Janice Tjen Batal ke Asian Games 2026, Pelti Prioritaskan Jalur Olimpiade 2028
Mantan jurnalis olahraga yang kini berfokus pada analisis taktik sepak bola lokal maupun Eropa.

Janice Tjen resmi tidak akan memperkuat tim tenis Indonesia di Asian Games 2026 demi memenuhi kewajiban tampil di China Open, turnamen wajib WTA yang jadwalnya bertabrakan dengan pesta olahraga Asia tersebut. Keputusan ini diambil setelah kalkulasi ketat soal konsekuensi poin ranking yang berujung pada target jangka panjang: Olimpiade Los Angeles 2028.
Sekretaris Jenderal PP Pelti Andi Fajar Asti mengonfirmasi bahwa petenis berusia 24 tahun itu terancam denda dan pengurangan poin ranking WTA jika absen di China Open. Penalti poin itu dinilai akan menggeser posisi Janice di papan atas ranking dan mengancam peluangnya lolos kualifikasi Grand Slam. "Kalau sanksi, Pelti siap membayar sanksi. Tidak ada urusan, kita siap membayar," tegas Andi saat dihubungi Antara, Minggu (15/9).
Masalahnya, WTA menolak memberi perlindungan poin ranking bagi Janice meski Pelti sudah mengajukan pengecualian. Berbeda dengan Alexandra Eala yang juga menghadapi ancaman sanksi serupa. Menurut Andi, Eala masih "aman" karena memiliki akumulasi poin yang tebal dari performa awal dan pertengahan tahun ini. "Eala itu punya poin banyak di akhir tahun. Jadi modalnya banyak. Modal ini Eala akan dipakai untuk Grand Slam," ujarnya.
Keputusan ini bukan sekadar soal satu turnamen. Andi menegaskan bahwa penarikan Janice dari Asian Games merupakan bagian dari skema persiapan terstruktur menuju Olimpiade 2028. Mempertahankan ranking dunia dan konsisten berlaga di turnamen level tinggi dianggap kunci untuk mengumpulkan poin kualifikasi Olimpiade nanti.
Indonesia dengan demikian kehilangan salah satu andalan utama di cabang tenis Asian Games 2026. Pelti kini harus menyusun ulang tim tanpa Janice, sementara petenis muda itu akan memfokuskan energi di sirkuit WTA untuk mengejar target yang jauh lebih besar di Los Angeles empat tahun mendatang.
Analisis Redaksi
Keputusan Pelti mencerminkan pragmatisme yang sehat di tengah tekanan kalender WTA yang semakin padat. Memilih China Open daripada Asian Games bukan berarti meremehkan pesta olahraga regional, tapi mengakui realitas sistem ranking dunia yang tidak mengenal kompromi. Poin ranking adalah mata uang keras bagi petenis profesional; kehilangan sepotong poin bisa berarti tergeser dari main draw Grand Slam ke kualifikasi, atau bahkan keluar dari top 100 yang membuka pintu turnamen besar.
Yang perlu diwaspadai adalah bagaimana Pelti mengelola ekspektasi publik dan media soal performa tim tenis di Asian Games tanpa Janice. Tekanan untuk tetap meraih medali akan bergeser ke bahu pemain lain. Jangka panjang, konsistensi Janice di sirkuit WTA 250 hingga 1000 akan menjadi barometer apakah taruhan Pelti ini benar membuahkan hasil di Olimpiade 2028. Satu hal pasti: di era tenis modern, tidak ada jalan pintas ke Olimpiade selain melalui gerbang ranking WTA.
