Tiga Penambang Ilegal Tewas Tertimbun Longsor di Batang Gadis, Polres Imbau Hentikan PETI
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Tiga penambang emas ilegal tewas tertimbun longsoran tebing di aliran Sungai Batang Gadis, Desa Sipapaga, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, Jumat (18/9). Korban yang dikenali Idir (56), Rahmat (46), dan Samsul (47) semuanya warga setempat yang tengah menggali di titik Lubuk Subong saat tanah longsor mengubur mereka secara tiba-tiba.
Kepala Humas Polres Mandailing Natal, Bripka Roy Manurung, mengonfirmasi kronologi peristiwa itu berawal dari suara gemuruh reruntuhan tebing yang didengar warga sekitar. Warga lalu bergegas ke lokasi dan menemukan material tebing telah menutupi ketiga korban yang sudah tidak bernyawa saat ditemukan.
Proses evakuasi pun dilakukan secara gotong royong oleh warga sebelum jenazah dibawa ke rumah duka. Keluarga korban telah menandatangani surat pernyataan menolak autopsi dan tidak akan menuntut proses hukum lebih lanjut, menutup kemungkinan investigasi kejahatan di balik tragedi alami ini.
Di balik duka, Polres Mandailing Natal yang tergabung dalam Satgas Penambangan Tanpa Izin (PETI) menegaskan akan terus melakukan penertiban keras. "Aktivitas tersebut selain melanggar hukum, juga memiliki risiko keselamatan sangat tinggi, terutama di kawasan aliran sungai maupun tebing rawan longsor," tegas Bripka Roy saat dihubungi, Jumat (18/9).
Imbauan itu bukan sekadar formalitas. Lubuk Subong dan sejumlah titik di Batang Gadis telah lama jadi sarang penambangan liar yang merusak ekosistem sungai dan mengancam nyawa penambangnya sendiri. Setiap kali hujan turun, tebing longsor jadi ancaman nyata yang tak bisa ditebak kapan datang.
Analisis Redaksi
Kematian tiga orang dalam satu kejadian longsor ini bukan statistik baru, melainkan pengulangan tragis dari ekonomi keputusasaan. Ketika pertanian tak lagi menjanjikan dan lapangan kerja formal sulit dijangkau, sungai jadi 'ATM' terakhir bagi warga pedalaman—meski tarikannya berupa nyawa. Penolakan keluarga terhadap autopsi dan proses hukum menunjukkan tingkat kepercayaan rendah pada sistem, sekaligus keinginan cepat menyelesaikan duka tanpa birokrasi yang memusingkan.
Penertiban Satgas PETI memang diperlukan, tapi razia semata tidak akan memutus akar masalah selama kemiskinan struktural di pedalaman tidak tersentuh. Pemerintah daerah perlu hadir dengan program diversifikasi ekonomi yang nyata, bukan hanya imbauan lewat media. Selama mulut tambang liar tetap jadi satu-satunya jalan keluar ekonomi, longsor akan terus mengorbankan korban baru di tebing Batang Gadis.

