BOJ Naikkan Suku Bunga ke 1,25 Persen, Tertinggi Sejak 1995; Yen Masih Tertekan
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Bank of Japan (BOJ) mengangkat suku bunga acuan ke 1,25 persen pada Jumat (18/9), level tertinggi dalam 31 tahun, menandakan komitmen bank sentral untuk terus menaikkan biaya pinjaman guna meredam tekanan inflasi yang persisten. Keputusan itu disepakati dengan suara 7-2; Toichiro Asada dan Ayano Sato mencatat keberatan.
Kenaikan 25 basis poin dari 1 persen merupakan yang pertama dalam tiga bulan. Langkah itu mendorong suku bunga kebijakan masuk ke batas bawah estimasi kisaran suku bunga netral nominal Jepang β 1,1 hingga 2,5 persen β tingkat yang dinilai tidak mendorong maupun menekan pertumbuhan ekonomi. BOJ telah berulang kali mengangkat suku bunga sejak mengakhiri era stimulus satu dekade pada 2024, termasuk pada Juni lalu.
Dalam pernyataan resmi, BOJ menegaskan inflasi grosir tetap tinggi dan tekanan harga dari transaksi antarbisnis mulai merembet ke harga konsumen. "Inflasi yang mendasari telah mendekati 2 persen," tulis bank sentral itu, mengutip data yang menunjukkan perusahaan terus meneruskan kenaikan biaya upah ke konsumen sementara ekspektasi inflasi naik. Inflasi inti konsumen di Agustus bertahan di sekitar target 2 persen, didorong kenaikan harga makanan dan kebutuhan sehari-hari.
Meskipun proyeksi dasar ekonomi dan harga masih berjalan sesuai skenario, BOJ memperingatkan risiko inflasi menyimpang ke atas. Pelemahan yen β yang tertekan oleh selisih suku bunga lebar dengan Federal Reserve (3,75β4 persen) dan ECB (2,5 persen) β meyakinkan biaya impor dan menambah beban inflasi. Lonjakan harga energi akibat perang Iran memperparah tekanan grosir.
Pasar hampir sepenuhnya telah memperhitungkan kenaikan September ini setelah sinyal hawkish Juli lalu: peringatan risiko inflasi melampaui target akibat kenaikan bahan bakar, impor mahal karena yen lemah, dan permintaan investasi AI yang kuat. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan menyatakan dukungan atas langkah moneter "tegas" untuk mengatasi pelemahan yen saat bertemu Gubernur Kazuo Ueda bulan ini. Konferensi pers Ueda sore ini ditunggu untuk petunjuk kecepatan kenaikan selanjutnya.
Namun, pejabat BOJ termasuk Ueda sendiri belum memberikan gambaran jelas mengenai tempo dan besaran kenaikan mendatang. Kebijakan akan sangat bergantung pada prospek inflasi dan dampak kenaikan sebelumnya terhadap kondisi keuangan. Dalam survei Reuters, mayoritas analis memproyeksikan suku bunga naik ke 1,5 persen akhir Maret 2027 dan 1,75 persen kuartal II 2027, dengan tingkat terminal minimal 1,75 persen.
Analisis Redaksi
Kenaikan kali ini mengunci narasi bahwa Jepang telah benar-benar meninggalkan era suku bunga nol, namun kecepatan normalisasi masih sangat hati-hati dibandingkan bank sentral Barat. Selisih suku bunga yang masif dengan Fed dan ECB mempertahankan tekanan struktural pada yen, menciptakan lingkaran setan: yen lemah β impor mahal β inflasi naik β BOJ terpaksa naikkan suku bunga β namun kenaikan pelan menjaga selisih tetap lebar. Jika upah dan harga makanan terus naik sebagaimana data Agustus, BOJ akan kesulitan menahan dorongan untuk mempercepat tempo pada kuartal depan.
Yang perlu diwaspadai: apakah Ueda akan mengisyaratkan "hike and pause" atau jalur kenaikan bertahap setiap kuartal. Pasar sudah memasangkan terminal rate 1,75 persen, tetapi jika yen tidak merespons signifikan, tekanan politik dari Kementerian Keuangan dan mitra G7 (seperti yang disampaikan Bessent) bisa memaksa BOJ bergerak lebih cepat. Risiko lain: kenaikan terlalu cepat sebelum siklus upah-harga benar-benar berkelanjutan justru membunuh recovery rapuh konsumen.
Langkah logis selanjutnya: BOJ akan menunggu data Shunto (negosiasi upah tahunan) awal 2025 dan data PKB kuartal IV. Jika pertumbuhan upah nyata positif dan konsumen tahan, kenaikan ke 1,5 persen pada Maret 2025 β bukan 2027 seperti proyeksi analis β menjadi skenario realistis. Kunci ada di tangan Ueda: apakah ia mau mempertaruhkan kredibilitas anti-inflasi dengan bertindak preemptif, atau memilih menunggu konfirmasi data dengan risiko yen melambung lebih dalam.
