IJTI Sulsel Gelar Doa Bersama, Minta Keselamatan Lima Jurnalis yang Hilang

Hukum
Budi SantosoBudi Santoso
Sumber: Antara News
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

IJTI Sulsel Gelar Doa Bersama, Minta Keselamatan Lima Jurnalis yang Hilang
BAGIKAN:

Puluhan jurnalis tergabung dalam Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sulawesi Selatan menggelar doa bersama di Makassar, Rabu (17/9/2026), mengutuk ketidakpastian nasib lima rekan profesi yang hingga kini belum diketahui keberadaan mereka. Acara itu berlangsung di depan sekretariat IJTI Sulsel, dihadiri wartawan dari berbagai lembaga televisi lokal dan nasional yang menghadapi tekanan emosional yang sama: kegelisahan tak berujung.

Dalam suasana sunyi yang dipenuhi kerendahan hati, mereka membaca doa sesuai keyakinan masing-masing, memohon keselamatan bagi kelima korban. Foto-foto kegiatan yang tersebar menunjukkan deretan jurnalis berdiri menggenangi bahu, memegang spanduk hitam bertuliskan permintaan agar pencarian dilaksanakan secara serius dan transparan oleh aparat penegak hukum.

Ketua IJTI Sulsel, Andi Rahman, dalam sambutan singkatnya menegaskan solidaritas organisasi tidak akan padam sebelum kelima jurnalis itu kembali ke pangkuan keluarga. "Kami menuntut kepastian, bukan sekadar janji," ucapnya dengan nada tegas di hadapan kamera. Ia mengaku telah mengirimkan surat resmi ke Kepolisian Daerah Sulsel dan Komnas HAM mendesak percepatan investigasi.

Nama-nama kelima jurnalis tersebut — yang hingga paragraf ini ditulis belum resmi diumumkan kepolisian untuk kelancaran investigasi — telah menjadi topik percakapan di ruang redaksi se-Sulawesi sejak seminggu lalu. Rekan-rekan mereka menceritakan terakhir kali korban terlihat meliput perkara pidana yang sensitif di wilayah perbatasan, detail yang sengaja diragukan untuk keamanan proses hukum.

Kegiatan doa ini sekaligus menjadi demonstrasi diam menentang budaya kekejaman dan ketidakberanian negara melindungi pelaku kriminalitas terhadap pers. Beberapa jurnalis senior yang hadir mengakui, ini bukan pertama kalinya mereka merasa rentan. "Kami bekerja dengan nyawa di telapak tangan, tapi hukum seolah tak peduli," ujar seorang kameraman yang menolak disebut nama.

Analisis Redaksi

Vigil doa yang digelar IJTI Sulsel bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan tekanan politik yang terukur. Dalam konteks kekerasan terhadap jurnalis di Indonesia yang cenderung terselesaikan di meja hijau tanpa keadilan nyata, aksi ini memaksa polisi dan pejabat untuk bergerak dari narasi "sedang ditangani" ke bukti fisik: temuan jasad atau bukti hidup. Kehadiran puluhan wartawan dari media televisi — yang secara alami punya akses siaran — memastikan peristiwa ini tak bisa dibungkam atau diremehkan sebagai keluhan kecil.

Yang perlu diwaspadai selanjutnya adalah respons aparat. Jika polisi hanya mengeluarkan pernyataan standar tanpa *timeline* pencarian yang pasti, tekanan akan beralih ke jalur hukum internasional dan advokasi ke Komnas HAM serta UNESCO. Langkah logis IJTI dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) kemungkinan besar akan mengeskalasi ke gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) atas kelalaian negara melindungi hak hidup warganya, sekaligus mendorong RUU Perlindungan Jurnalis yang tertidur di DPR agar jadi prioritas legislasi.

Meow! Tanya Nesi!
😸