BRIN Kembangkan Sepatu Murah dan Awet untuk Siswa dari Keluarga Kurang Mampu

Teknologi
Fitriani NingsihFitriani Ningsih
Sumber: Antara News
Fitriani Ningsih
Fitriani Ningsih
Jurnalis Siber

Fokus pada isu keamanan siber, kecerdasan buatan, dan tren teknologi masa depan.

BRIN Kembangkan Sepatu Murah dan Awet untuk Siswa dari Keluarga Kurang Mampu
BAGIKAN:

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyiapkan inovasi sepatu murah dan awet yang secara khusus ditujukan bagi siswa dari keluarga kurang mampu. Langkah ini menjadi jawaban konkret atas mahalnya perlengkapan sekolah yang selama puluhan tahun membebani kantong masyarakat kecil di berbagai pelosok negeri.

Sepatu tersebut dirancang agar tahan lama menghadapi aktivitas harian anak sekolah. BRIN memastikan material yang digunakan tidak mengorbankan kualitas demi menekan harga jual. Fokus utama riset ini adalah menciptakan alas kaki yang benar-benar bisa diandalkan oleh pelajar dengan keterbatasan ekonomi.

Inisiatif ini lahir dari realitas lapangan yang kerap luput dari perhatian pembuat kebijakan. Banyak anak usia sekolah terpaksa memakai sepatu rusak atau bahkan bertelanjang kaki menuju ruang kelas karena orang tua mereka tidak sanggup membeli perlengkapan baru setiap ajaran tiba. Inovasi teknologi tepat guna semacam ini seharusnya sudah muncul sejak lama.

Sebagai lembaga riset negara, BRIN mengarahkan kapasitas penelitiannya untuk menyentuh persoalan paling mendasar di akar rumput. Pengembangan produk ini membuktikan bahwa laboratorium riset tidak hanya berbicara tentang proyek sains tingkat tinggi, tetapi juga hal-hal sederhana yang berdampak langsung pada kelangsungan pendidikan jutaan anak Indonesia.

Bagi publik, kehadiran sepatu murah dan awet ini bakal mengurangi beban pengeluaran rumah tangga miskin. Orang tua tidak lagi perlu menyisihkan uang belanja dapur sekadar untuk mengganti sepatu anak yang jebol dalam hitungan minggu. Akses terhadap perlengkapan sekolah yang layak kini punya peluang lebih terbuka lebar.

Analisis Redaksi

Makna dari langkah BRIN ini melampaui sekadar produksi barang. Ini adalah pergeseran paradigma tentang bagaimana hasil riset nasional harus diterjemahkan menjadi solusi sosial yang nyata. Selama ini, kita terlalu sering melihat temuan riset berakhir sebagai tumpukan makalah berdebu di perpustakaan kampus tanpa pernah menyentuh tangan rakyat yang paling membutuhkan.

Yang perlu diwaspadai adalah rantai distribusi setelah produk ini siap diproduksi massal. Pengalaman dua dekade meliput kebijakan publik mengajarkan satu hal pahit: program bantuan untuk warga miskin sangat rentan dibajak oleh tengkulak atau birokrasi yang korup. Jika mekanisme penyalurannya tidak dikawal ketat, sepatu murah ini justru akan berakhir dijual bebas di pasar dengan harga yang sudah dimark-up.

Langkah logis selanjutnya menuntut kolaborasi lintas kementerian. BRIN telah menyelesaikan tugas di meja riset, kini Kementerian Pendidikan dan Kementerian Sosial harus mengambil alih tongkat estafet untuk memastikan produk ini sampai ke kaki anak-anak yang tepat sasaran. Tanpa sinergi eksekusi yang solid, niat baik ini hanya akan menjadi catatan kaki manis dalam laporan tahunan lembaga negara.

Meow! Tanya Nesi!
😸