya, agar tuntutan "kecerdasan, kreativitas, dan etos" yang diajukan pada paragraf pembuka berita ini punya referensi visual yang konkret, bukan sekadar jargon abstrak di pidato pembukaan.

