Toyota Avanza Tanpa Penerangan Terjun ke Sungai Batang Serangan Langkat, Tiga Penumpang Tewas

Berita Daerah
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Toyota Avanza Tanpa Penerangan Terjun ke Sungai Batang Serangan Langkat, Tiga Penumpang Tewas
BAGIKAN:

Tiga orang tewas dan empat lainnya luka-luka setelah mobil Toyota Avanza bernomor polisi BK 1821 AGI terjun ke Sungai Batang Serangan di Dusun Titi Kurus, Desa Karya Jadi, Kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, pada Sabtu (19/9) sekitar pukul 19.15 WIB. Kendaraan yang membawa tujuh penumpang itu melaju dalam kondisi hujan deras tanpa penerangan lampu jalan sebelum akhirnya kehilangan kendali dan masuk ke aliran sungai.

Kanit Gakkum Satlantas Polres Langkat Ipda Budi Sihotang menyatakan kecelakaan ini merupakan kecelakaan tunggal. Pengemudi diduga kurang berhati-hati saat melewati ruas jalan tersebut. "Mobil tersebut mengalami kecelakaan tunggal. Mobil melaju tanpa lampu penerangan langsung terjun ke dalam aliran sungai Batang Serangan," ujarnya, Minggu (20/9/2026).

Kecelakaan bermula saat mobil yang dikemudikan Ismail Sani melaju dari arah Tangkahan menuju Padang Tualang. Saat melintas di Jalan Umum Padang Tualang-Tangkahan, kendaraan tersebut menghadapi cuaca buruk berupa hujan deras. Ketiadaan penerangan lampu jalan menjadi faktor krusial yang membuat pengemudi kehilangan orientasi terhadap tepi badan jalan hingga mobil terperosok ke sungai.

Budi menyebutkan ada tujuh orang di dalam mobil tersebut. Tiga korban meninggal dunia yakni Adit, Egi, dan Hasbi. Tiga orang lainnya mengalami luka ringan, yaitu Ismail Sani, Muhammad Iqbal Al-Fahri, dan Johan Tantawi. Satu penumpang bernama Nadine menderita luka berat akibat benturan keras saat kendaraan masuk ke air.

Seluruh korban langsung dievakuasi dan dibawa ke Rumah Sakit Tanjung Selamat, Batang Serangan untuk penanganan medis. Proses identifikasi berlangsung cepat. "Setelah itu untuk korban meninggal dunia telah diserahkan kepada pihak keluarga," ucap Budi. Keluarga ketiga korban tewas kini tengah berduka menerima jenazah anggota mereka.

Tragedi ini menyingkap kerentanan fatal infrastruktur jalan lintas kecamatan di wilayah Langkat. Ruas Jalan Umum Padang Tualang-Tangkahan yang membelah kawasan dekat aliran sungai ternyata tidak dilengkapi penerangan memadai. Kondisi ini berubah menjadi jebakan maut ketika hujan deras turun pada malam hari dan membatasi jarak pandang pengemudi secara drastis.

Analisis Redaksi

Kecelakaan tunggal ini bukan sekadar kelalaian individu di balik kemudi. Mengendarai mobil tanpa penerangan di jalan gelap yang berdampingan langsung dengan sungai adalah tindakan sangat berbahaya. Namun kita harus bertanya lebih jauh mengapa sebuah jalan umum yang menghubungkan dua wilayah tidak memiliki lampu penerangan sama sekali. Ketidakhadiran infrastruktur dasar ini memindahkan beban keselamatan sepenuhnya ke pundak pengemudi, sebuah situasi yang tidak adil dan jelas mengancam nyawa warga yang melintas setiap hari.

Pihak kepolisian melalui Satlantas Polres Langkat sudah menetapkan dugaan awal penyebab kecelakaan. Langkah logis selanjutnya adalah mendesak pemerintah daerah mengevaluasi kelayakan Jalan Umum Padang Tualang-Tangkahan. Pemasangan penerangan jalan dan rambu peringatan di titik-titik rawan dekat sungai bukan lagi opsi tambahan, melainkan kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda.

Kematian Adit, Egi, dan Hasbi serta luka berat yang diderita Nadine seharusnya menjadi alarm keras bagi pemangku kebijakan. Tanpa intervensi fisik pada infrastruktur jalan, tragedi serupa hanya tinggal menunggu waktu. Warga berhak mendapatkan jaminan keselamatan minimal saat menggunakan fasilitas publik, terutama di jalur-jalur yang secara geografis berbatasan langsung dengan perairan dalam.

Meow! Tanya Nesi!
😸