Ikhtiar Menghidupkan Kembali Tanah Mati Pengabuan di Tengah Geliat Energi PALI

Berita Daerah
Budi SantosoBudi Santoso
Sumber: Antara News
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Ikhtiar Menghidupkan Kembali Tanah Mati Pengabuan di Tengah Geliat Energi PALI
BAGIKAN:

Di tengah deru mesin pengeboran minyak dan eksplorasi energi di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, terselip sebuah ikhtiar gigih untuk memulihkan fungsi lahan yang selama ini tak produktif. Pemerintah daerah bersama berbagai pemangku kepentingan bahu-membahu memutarbalikkan keadaan di wilayah Pengabuan yang sempat dijuluki sebagai tanah mati. Kawasan yang tadinya terdegradasi parah dan kehilangan daya dukungnya kini perlahan-lahan disentuh kembali agar mampu memberikan penghidupan bagi masyarakat sekitar yang mendiami bumi Serepat Serasan.

Eksplorasi migas di Kabupaten PALI memang menjadi motor pertumbuhan ekonomi regional yang masif dalam beberapa dekade terakhir. Namun, aktivitas ekstraktif tersebut meninggalkan tantangan ekologis yang tidak kecil bagi warga lokal yang menggantungkan hidup pada sektor agraris. Menghidupkan kembali kawasan Pengabuan bukan sekadar membalikkan status hukum lahan, melainkan sebuah kerja kebudayaan dan ekologi untuk menyembuhkan luka lingkungan akibat eksploitasi masa lalu.

Kondisi tanah di wilayah tersebut membutuhkan intervensi teknis yang mendesak agar kembali memiliki unsur hara yang memadai untuk aktivitas pertanian rakyat. Para petani setempat bersama tenaga penyuluh pertanian berupaya menerapkan metode pemulihan tanah yang adaptif terhadap karakteristik lahan gambut dan bekas tambang. Upaya ini melibatkan riset lapangan yang mendalam guna memastikan jenis tanaman yang ditanam mampu bertahan sekaligus memperbaiki struktur tanah secara berkala.

Pemerintah Kabupaten PALI menyadari bahwa sektor energi dan sektor pertanian tidak boleh saling mematikan dalam lanskap pembangunan daerah. Sinergi antara korporasi energi yang beroperasi di wilayah tersebut dan kelompok tani lokal menjadi kunci utama keberhasilan restorasi lahan. Keterlibatan aktif warga dalam setiap tahapan pemulihan memastikan bahwa program ini tepat sasaran dan benar-benar menjawab kebutuhan riil di lapangan.

Keberhasilan memulihkan tanah mati di Pengabuan akan menjadi preseden penting bagi daerah-daerah lain di Sumatera Selatan yang menghadapi dilema serupa antara eksploitasi energi dan kelestarian lingkungan. Jika inisiatif ini konsisten dijalankan, kawasan tersebut berpotensi bertransformasi menjadi lumbung pangan baru yang menopang ketahanan pangan kabupaten di tengah gempuran alih fungsi lahan. Publik kini menanti uluran tangan dan komitmen nyata dari semua pihak agar tanah yang sempat mati itu benar-benar kembali hijau dan menghidupi.

Analisis Redaksi

Langkah menghidupkan kembali kawasan Pengabuan di Kabupaten PALI merefleksikan kompleksitas dilema pembangunan daerah yang bertumpu pada sektor ekstraktif. Di satu sisi, penerimaan daerah sangat bergantung pada industri migas, namun di sisi lain, daya dukung lingkungan terus merosot jika tidak diimbangi dengan program mitigasi yang agresif. Transformasi lahan kritis menjadi area produktif membuktikan bahwa pemulihan ekologi harus berjalan paralel dengan aktivitas ekonomi.

Hal yang perlu diwaspadai ke depan adalah potensi inkonsistensi komitmen antara pihak korporasi energi dan pemerintah daerah tatkala harga komoditas global berfluktuasi. Pemulihan tanah mati memerlukan waktu bertahun-tahun dan pendanaan yang berkelanjutan, sehingga tidak boleh berhenti sebatas seremoni penanaman simbolis. Langkah selanjutnya yang secara logis harus ditempuh adalah melembagakan program restorasi ini dalam peraturan daerah yang mengikat, disertai alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang memadai demi menjamin keberlanjutan hidup petani Pengabuan.

Meow! Tanya Nesi!
😸